Prolog

91 20 29
                                        

__________________________________

"Ketika luka dan rasa sakit menjadi temanku." - Nesia Raquel Winata

__________________________

Sudah hampir setengah jam Raquel terus memandangi wajah tampan di hadapannya ini. Senyum di bibir mungil gadis itu terus mengembang. Ah, rasanya Raquel tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini. Kapan lagi bisa mandang doi sedekat ini?

Sebenarnya apa tujuan pemuda itu tiba-tiba mengajaknya nge-date seperti ini? Apakah Garvino akan menembaknya malam ini? Jika iya, malu sekali rasanya. Raquel tidak memakai dress, ia hanya mengenakan baju lengan panjang dan celana Levi's berwarna hitam.

Pasti ia sangat tidak berkesan dimata Garvino. Ya Tuhan, malu sekali! Tolong datangkan pintu kemana saja agar Raquel bisa mengganti pakaiannya dahulu!

Garvino bedehem membuat lamunan Raquel buyar. Pemuda itu tersenyum, senyum yang terlihat manis dimata Raquel.

"Ke-kenapa, Gar?"

Sialan! Kenapa disaat seperti ini Raquel jadi gugup.

"Lo terlihat cantik malam ini," puji Garvino semakin mengembangkan senyumnya.

Fiks! Raquel yakin seratus persen jika Garvino akan menembaknya malam ini! Bagaimana Raquel bisa tahu? Terbukti dari cara pemuda itu memujinya!

"Makasih," jawabnya malu-malu.

Ya Tuhan! Gue butuh oksigen, huh huh huh! --- batin Raquel menjerit.

"Gue mau nunjukin sesuatu sama lo." Garvino mengeluarkan sepucuk surat dari dalam saku kemeja yang dikenakannya.

"Itu apa? Surat cinta?" tebak Raquel. Garvino menganggukkan kepalanya.

Tuhkan, dia pasti mau nembak gue pake surat itu.

"Kok tau?" tanya Garvino heran, pasalnya ia belum memberi tahu tentang surat ini.

"Tau lah!" Raquel menundukkan kepalanya menahan malu.

'Kan buat gue, -- batin Raquel menyambung seraya cekikikan di dalam hati.

"Tolong kasih ini ke Michelle, ya?" Garvino menyondorkan sepucuk surat itu.

Dengan ragu Raquel mendongak. Senyum yang sedari tadi mengembang kini sudah pudar. Tubuhnya menegang, dadanya sesak. Matanya tiba-tiba memanas, dan air matanya siap kapan saja akan keluar.

"Mi-Michelle?"

Garvino mengangguk. "Iya, ini surat cinta dari gue buat sahabat lo, Michelle."

Jdar!

Bagai tersambar petir, hati Raquel hancur berkeping-keping.

Ternyata surat cinta itu untuk Michelle? Bukan untuknya? Ah, Raquel sudah salah mengira rupanya. Rasanya seperti ketika dibawa terbang tinggi-tinggi dan dijatuhkan saat itu juga. Terlalu menyakitkan.

Raquel mengusap kasar air mata yang entah sejak kapan keluar. "Gu--gue duluan, gu--gue masih ada urusan," pamitnya lantas beranjak dan keluar dari Cafe tersebut.

Garvino menatap punggung Raquel dengan raut bingung. Ia melakukan kesalahan? Dan tadi, ia tidak salah lihat, 'kan, jika Raquel menangis?

Raquel kenapa?

Padahal suratnya belum dibawa oleh gadis itu.

•••


Prolog aje dulu, semoga suka:)

TBC

RAQUEL (On Going)Where stories live. Discover now