1. Bunga

59 31 181
                                    

Happy reading
____________________


"Apakah sekarang harimu jauh lebih baik, Nona?" tanyaku melihat gadis yang sibuk dengan bunga yang sedang disusunnya.

Gadis itu menoleh ke arahku, lalu tersenyum tulus kepadaku.

"Berkatmu, hari-hariku menjadi seperti warna bunga-bunga yang kujual," balasnya lalu tersenyum.

"Syukurlah, jika kamu merasa seperti itu." Aku merasa lega mendengar apa yang dikatakan oleh gadis itu.

"Aku tak bisa membayangkan, apa yang akan terjadi padaku jika tak ada dirimu saat itu."

Aku tersenyum. Baik aku dan gadis dihadapanku, masih sama-sama mengingat jelas kejadian yang mungkin tak akan pernah bisa terlupakan.

Sore menjelang malam, Aku berjalan melewati trotoar yang tak terlalu banyak dilintasi oleh orang-orang. Aku menghentikan langkahku, menunggu kendaraan yang berlalu lalang berhenti.

Aku menatap langit yang warnanya perlahan mulai berubah. Namun, tatapanku beralih kepada gadis yang berdiri di pembatas rooftop.

"Kenapa gedung tua itu selalu menjadi tempat langganan untuk mengakhiri hidup?" tanyaku.

Saat lampu lalu lintas berubah menjadi warna merah, aku lantas berlari ke arah gedung tua. Puluhan anak tangga kulewati dengan cepat. Berharap gadis yang aku lihat sebelumnya masih berada diatas pembatas rooftop.

Sesampainya aku di lantai paling atas gedung ini, aku terdiam sejenak. Aku mencoba mengatur nafasku yang memburu, perlahan nafasku kembali berderu dengan normal.

Aku mulai memberanikan diri mendekati gadis yang berdiri di pembatas rooftop. Kulihat gadis dengan rambut panjang sebahu, mengenakan setelan serba hitam berdiri membelakangiku.

"Kenapa kamu tidak langsung melompat dari atas gedung ini?" tanyaku membuka suara.

"Apakah nyalimu menciut ketika melihat ketinggian dari gedung ini?" tanyaku sekali lagi ketika tak mendapat jawaban darinya.

Aku masih setia menatap gadis itu berdiri di pembatas lantai gedung tertinggi ini. sampai akhirnya gadis itu menoleh ke arahku.

"Apakah kamu ingin membantuku untuk mengakhiri hidupku?" tantang gadis itu.

"Aku bersedia jika itu sebuah perintah," ucapku menerima tantangan gadis yang berada di hadapannya.

"Jika begitu, cepat doronglah aku sekarang," suruh gadis itu.

Gadis itu kembali membelakangiku. Dari perkataan dan tindakannya sepertinya gadis ini benar-benar akan mengakhiri hidupnya malam ini.

Aku memberanikan diri untuk melangkah lebih dekat ke gadis itu. Kemudian, aku melakukan apa yang dikatakan oleh pikiranku.

Braghh!

Aku menarik tangan gadis itu agar ia jatuh di dak rooftop. Namun, tak hanya gadis itu saja yang terjatuh sehingga terbentur dak yang amat kotor ini. Aku juga menjadi korbannya.

Aku jatuh lebih awal. Tak lama kemudian, barulah gadis itu jatuh dan menimpa tubuhku. Aku tak bisa melihat wajah gadis itu dengan jelas, karena rambutnya menghalangi wajahnya.

Bunga [Selesai]✅Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang