Prolog

35 6 3
                                        

Seperti takdir Tuhan yang tidak ada yang tau
Sama sepertimu yang tak aku ketahui asalnya

__________

Dihempas dan tersenyum
Walau begitu pahit kehidupan dunia
Kenyataan dan takdir yang tak bisa dihindari

* * * * *

"Bukannya ntar malem aja kok"

Gadis bersurai hitam kecoklatan yang menjuntai kebawah bergelombang diujung rambutnya adalah ciri khasnya. Dia Aira Franendra sibuk menata komik-komik abangnya yang berantakan dan mengembalikan ke rak-rak.

"Biar lebih cepet ntar malem" ucap abangnya keukeh.

Aira memutar kedua bola matanya keatas "Serah! Kalau belum jadi jangan salahin gue"

Marvel terkekeh menang. Ia yakin nanti malam motor Aira pasti sudah jadi secarakan bengkel Mang Udin bengkel terkenal dikalangan muda mudi. "Percaya aja sih sama gue"

Aira mencebik melempar satu buku komik tebal tepat mengenai punggung Marvel. Cowok itu tak peduli dan tetap fokus menonton TV.

.
.
.
.

Kedua adik kakak yang baru saja turun dari mobil taxi itu saling dorong berebutan keluar duluan. Hingga Aira duluan dan menjulurkan lidahnya mengejek. Sesudah membayar uang ke pak supir. Keduanya berlari kesebrang jalan menuju bengkel yang ada disana.

"Mang Udin!"

"Eh Marvel bro" hingga pria berusia satu tahun lebih tua dari Marvel itu melakukan tos ala laki-laki pada umumnya terlihat sangat dekat. Apa mereka berteman?

"Bapak Udin mana yon?"

"Bapak gue ada di rumah lagi istirahat" Marvel mengangguk anggukkan kepala bero 'oh' panjang.

"Ra mau ngambil motor Ra?" tanya Leon. Aira mengerjap dari kebengongan nya satu hentakan yang menyapa punggung Aira abangnya lah yang melakukan.

"Ditanyain tuh"

Aira mengerjap "Eh maaf kak kenapa?"

"Mau ambil motor?"

Aira mengangguk tersenyum kikuk "Iya kak udah jadi belum ya"

"Udah Ra"

"Makannya jangan bengong terus" sindir Marvel berkata sinis. Sebagai orang pertama yang selalu melihat adiknya setiap hari bengong dirinya begitu frustasi sendiri.

"Maaf" ceketuk Aira lirih begitu lirih sampai Marvel tidak mendengarnya.

"Nih bisa dicoba dijamin enak dah bawanya" kata Leon menepuk kepala motor metik itu.

Sesuai pesanan motor metik Aira sudah bisa menyala kembali membuat si pemilik langsung sumringah. "Mantul Yon!"

"Leon gituloh"

Marvel tak salah langganan ke bengkel Leon alias Mang Lele, julukan yang biasa menjadi ejekan setiap kali bersama Marvel di kampus.

"Makasih bro"

Leon mengangguk "Sama sama"

"Berapa?"

"Udah ga usah"

"Lah gimana gue kan pelanggan"

"Iya gue kasi khusus buat sahabat gue"

Marvel tertawa "Ga bisa gitu bro" ujarnya mengeluarkan dompet namun ditahan oleh Leon.

"Udahlah iklas gue"

Marvel berdecak gini yang paling ia tak sukai. Selalu dikasi gratisan. Udah langganan selalu digratisi walau begitu iklas ngasinya tetap saja Marvel tak enakan.

"Ck, kalau masi mau temenan sama gue" Marvel mendelik akhirnya pasrah. "Iye makasih bro"

"Santai" ucap Leon dan kembali mengerjakan motor yang belum beres.

Dirasa Marvel sudah duduk di motor Aira pemiliknya tak kunjung naik cowok itu kembali menghela nafasnya. "Aira..." panggilnya kembali menyadarkan kesadaran Aira.

"Ck, bengong lagi" Marvel mengelus puncak kepala adiknya "Udah ya lupain Ra abang juga......berusaha ikhlas"

Tanpa disengaja kristal air lolos begitu saja tanpa diminta. Aira sendiri selama ini berusaha tegar tapi ia tak sekuat abangnya dan tak setegar Ayahnya.

"Gue pasti usaha"

Walau sekuat apapun usaha kita untuk melupakan. Memori kelam yang pernah dialami tak akan hilang dari ingatan bukan?

Memori memori itu akan selalu teringat kapanpun tanpa kita minta diingat bukan?

Sulit, luka tetaplah luka, bukan sekedar goresan yang akan hilang begitu saja.

"Merelakan itu mudah hanya saja kenangannya yang sulit dilupakan"

Aira mendongak menatap langit hitam yang disinari rembulan. Cukup hari itu saja bukan hari-hari seterusnya. Aira mengelap sisa-sisa air matanya dan tersenyum meyakinkan bahwa memang dia pasti bisa. "Gue bisa kok bang"

Berbohong dengan menutupi luka terganti dengan senyuman. Marvel sendiri tidak bodoh untuk percaya begitu saja. Setiap kali adiknya selalu membuatnya tidak tenang dan semakin besar rasa ingin melindungi adiknya.

"Gue sayang sama lo Ra" bukannya terharu Aira bergerak seakan muntah udara. "Jijik bang!" ejeknya sembari naik diatas motor memegang bahu Marvel sebagai pegangan.

"Udah siap?"

"BERANGKATTT" ucap keduanya bersamaan dengan motor itu yang melaju dijalan malam.

Sebagai kakak sudah tugas Marvel untuk menjaga Aira entah medan perang apalagi yang akan menemui mereka. Marvel tak peduli asalkan ia bisa menjaga dan melindungi Aira sekalipun nyawanya sendiri taruhan.

* * * *

Pencet tombol bintang pojok kiri bawah😇

Siap menuju Cerita

Hari EsokWhere stories live. Discover now