"Hidupku sudah sulit, Sheikh. Aku mohon jangan kau persulit lagi dengan terus menerus datang di hadapanku."
"Ini bukan kehendak ku, takdir yang membawaku kesini."
Cerita klasik tentang si miskin dan si kaya dengan segala lika-liku yang ada.
Rukshar...
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
"Di Utara Delhi, bom molotov dilempar oleh sebagian warga Delhi dan menyisakan kehancuran yang fatal. Lebih dari 46 warga meninggal dan toko-toko mereka rusak terbakar."
"Toko dan mobil kami terbakar, kami selamat karena loncat dari lantai atas." Kata salah seorang warga, dengan raut muka cemasnya.
"Siapa yang akan mengganti kerugian ini? Toko ini adalah satu-satunya yang kami miliki saat ini dan mereka menghancurkannya!" Rutuk seorang pria yang memegang kepalanya bingung.
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
"Sejak kemarin sore kami kebingungan mencari perlindungan, di pemukiman banyak perempuan dan anak-anak yang tinggal. Dan saat malam tiba-tiba ada kobaran asap yang berasal dari dibakarnya rumah warga muslim, kami kebingungan, bahkan sebagian ada yang hampir dilecehkan dan berusaha merobek dan membuka hijab kami." Wanita paruh baya bercerita dengan air matanya yang mengalir deras.
"Beruntung ada saudara muslim yang membantu, Allah akan terus memberikan dia rahmat. Disini sudah disediakan makanan dan selimut, meskipun jumlahnya kurang kami sangat berterima kasih." Lanjut wanita yang menggendong bayi.
"Apa kesalahan kita sehingga kalian membuat hidup kita semakin sulit saja? Di sini kita meminta keadilan kepada para penguasa! Tidak seharusnya kita di diskriminasi seperti ini! Muslim tidak seburuk itu!"
"Konflik ada dipicu oleh undang-undang kewarganegaraan yang oleh kritikus disebut mendiskriminasi para muslim, regulasi memperbolehkan warga non-muslim dari Bangladesh, Afganistan, Pakistan ke India secara ilegal oleh partai nasionalis hindu, Bharatiya Janata Party (BJP) mengatakan bahwa undang-undang ini akan memberi perlindungan bagi mereka yang melarikan diri dari persekusi agama, RUU ini memicu aksi protes sejak diloloskan tahun lalu, beberapa diantaranya berujung bentrok. Demikian laporan kami hari ini, kembali ke studio."
~•●•~
"Aku tidak ingin pergi dari negara ini, Aabu, tidak adakah cara lain?"
Seorang ayah, ibu, dan putri semata wayang mereka sedang kebingungan dalam rumah kecil itu.
"Jika ada aku tidak akan memilih jalan ini, apakah kau mau menjadi gelandangan di pinggir jalan? Konflik ini semakin parah." Jawab Ayah yang dipanggilnya Aabu.
"Satu-satunya yang kita miliki adalah ini. Toko makanan kita telah hangus terbakar. Kita akan pergi setelah menjual rumah ini." Sambung Aama -ibunya.
Kerusuhan antar umat beragama yang terjadi di Delhi membuat muslim di sana kehilangan tempat tinggal dan ketakutan karena bom molotov. Masa depan anak-anak tampak suram untuk kedepannya, mengingat konflik ini sudah terjadi puluhan tahun yang lalu dan belum ada jalan keluar untuk masalah ini.
Keluarga Haroon itu termasuk yang paling beruntung masih mempunyai tempat tinggal karena saudara-saudara mereka telah menjadi homeless dan kini tengah mencari perlindungan dan mengungsi di Indira Vihar, di ruang serba guna milik pengusaha muslim.
"Kita bersyukur tidak diusir oleh para hindu itu, atau kita akan tidur dilantai tanpa alas." Aabu berusaha membujuk.
Gadis berkepang itu menggeleng. "Kenapa harus Dubai? Kenapa tidak ke Mumbai atau kota lain?" Tanyanya penuh penekanan.
"Lagipula ini rumah kecil diantara pemukiman kumuh, Aama. Siapa yang akan membelinya? Pekerjaan lain bisa kita kerjakan! Sol sepatu, tukang cukur, atau bahkan pertunjukan akrobatik di pinggir Chandni Chowk!" Gadis itu tetap kukuh pada pendiriannya.
Bagaimanapun dan semiskin apapun, dia tidak ingin pergi dari tempat ini.
"Rukshar, tenangkan dirimu. Hanya Vikram yang dapat membantu kita." Aama mengguncang bahu Rukshar dengan pelan, berharap bisa segera mengerti keadaannya.
Vikram, adalah salah satu teman Aabu yang bekerja di Dubai sebagai buruh bangunan di sana. Setelah kejadian tadi pagi yang meluluh lantahkan semua yang dimiliki mereka beruntung Vikram siap membantu dengan mengajak mereka untuk pergi ke Dubai lalu bekerja di sana.
"Dubai kota yang besar, pekerjaan sekecil apapun akan dibayar besar. Kita juga dilindungi di sana, tidak akan ada yang mendiskriminasi kita lagi."
"Justru karena Dubai adalah kota yang besar. Aku takut ada hal yang terjadi diluar dugaan kita, Aabu."
Rukshar mengerti bahwa hidup di India juga tidak semudah itu, ada lebih dari 20 juta orang di kota Delhi dan tidak sedikit yang menjadi tunawisma dipinggir jalan tanpa tahu apa yang harus mereka lakukan, pekerjaan sekecil apapun mereka sanggup lakoni demi makanan. Belum lagi keadaan yang kotor, padat penduduk dan kumuh membuat lebih sulit bertahan hidup di sana.
Tapi apa yang bisa mereka lakukan selain menerima kenyataan pahit ini?
Terlihat Aabu menghela napas berat, antara berusaha membuat anaknya mengerti dan bingung kedepannya bagaimana. Sebenarnya mereka juga tidak mau hal ini terjadi, toko mereka juga ikut menjadi korban bentrok demo. Tidak ada sisa selain itu.
"Kalau begitu yasudah kita tinggal di pinggir jalan saja dengan mereka, tidak usah mengkhawatirkan masa depanmu itu! Memang siapa yang mau bekerja dengan kita di sini?! Masih beruntung Pak Vikram mau membiayai biaya terbang kita dari sini ke Dubai!" Teriak Aama frustasi, dia begitu letih hari ini dan belum lagi menanggapi keras kepala anaknya.
Aama kemudian menangis, "kami tahu kau masih 17 tahun dan kau harus menerima kerasnya hidup. Tapi kami melakukan ini karena kami masih memikirkan kehidupanmu kedepannya. Kita tidak tega membiarkanmu tidur di jalanan dan tidak punya masa depan."
Rukshar terdiam, terpekur tidak menjawab apa-apa. Ada banyak hal yang Rukshar cintai di Delhi. Meskipun dia hidup susah dan tumbuh diantara konflik tapi dia tidak pernah mengeluh untuk apapun, dia juga tidak boleh egois dan mungkin ini juga takdirnya.
"Kembali ke kamar mu dan tidurlah. Besok kita akan mengurus segalanya dengan Pak Vikram." Aama dan Aabu beranjak meninggalkan Rukshar di sana sendirian.
Di kamarnya, Rukshar hanya memandangi langit berbintang itu sambil merenungkan apa yang terjadi.
Rumah ini satu-satu yang mereka miliki telah dijual oleh orang tuanya untuk biaya terbang ke Dubai. Konflik yang terjadi di negaranya ini juga begitu berat dijalani, belum lagi mereka adalah keluarga muslim.
"Apakah salah jika terlahir menjadi muslim?! Kenapa semua ini terjadi padaku? Kita tidak bisa berbuat apapun karena ini adalah takdir, dan kalian dengan seenaknya menghancurkan harapan kami!" Rukshar berteriak kencang di kamarnya.
Menahan isak, memendam kekesalan sendirian.
~•●•~
Note; konflik di atas itu benar terjadi di India pada tahun 2019, temans, yang tidak asli ya disini terjadi ngga di 2019, saya cuman mau ambil konfliknya saja. Maaf kalau bab ini mengandung SARA. Saya buat ini dengan sangat hati-hati, apa pendapat kalian tentang bab pertama ini?