[ Complete]
Dengan banyaknya wajah cinta, AYA tahu, banyak pula cara mengekspresikannya. Namun tak pernah ia sangka, sulit untuk memahami dan menerimanya.
Seperti saat AYA mengetahui fakta, bahwa PAPI yang membesarkannya seorang diri dengan penuh k...
Oops! Această imagine nu respectă Ghidul de Conținut. Pentru a continua publicarea, te rugăm să înlături imaginea sau să încarci o altă imagine.
"PAPA NGGAK BERHAK MENCAMPURI HIDUP AKU!" ancam Dante.
"Papa yang membesarkan kamu, memberi kamu makan, pakaian, bahkan tempat tinggal, jadi Papa berhak mencampuri semua hal yang menyangkut tentang hidup kamu!" balas Papa dengan menekan amarahnya.
Mama yang sejak tadi hanya menonton dengan wajah cemas, menyelah Dante yang hendak melawan ucapan Papa.
"Dante... Mama mohon, jangan melawan Papa kamu lagi! Apa susahnya sih berpenampilan dan bersikap baik untuk membantu menjaga nama baik Papa dan keluarga kita?" ucap Mama memohon.
Mendengar ucapan Mama, Dante menatapnya dengan wajah kecewa. Ia tidak percaya Mama hanya membela Papa tanpa mencari tahu yang sebenarnya ia rasakan. Mata Dante memerah menahan tangis marah.
"Apa kita benar-benar-benar keluarga? apa aku cuma peliharaan yang diberi makan dan tempat tinggal supaya mematuhi semua yang Papa dan Mama katakan?" tanya Dante lirih.
"Aaaahhh, bukan hewan peliharaan, tapi pelayan, karena aku juga diberi pakaian... atau mungkin... tahanan?"
PLAK!!
Ucapan sinis Dante sukses membuat Papa menampar wajahnya. Namun Dante tak berpaling dan masih menatap tajam mata Papa, walaupun pipinya terasa panas terbakar. Ditambah hatinya yang juga terasa membara melihat sikap kedua orang tuanya.
"Kurasa aku sudah mendapatkan jawabannya!" ucap Dante ketus sambil meraih ranselnya dan berjalan pergi meninggalkan Mama yang mulai menangis. Papa yang semula berkacak pinggang, mulai mengurut keningnya yang terasa pening.
Dengan langkah berat dan ransel yang tidak begitu penuh, Dante berjalan mendekati pagar rumah. Ia menatap kalut rumah yang selama ini menjadi tempatnya berlindung, tempat ia tumbuh bersama dengan kerasnya sikap Papa dan lemahnya hati Mama. Dante berbalik mantap meninggalkan semua kenangan yang dia miliki, dan berjalan menghilang di tengah gelapnya malam dengan langit mendung tanpa bintang.
Satu tahun sudah Dante melewati hari-harinya sendirian, tanpa naungan dan kemewahan lainnya yang dilimpahkan oleh Papa dan Mama. Ya, selama ini hidup Dante sangat tercukupi dengan fasilitas yang disediakan oleh Papa yang merupakan seorang pengacara terkenal. Tidak ada kasus yang tidak mampu Papa selesaikan. Bahkan dibalik kompetensinya yang luar biasa, Papa dikenal sebagai pengacara yang rendah hati hingga menjadi panutan di dunia hukum maupun di tengah masyarakat.
Namun, di balik itu semua, ada Dante yang merasa tertekan atas apa yang harus dia alami untuk menjaga semua yang dibangun Papa dan keluarga besarnya. Banyaknya pasang mata dan telinga yang memperhatikan keluarga mereka, menjadi tekanan tersendiri bagi Dante. Tapi lagi-lagi, itu semua hanya alasan klise yang dibangun Dante untuk menutupi keinginannya untuk bebas dari segala tuntutan dan aturan.
Menganggap hidupnya adalah miliknya sendiri, Dante dengan bebas berteman dengan dunia hitam yang menjerumuskannya hingga batas hidup dan mati.
Awan hitam menyelimuti langit malam tanpa bintang, persis saat Dante meninggalkan rumahnya setahun yang lalu. Dengan tubuh layu dan keringat yang membasahi wajahnya, Dante membuka pintu sebuah studio lukis. Tanpa menyalakan lampu, ia mulai mengobrak-abrik isi laci yang terlihat olehnya di dalam kegelapan.
Semuanya terasa berputar, Dante seakan kehabisan napas. Rasa sakit menjalar di sekujur tubuhnya, hingga ia menemukan 1 paket putaw dalam lipatan kertas kecil dan jarum suntik yang ia sembunyikan di dalam laci. Jemarinya mulai kaku dan melemah, ia terus bergerak berusaha meraih dan menyuntikan putaw tersebut.
Sakaw yang dirasakannya mulai membuat Dante limbung dan mendorong tumpukan standing frame didekatnya. Dante tak peduli dengan kekacauan yang dibuatnya, dengan tangan gemetar ia mencoba meraih jarum suntik yang ikut terhempas ke pojok ruangan saat dirinya terjatuh.
"Aaarrrghhh...!" Suara erangan terus terdengar bersahutan dengan petir yang mulai menggelegar memberikan tanda bahwa hujan akan turun.
Dante memulai ritualnya, meracik putaw, memasukannya ke dalam tabung jarum suntik dan mengikat lengan atasnya dengan seutas tali untuk mencari urat, tempat ia menusukan jarum suntik. Setelah bersusah payah, Dante berhasil menancapkan jarum suntik di tangannya, memompa putaw yang telah bercampur dengan air ke dalam pembuluh darahnya. Ia tersenyum lega dengan mata mengerjap. Detak jantungnya yang semula memburu mulai melemah seiring dengan napasnya yang melambat. Mata Dante mulai terpejam dengan jarum suntik yang masih menancap ditangannya. Sesekali jemarinya menggaruk-garuk hidungnya.
Hujan deras pun mulai turun membasahi bumi. Bayo yang baru tiba dengan sedikit berlari menghindari hujan, terkejut melihat pintu studio lukisnya terbuka. Ia bergerak perlahan sambil mencoba mengamati situasi. Tangannya meraba dinding, mencari saklar lampu untuk memperluas jarak pandangnya. Hal yang lebih mengejutkan berada tepat di hadapannya. Bayo berlari menghampiri Dante yang terkulai lemas di pojok ruangan, dengan busa yang keluar dari mulutnya.
Bayo menampar wajah Dante untuk menyadarkannya. Perlahan dan dengan hati-hati, ia mencabut jarum suntik dari lengan Dante.
"Dante! Come on Dante! Bangun!"
Dante tidak bergeming. Panik, Bayo menelepon rumah sakit agar segera mengirim ambulance dan menjemput Dante.
Setelah menjelaskan situasinya, sesuai arahan pihak rumah sakit, Bayo mulai memeriksa napas Dante. Meskipun lemah, Bayo masih bisa merasakan hembusan udara dari hidung Dante. Ia mencoba membaringkan Dante di sisi tubuhnya untuk memastikan jalan napas tetap terbuka dengan memiringkan kepala ke belakang dan mengangkat dagu.
Dengan tangan gemetar, Bayo berusaha berpikir apalagi yang harus ia lakukan, lalu ia mulai mencari sesuatu dari saku Dante, handphone. Ia mencari kata kunci Papa di kontak handphone nya dan mulai menekan tombol berwarna hijau.
Sudah beberapa menit berlalu, Bayo kembali menelpon rumah sakit untuk menanyakan posisi ambulance, bertepatan dengan suara sirine yang mulai mendekat. Bayo membopong Dante dan bergerak ke luar studio dengan tergesa-gesa.
Tiba di rumah sakit, Dante langsung mendapat penanganan ekstra. Papa dan Mama menghampiri Bayo yang basah kuyup karena hujan yang tak kunjung berhenti saat membantu petugas kesehatan membawa masuk Dante ke dalam ambulance.
"Sebaiknya kamu pulang!" pinta Papa.
"Tapi Om...," Bayo hendak mengatakan bahwa dirinya akan tetap berada di samping Dante. Namun, tatapan Papa memaksanya untuk pergi, dan dari tatapan itu pula tersirat bahwa Bayo harus menyimpan peristiwa ini hingga liang kuburnya.
Tanpa mendengar jawaban Bayo, Papa berlalu dan menghampiri Mama di sebuah ruangan yang dibatasi bilik kaca. Tampak Dante terbaring dengan peralatan medis menempel ditubuhnya.
"Pastikan tidak ada yang mengetahui hal ini."
Mendengar hal itu, Mama memandang Papa dengan air mata yang menggenang.
"Papa akan temui Dokter untuk menanyakan perawatan Dante lebih lanjut, pastikan kamu tetap bersikap tenang!" jelas Papa, dan langsung meninggalkan Mama yang mulai meneteskan air mata, melihat anak semata wayangnya terbaring tak berdaya.
***
Heihooo... Black Pearl comeback dengan karya terbaru nih...
Masih menghighlight Kehidupan di awal tahun 2000-an... Kali ini kita mengangkat kisah tentang seorang Junkie dengan kekasihnya yang berkepribadian cerah dan kuat, namun memiliki rahasia kelam dibalik kelahirannya.
Psssttt... cerita ini terinspirasi dari kisah nyata loh...
Penasaran kelanjutannya? Unconditional Love akan update setiap Jumat Pukul 17.00 WIB.