•|Warn:
-cerita ini hanya fiksi penggemar belaka. Mohon maaf jika ada kesamaan nama, setting, alur yang tidak disengaja, karena semua murni dari ide penulis sendiri-
°
•
•
Selamat datang di The Doorways, ada banyak jalan keluar yang telah ditentukan, jika Anda menyerah dan berhenti di tengah langkah maka ujungnya tak akan pernah ada.
°°°°°
Bisa diketahui bahwa semua orang yang berkumpul dalam satu ruangan ini memiliki rasa yang sama. Detak jantung mereka sangat seragam dengan ketukan lebih cepat dari biasanya.
"Esa! Eric! Chaesa! kalian ngumpet di mana lagi?! Serry sama Haykal udah ketemu kalian mau keluar sendiri apa Mama seret keluar hmm?"
Yang dipanggil namanya hanya bisa menatap mata satu sama lain. Mereka bersembunyi di tempat yang sama. Pengap, sempit, dan kotor seakan bukan sebuah masalah besar saat ini, karena masalah yang lebih besar menunggu di luar sana.
Dunia ini memang kejam, ingat kata Eric.
Seakan memiliki ikatan batin yang tinggi, cara komunikasi mereka saat ini menggunakan mimik wajah serta telepati. Mungkin karena dulu berada di rahim yang sama jadi memiliki kemampuan berkomunikasi yang sama pula.
Si kecil menatap kedua kakaknya dengan harap. Ia benar-benar takut jika orang tuanya sudah menggunakan nada tinggi. Chaesa yang paham hanya bisa menggenggam tangan adiknya, dan Mahesa, si tertua berusaha memutar otak agar menemukan jalan keluar.
Tapi nihil, hanya keluar dari persembunyian lah jawabannya.
Dengan bahasa tubuh dia seakan mengatakan, Kita keluar nanti, gue yang ngawasin kalian.
Kedua adik itu saling pandang dan akhirnya mengangguk setuju.
Mereka keluar dari celah di belakang kepala tempat tidur milik Chaesa dengan hati-hati agar tak menimbulkan bunyi mencurigakan lalu seakan membuka lemari baju yang ada di sana. Harap-harap tempat sakral persembunyian mereka tak akan ada yang mengetahui dan mengalihkan seolah bersembunyi di dalam lemari besar itu.
•••••
"Hyung lihat Lino hyung tidak kemana perginya?"
"Kalau tidak salah ingat ada di dapur bersama adonan brownies milik Felix," jawab Hyunjin yang masih fokus dengan game di ponselnya.
Jika tak salah dengar yang bertanya itu Aiyen.
Tapi tidak ada satu pun orang di dapur. Ovennya memang menyala dan di dalam terdapat sebuah tempat untuk menaruh adonan, mungkin itu memang brownies yang hyungnya buat tadi.
"Yen mencari apa?" tanya Seungmin yang baru saja memasuki area dapur.
"Apa hyung melihat Lino hyung?"
"Cobalah ke kamarnya, sepertinya dia bersiap untuk menonton dengan laptop milik Jisung," katanya lalu.
Dengan malas Aiyen pergi ke kamar yang dimaksud Seungmin. Ia perlahan membuka pintu utama menuju kamar hyung yang ia cari.
Biasanya akan ada yang marah jika masuk kamar tanpa mengetuk pintu, tapi ini tidak. Semua terlihat baik-baik saja.
Dengan perlahan ia membuka tirai tempat tidur milik orang yang ia cari. Terdapat laptop yang menyala menyorot sebuah boneka yang bentuknya sudah memipih mungkin karena dijadikan bantalan penghalang tembok.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Doorways
Fiksi PenggemarPortal hampa membawa Chaesa bertemu dengan sosok yang selama ini menghiasi ponselnya. Harinya penuh dengan hal baru dan bisakah dia kembali atau malah menetap dan menjadi bagian dirinya di tempat lain? Semua akan berjalan setelah ia memutuskan.
