"Aku yang dulu"
***
"Bangsat!!!!!!! "
Teriakan lelaki itu membuat ku takut.
"Lo tau gua suka sama lo dari dulu!!
Tapi lo!!! lo harusnya hargain perasaan gue, kenapa lo selalu nolak gue!! "
Tubuhku menegang, rasanya ingin pergi, tapi lelaki itu sangat keras mencengkram tangan ku.
"Kenapa lo diem terus!! Kenapa!! "
"Maafin aku kak Raka".
Aku hanya mampu mengucapkan kata itu, kepalaku rasanya semakin menunduk dan tubuhku semakin bergetar menahan tangis.
" Mau sampe kapan lo cuma ngomong maaf hah!! Kata maaf lo nggak berguna!!! Gue udah muak!!! Dan Liat lo nangis gini, gue jadi pengen main-main sama lo sayang, lo tau kan sekarang kita cuma berdua di gudang ini "
Lelaki itu tersenyum dengan seringai mengerikan diwajahnya. Tiba-tiba dia menyeret paksa agar aku mengikutinya. Hingga aku tak sadar sudah terpojok di ruangan ini.
Dia mengunci gudang, lalu membawa sebuah tali besar ke arah ku.
Rasanya sangat cepat dia malakuakn semua itu.
"Kak kamu mau ngapain, jangan macem-macem, aku minta maaf".
" Udah telat sayang, sekarang mending lo nikmatin aja permainan gue".
"Tolong!!! siapapun tolong aku!!! Tolong!!! "
"Diam sayang"
Santainya dengan mengelus pipiku.
Aku beringsut menghindar dari dia.
Plakkkkkk...
Dia menampar ku dengan keras.
Buggggg. ..
Dia dengan entengnya membenturkan kepalaku dengan tembok. Kesadaranku sudah mulai hilang. Rasa pening sangat menyiksa. Dengan kesempatan ini, dia mengikat tangan ku.
Aku pasrah Tuhan, tapi jika aku boleh meminta, selamatkan aku.
Hanya itu yang aku pikirkan.
Tak lama aku berucap dan Sebelum hilang penuh kesadaranku aku sayup-sayup mendengar suara baku hantam, aku tidak bisa melihat itu dengan jelas.
Tiba-tiba ada tangan yang memegang pipiku .
Dia menepuknya, dan berbisik padaku.
"Aku tidak tau siapa namamu, tapi mungkin kamu masih bisa mendengar ku sekarang, ingat baik-baik, aku akan menolong mu sekarang, tapi jika kau bangun nanti kau tak melihatku, mungkin aku sudah pergi karna suatu urusan, tapi percayalah suatu saat kita akan bertemu lagi. Ingat namaku selalu. Na Jeamin.
***
"Ara bangun!!!! Ini abang!!!
Rio terus mengguncangkan adiknya agar terbangun. Dia panik adiknya Tiba-tiba berteriak dalam tidurnya.
" Abang!!! "
Rio membawa adiknya dalam dekapan nya.
"Mimpi buruk lagi?, gpp disini udah ada abang"
Rio berusaha menenangkan adiknya.
Tak lama pintu kamar tiba-tiba terbuka.
Rio melihat bunda dan ayahnya.
Tapi dia mencoba memberi isyarat agar mereka tidak mendekat.
"Udah tidur lagi ya".
Rio menepuk-nepuk lembut punggung adiknya.
Sudah dirasa nafas adiknya teratur dan tertidur kembali.
Ia baringkan adik kesayangannya.
Lalu berjalan menghampiri bunda dan ayahnya.
" Bunda, ayah, Rio kadang nggk tega sama Rara, Rio ngerasa gagal jagain adik Rio "
"Udah Rio ini semua bukan cuma salah kamu, ini salah ayah sama bunda juga, kita lalai menjaga adikmu"
Ayah merangkul pundak Rio untuk menangkan.
"Di depan kita Rara selalu ceria, tapi lihat kerutan di keningnya tak pernah hilang ketika dia tidur, mimpi buruk nya selalu datang"
YOU ARE READING
RARA dan NANA
FanfictionCerita ini hanyalah fiksi. Dan benar-benar karyaku. Bantu vote dan komen agar aku semangat melanjutkan part berikutnya. ************** "Aku tak peduli siapa dirimu, dari awal aku sudah menyukaimu" ...
