PROLOG

28 0 0
                                        

Lima tahun yang lalu
30 Mei 2016

Suara dentuman musik keras menggema di seluruh ruangan, aroma minuman keras juga menguar namun tidak mengusik penghuninya.

Sedangkan seorang gadis berumur 21 tahun tengah menyesap wine yang dipesankan oleh temannya, ia baru pertama kali merasakan minuman tersebut bahkan menginjakkan kaki ditempat seperti ini hanya sekali.

Ia hanya menyesap nya sekali kemudian pamit kepada temannya izin ke toilet sebentar.

Meskipun baru pertama kali meminum wine ia tidak mabuk begitu saja karena cuma satu tegukan tidak akan membuatnya mabuk.

Sesampai di toilet Ia menghela nafas, sangat tidak betah berlama lama disini "pengen pulang" gumamnya kemudian membasuh wajah nya yang tidak tertutupi make up namun tampak cantik natural dengan bulu mata lentik, bibir pink tipis, serta ramput hitam sebahu miliknya terlihat halus dan berkilau.

Saat keluar toilet ia dikejutkan dengan sesosok pria yang menyandar didinding depan toiletnya sambil bergumam, 'mungkin mabuk' pikir gadis itu kemudian berlalu meninggalkan toilet sebelum pria itu memegang pergelangan tangannya kemudian menariknya hingga ke dekapan lelaki tersebut.

Gadis itu memberontak ingin dilepaskan namun usahanya sia-sia karena dekapan nya terlalu kuat, ia mendongak dan mendapat tatapan dalam dari lelaki tersebut, gadis itu sempat terpaku dengan ketampanan didepannya yang sedang menatapnya lama, mata biru itu, bibir tebal itu, dan rambut berantakan itu terlihat mempesona.

"Lepaskan saya!" Setelah sadar gadis itu mendorong keras-keras namun tidak membuahkan hasil, ia ketakutan.

Ia terlonjak saat dirinya digendong ala karung dan ia dibawa ke sebuah kamar yang disediakan oleh club, gadis itu takut setengah mati ia memukul punggung tegap lelaki itu berkali kali namun tidak ada perubahan. Ia menangis sesegukan karena takut akan hal yang dipikirkan saat ini terjadi padanya.

Setelah memasuki ruangan, gadis itu dilemparkan begitu saja diatas ranjang kemudian ditindih hingga membuatnya tak bisa bergerak, ia terus saja menangis meminta dilepaskan, namun lelaki diatasnya tidak mungkin melepaskannya begitu saja dilihat dari mana pun gadis itu tampak menggoda dengan balutan dress ketat, rok diatas lutut juga sesuatu yang kembar menonjol besar di dadanya.

"To..long le..lepaskan saya, sa..ya mohon" penampilan gadis itu sudah tidak karuan, namun wajah tanpa make up itu menarik untuk dipandang. Senyuman manis terukir dibibir lelaki itu sebelum mendekat kemudian menempelkannya pada bibir tipis gadis dibawahnya. Melumatnya pelan.

Gadis itu memberontak sekuat tenaga, tidak menimbulkan gerakan sedikit pun dari lelaki diatasnya yang masih bermain main dengan bibirnya, tangisnya semakin kencang saat tangan lelaki itu meremas kencang dadanya kemudian memijitnya pelan.

"Aah hiks... Saya mo..hon hiks, hmmh lepaskan saya hiks" ia masih memohon saat ciuman itu terlepas, dengan wajah memerah lelaki itu melepaskan kancing kemejanya setelah terlepas semua pria itu membuang asal kemejanya, ia lepas juga celana bahannya kemudian mengeluarkan pedang yang siap menusuk mahkotanya, gadis itu tambah meraung minta dilepaskan matanya tidak mengeluarkan air mata lagi, ia lelah dan takut.

"Ugh" gadis itu menggigit bibir bawahnya saat lelaki itu dengan berani memasukkan miliknya kedalam liang miliknya.

Setelah puas dan membuang cairan mani pada rahim gadis itu, ia menggunakan celananya kembali sambil terhuyung, ia belum sadar sepenuhnya kemudian merogoh saku celananya mengambil kertas cek yang sudah tertera nominalnya, kemudian menaruhnya di samping gadis itu yang saat ini kacau, bajunya masih utuh saat melakukannya lelaki itu hanya menyingkap roknya keatas dan melakukan nya.

Setelahnya lelaki itu berjalan keluar ruangan dengan langkah terseok-seok, ia mabuk berat dan masih belum sadar sepenuhnya siapa yang ia tiduri tadi dengan cara. Kasar.

Sedangkan didalam ruangan gadis itu menatap kosong ke langit langit kamar "hancur" gumaman lirihnya terdengar pedih, ia melirik secarik cek dengan angka nol banyak kemudian rahangnya mengeras dengan tangan terkepal erat, ia membawa kertas itu kedalam tasnya kemudian memperbaiki penampilannya sesekali meringis pelan karena diantara pahanya terasa perih.

Gadis itu mencari lelaki yang berani memperkosa nya, lelaki bejat, brengsek, bangsat, lelaki bajingan. Berbagai umpatan sudah gadis itu sematkan untuk lelaki tadi.

Dengan langkah cepat ia menghampiri lelaki yang tengah berjalan sempoyongan, ia yakin dia adalah si brengsek.

Ia melemparkan tasnya tepat mengenai lelaki itu, mengerang kesal lelaki itu menoleh ke belakang tepat sepatu heals milik gadis itu terlempar mengenai keningnya dan membuat luka cukup dalam.

Lelaki itu terjatuh sambil menyentuh keningnya yang mengeluarkan cairan kental berwarna merah, gadis itu dengan cekatan mengambil kembali tasnya dan melupakan sepatu hak nya.

"BRENGSEK, SIALAN, PRIA BEJAT TIDAK TAU MALU!!" Umpat gadis itu keras sebelum pergi meninggalkan lelaki itu yang masih duduk di lantai sambil mengumpat kecil.

Ia kemudian berdiri mengambil sepatu hak itu dan membawanya keluar dari club.

"Mansion" singkat lelaki itu pada sang sopir yang menunggunya diparkiran, tak lama kemudian mobil keluar dari lingkungan club. Lelaki itu memandang sepatu yang ia pegang saat ini, ingatannya kabur, ia hanya mengingat kalimat 'tolong lepaskan saya'.

"Shit!!" Ia mengumpat pelan, karena sadar yang ia tiduri bukan jalang club. Kepalanya mendadak pusing memikirkan apa yang ia lakukan.

'sorry'

Our FutureWhere stories live. Discover now