satu

4 1 0
                                        

HARAP JADI PEMABACA YANG BIJAK

_________________

13:45
Suara yang lumayan berisik membuat  yura terjaga dari tidurnya,ia memdengar suara benda yang dibanting sehingga menimbulkan suara seperti barang pecah
Yura beranjak dari kasurnya menuju sumber suara ribut itu dan dia yakin itu pasti ulah kedua orang tuanya yang hampir setiap hari bertengkar,entahlah apa yang selalu mereka ributkan
Rasanya rumah ini bukan tempat yang benar-benar bisa ia sebut sebagai rumah, orangtuanya bahkan hampir tidak punya waktu untuknya kalaupun mereka berada dirumah pasti yang dilakukan hanyalah bertengkar.

Yura menyaksikan pertengkaran kedua orangtuanya
Ini bukanlah pertama kalinya ia menikmati pemandangan menyakitkan itu

"Mau sampe kapan sih kalian kaya gini?"yura Sudah muak dengan kelakuan orang tuanya

Kedua orangtuanya refleks melihat ke atas,tempat dimana yura sekarang berdiri tegak dengan kedua tangan dilipat di dada
Mukanya datar menatap kedua orangtuanya

"NGAPAIN KAMU BANGUN YURA!?"
bentak papanya

Yura tersenyum tipis Seraya berjalan menuju lantai bawah, kali ini ia ingin orangtuanya tahu betapa tidak sukanya ia melihat pertengkaran antara mereka berdua

Beberapa keping beling bececran dilantai,yura tidak ingin kakinya terluka dengan kebodohan orangtuanya itu
Ia berjalan hati-hati menghindari pecahan beling

"PAPA UDAH BILANG JANGAN IKUT CAMPUR URUSAN KAMI,YURA!"

Yura mengibaskan tangannya dengan kekehan kecil

"Kenapa?"tanya yura,datar.

"Tugas kamu itu cuma belajar,ngga perlu tahu urusan kami"

"Terus tugas kalian sebagai orangtua cuma nyari duit?"

Orangtuanya yura terdiam

"Selama ini yura udah berusaha jadi yang terbaik untuk kalian tapi Kalian?"

Yura menatap orangtuanya,berani

"Kalian ngga pernah punya waktu untuk yura!"

"ITU KARENA KAMI SIBUK YURA , KAMU NGERTIIN DONG"

"yura ngga pernah minta kalian selalu ada tapi disaat penting pun kalian ngga pernah bisa nyempetin waktu buat yura,yura selalu berusaha dapet nilai bagus buat nyenengin kalian berdua tapi apa pernah respon kalian lebih dari kata 'iya'?!"

"KAMU UDAH GEDE YURA JANGAN KAYA ANAK KECIL"

yura tersenyum tipis,ia menghapus kasar air mata yang mengalir bebas di pipi mulusnya

"Bagus,mulai dari sekarang berhenti ngatur yura karena yura udah gede"

setelah mengatakan itu yura berlari keluar

"YURA MAU KEMANA KAMU!"

Yura menyambar kunci mobil yang berada diatas meja kemudian berlari keluar rumah
orangtuanya ikutan berlari mengejar
Tapi sia-sia karena yura sudah tancap gas duluan,membawa mobilnya dengan kecepatan diatasi rata-rata
Ia benar-benar ingin menghilang dari bumi
Ia tidak ingin melihat kedua orangtuanya lagi,ia benci dirinya sendiri yang terlalu lemah
Ia ingin mati dan melupakan semua rasa sakit yang ia rasakan saat ini
Air matanya terus mengalir tanpa ia minta.

Yura terkejut saat ada dua orang di depannya  yang ingin menyebrang

Yura ingin mati tapi kedua orang itu bisa saja yang mati jika ia tidak menahan mobilnya untuk tetap melaju, bersamaan dengan mobilnya yang berhenti
Ada sebuah motor sport berwarana merah menghampirinya

"Yura.."ucap cowok yang mengendarai motor sport itu seraya menuruni motornya

"ra buka ra.."

Yura membuka pintu mobilnya dan langsung menghambur kedalam pelukan cowok itu dengan air mata yang masih saja mengalir deras

"ga papa nangis aja"cowok itu mengelus lembut surai panjang milik yura

Yura benar-benar menangis kencang didalam pelukannya

Dua menit berlalu tangis yura mulai mereda pelukannya juga mulai melonggar

"Masuk aja yok dingin diluar"

Yura menangguk kemudian masuk
Ke dalam mobil bagian tengah

"K-kok lo bisa tau gue disini?"tanya yura disela isak tangisnya

Cowok itu menghapus jejak air mata di pipi yura kemudian menarik kembali yura kedalam pelukannya

"Bokap lo yg ngasih tau"

Lihatlah bukankah seharusnya orangtuanya yang menyusulnya kesini?kenapa harus sahabatnya?

"Udah ngga usah dipikirin, sekarang udah ada gue kan?"

Diam.

"Gue itu rumah lo ra jadi lo bebas kapanpun mau datang ke gue kalo lo butuh bahkan ngga butuhpun lo tetep boleh ngadu ke gue"

Diam.

"disaat dunia lo lagi ngga baik kapanpun gue siap jadi pendengar buat lo"

"Makasih ya kean lo udah baik banget sama gue"

Cowok yang dipanggil kean itu tersenyum tulus

"Makasih udah mau jadi rumah buat gue dan lo bukan hanya rumah tapi lo juga obat bagi gue,plis kean tetep kaya gini ya?"

Keano mengangguk

___________________

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Sep 14, 2021 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

DependentCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang