2. Koridor

64 8 0
                                        

LANGKAH kaki kecil Dannia memasuki kantin SMA MERPATI yang ramai. Terlihat banyak murid yang sedang berkerumun bersama circle-nya masing-masing. Ada yang tertawa, menggebrak meja, ada juga yang saling diam didalam satu meja.

"Ibu, ini roti titipan Dannia. Tapi cuma dua puluh," ujar Dannia menyerahkan kotak roti itu kepada Sinah––Ibu penjaga kantin.

Tangan Bu Sinah menerima kotak roti itu dan menaruhnya di tempat biasa. "Tumben sedikit? Pasti nanti pada rebutan."

Roti buatan Dinna memang enak, rata-rata murid SMA MERPATI menyukai roti buatannya. Tapi ada juga beberapa murid dari kalangan tinggi yang enggan untuk merasakan, jangankan merasakan––menyentuh saja mereka tidak mau. Murahan dan tidak higienis kata mereka.

"Bahan-bahannya sisa itu, Bu. Dannia nggak sempet beli karena kemarin pulang lebih malam terus."

Bu Sinah memang tau tentang keadaan keluarga Dannia dan ekonominya. Merasa kasihan saat melihat anak gadis harus berjuang untuk menghidupi keluarganya sendirian.

"Kalau nggak kuat jangan dipaksa untuk kerja terus ya, Teh."

Dannia tersenyum mendengar penuturan Bu Sinah, "Kalau berhenti kerja aku sama Mama mau makan apa, Bu. Dannia nggak papa, udah biasa."

"Kamu baik Teh. Ibu doakan kamu jadi anak yang sukses, biar nggak ada lagi orang yang ngeredain kamu."

"Aamiin, makasih Bu. Kalau gitu Dannia ke kelas dulu, Permisi."

"Mangga, Teh."

Dannia melangkahkan kakinya menuju kelas XI IPA 1. Dimana letaknya harus melewati koridor kelas dua belas agar bisa sampai di kelasnya. Koridor kelas dua belas––koridor horor menurut anak-anak kalangan bawah seperti Dannia. Disebut horor karena dikoridor itu terdapat anak-anak dari kalangan atas yang selalu membully ataupun meminta uang saku anak-anak kalangan bawah yang berani lewat kawasan mereka. Sebenarnya bisa saja tidak lewat situ, hanya saja jalan menuju kelasnya akan lebih jauh jika lewat koridor kelas sepuluh. Dannia malas jika harus berjalan lebih jauh lagi, dia sudah cukup lelah dengan perjalanannya dari rumah menuju sekolah.

Banyak yang takut jika harus berhadapan dengan mereka. Tapi tidak dengan Dannia. Bukan––bukannya dia tidak takut, hanya saja dia sudah terbiasa dengan tindakan mereka. Dengan langkah santai Dannia berjalan semakin mendekat ke arah Abimana––Abimana Rajendra, biasa dipanggil Bima. Laki-laki sombong itu berdiri menyenderkan tubuhnya didinding sekolah.

Dia dan teman-temannya sudah biasa seperti ini, mengambil uang dan membully murid kalangan bawah yang berani lewat kawasannya tanpa membayar. Brandal, suka membuat ulah yang membuat guru kehabisan rasa sabar. Padahal mereka orang kaya, tapi kenapa masih minta-minta. Kaya beneran atau kaya monyet?

"Permisi, Kak?!" ujar Dannia pelan, kali ini dia takut. Pasalnya dia tidak mempunyai uang sama sekali, sudah pasti bahwa dirinya akan dibully. Sudahlah, Dannia pasrah.

Suara tepuk tangan begitu terdengar jelas. "WAH WAH LIHAT SIAPA YANG DATANG––LAGI?" teriak Bima sambil menatap Dannia remeh. Laki-laki berbadan atletis dengan kulit putih yang membuatnya terlihat begitu tampan itu berdiri di depan Dannia

"Lo nggak bosen apa tiap hari kita palakin?" tanya laki-laki berbadan tegap dengan kulit yang sedikit gelap. Dia Aziz––Aziz Yudhistira. Sikapnya sama seperti Bima, sombong. Hanya saja dia suka bercanda diwaktu yang tidak tepat.

Dannia hanya diam menunduk, jujur saja dia bingung harus menjawab apa dan harus bagaimana.

"Mana setoran?!" pinta Bima menyodorkan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya malah bertengger di pinggangnya. Sungguh orang kaya yang tidak tau sopan santun.

SEMBUHTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang