Hidup begini saja.

60 12 0
                                        

"Mbak Aluna?" Panggil seorang pelayan restoran cepat saji dengan plastik berisi makanan yang gue pesan sekitar 30 menit yang lalu. Gue baru saja pulang dari kantor tempat gue magang ketika mama meminta gue untuk beli makanan sebelum pulang. Gue bangkit dari tempat duduk dan berjalan kearah mbak-mbak dengan makeup yang masih rapih dalam balutan seragam merah kuning itu, mengambil plastik milik gue dan mengucapkan terima kasih. 

Gue kembali diam sambil berjalan pelan keluar restoran untuk melanjutkan perjalanan gue pulang ke rumah. Udara sore hari itu enggak panas, enggak juga dingin. Sama seperti hari-hari membosankan lainnya. Dengan kunci motor yang  udah kembali lagi menancap, gue memakai helm gratis yang gue dapat waktu beli motor beberapa tahun yang lalu. Sebuah helm buluk yang kalau ada polisi tidur, kacanya yang buram dan dipenuhi goresan pasti ikut tersentak turun. Bergegas mengarahkan motor ke jalan raya, gue menghela napas melihat jalanan sore yang lumayan macet. Maklum, memang jam pulang orang-orang dari aktifitas hariannya masing-masing. Di tengah-tengah kemacetan Margonda yang sudah jadi makanan sehari-hari gue, pikiran gue mulai melanglang buana. 

Ah... Kali ini gue kepikiran Christian. Perkenalkan, Christian itu mantan gue. Kita baru aja putus beberapa bulan yang lalu. Sama seperti kebanyakan pasangan yang baru putus, gue selalu memikirkan Christian setiap hari. Entah kenapa, sesibuk apapun gue, otak gue ini pasti punya cara untuk bikin Christian tiba-tiba muncul. Lagi ngapain ya dia, udah makan belum ya... Gue juga sering tiba-tiba khawatir tiap langit mendung. Karena Tian selalu kebiasaan nggak pake jas hujan dan di kost-kostannya gaada yang punya payung. Anak itu bisa gak makan sampai malam kalau hujan dari siang dan selalu tetap nggak mau gofood. Katanya, manja banget kalau pesan lewat aplikasi online. Padahal gue tau Tian menghemat uang. Kalau kehujanan di jalan, dia gak neduh dan akan pulang ke kostan dengan baju yang basah kuyup. Lalu tiap gue marah karena Tian hujan-hujanan, dia cuma akan tertawa sambil bilang, 

"Hehe.. maaf yaa, aku nggak bakal sakit kok."

Membayangkan senyumnya Tian yang lembut, matanya yang melengkung bagai bulan sabit, memamerkan gigi-giginya yang rapi, membuat hati gue menghangat. Gue tau, gue juga pasti sedang tersenyum ketika teringat senyumnya. Jangan tanya berapa kali gue nangis di atas motor gara-gara teringat Tian. Sudah terjadi begitu sering sampai gak lagi bisa gue hitung.

Aku kangen kamu Tian...

Gue ingin mentertawakan diri gue sendiri. Kenapa sih, na. Elo yang mutusin dia, anjir. Udahlah. Biarin Tian pergi. Gue menggelengkan kepala gue cepat.

Mungkin lo bingung, kenapa gue mutusin Tian. Untuk hal ini sebenarnya ada banyak alasan. Tapi alasan yang paling masuk akal sekaligus tidak masuk akal adalah karena gue mencintai Christian. Iya, gue sudah sampai di tahap gue berani mengatakan kalau gue mencintai cowok itu. Hubungan gue dengan Tian, adalah sebuah kebahagiaan yang gak akan pernah gue dapatkan di tempat lain. Gue enggak akan bisa menemukan laki-laki seperti Christian. Lalu kenapa kami putus? Hubungan kami tidak sehat dan hari saat kami putus, gue benar-benar merasa kami harus berhenti. Supaya kami berdua enggak lagi sakit dan bahagia.

Gue mengerem mendadak karena teralu asik dengan lamunan gue di atas motor tentang Tian. Hampir saja gue menabrak mobil juke di depan gue. Kaca helm gue langsung ikut turun. Gue berdecak dan kembali menaikkan kacanya dengan kasar. Sumpah deh, lo semua jangan kebiasaan melamun kayak gue di atas motor. Bahaya anjir. 

Tapi bergitulah rutinitas gue sehari-hari. Bangun pagi, ke kampus (sekarang sedang liburan semester, makannya gue ada waktu untuk ambil program magang), pulang sore terjebak macet, nugas, tidur untuk kembali melakukan itu semua lagi keesokan harinya. Hidup gue begini-begini saja. Enggak ada yang terlalu menyenangkan kecuali waktu gue menghabiskan duit beli kopi atau jajan pastry di BreadTalk. Beda dengan dulu, masih ada Christian yang bisa gue gangguin tiap sebelum tidur.

Gue akan menceritakan apapun pada cowok itu tentang hari-hari gue. Apapun yang bikin gue sedih dan kesal juga hal-hal yang bikin gue ketawa. Atau kami bakal nonton film bareng lewat rave dan ketiduran bareng. Telponan hingga tengah malam dan enggak satupun dari kami mau menutupnya sehingga dibiarkan sampai pagi. Sampai gue bisa mendengar setiap tarikan napas dan dengkuran halusnya di pagi hari. Terkadang gue juga singgah ke kost-nya untuk melepas kangen. Iya, lo boleh mikir yang aneh-aneh kok. Karena emang kita aneh-aneh di kost-nya Tian. Ye.. dasar cabul lo na. Enggak deng, gue sama Tian biasanya makan nasi goreng langganan Tian dan pasti berakhir nontonin kompilasi Vines di youtube yang udah kami hapal di luar kepala saking seringnya diulang-ulang. Yaaah, paling banter kami peluk-pelukan. Kalau kata orang keren mah, Cuddle. Lots and lots of cuddles!

Itu dulu, sebelum hubungan gue dan Tian jadi toxic dan kami bertengkar tiap hari bikin mata gue bengkak karena kebanyakan nangis dan harus menjalani hari dengan badan enggak fit. Hidup gue enggak memang enggak 'begitu' lagi tanpa Christian. Nonton film jadi sepi, nonton vines malah bikin gue nangis bombay... dan makan snack kesukaan Tian jadi bikin gue sakit. Sakit hati. 

Jadi, gue memilih untuk hidup begini saja. Enggak ada Tian yang membuat kebahagiaan-kebahagiaan gue atas hal-hal kecil jadi berlipat ganda. Gue hidup dengan cukup. Dengan aktifitas yang sama setiap harinya, rutinitas membosankan yang mau enggak mau gue jalani. Gue hidup di tengah-tengah. Tidak lebih bahagia atau tidak lebih sedih dari sebelumnya.

Hidup begini. 

SenandikaWhere stories live. Discover now