DISCLAIMER! BXB NO CENSORED SO, JANGAN REPORT APAPUN YANG ADA DISINI, SAYA SUDAH BERI PERINGATAN!
Perabotan yang sudah berdebu, kursi-kursi yang disusun bertingkat, meja yang dirapatkan ke dinding dan disusun bertingkat, semua itu membuat ruangan lab kimia terlihat kosong. Ruangan lab ini tidak dipakai lagi sejak 5 tahun yang lalu. Sekarang gunanya hanya menjadi gudang tempat penyimpanan kursi atau meja yang sudah rusak. Masih banyak gelas-gelas kaca yang walaupun sudah terpotong sebagian atau masih bagus dan berdebu dibiarkan berantakan di dekat wastafel.
Kabarnya, terlalu bahaya membiarkan cairan kimia yang kapan saja bisa meledak untuk berada di tingkat 3 dan dekat dengan ruangan kelas. Maka, dibangunlah gedung lab baru khusus untuk lab. kimia di depan gedung olahraga.
Beruntungnya, aku mempunyai cetakan kunci yang dahulu aku curi dari kantor penjaga sekolah. Aku bisa masuk ke ruangan kosong ini untuk menghindari razia, menghindari pelajaran sosiologi atau matematika yang membosankan, dan tentu saja bersenang-senang seperti sekarang.
"Anghh... Pelan-pelan!" racau perempuan yang vaginanya sudah menelan seluruh penisku. Aku mengeluar masukkan penisku dengan cepat berharap setidaknya aku bisa keluar.
Well, lubang perempuan ini sudah melar. Tampaknya, aku bahkan bisa memasukkan kepalan tanganku. Berapa kali sehari wanita ini melakukan hubungan seks?
"Di... Situ, iya disitu, hnggh!" dia mengejang merasa nikmat dan mengeluarkan pipisnya kemana-mana.
Ini memang permainanku yang bagus atau emang dia lagi sange banget? Aku bahkan belum keluar?
Dia tersenyum manis lalu bangun dari tidurnya. Segera merangkak dan meraup penisku dengan mulutnya. Ahhh, benar-benar nikmat. Lidahnya bermain-main dengan lincahnya di sekeliling penisku. Aku bisa merasakan sentakan penisku mengenai langit-langit mulutnya.
Dengan kuluman di ujung penisku yang dilakukan secara memutar perlahan, cairan berwarna putih alias maniku langsung keluar menyembur ke tenggorokannya. Ia memuntahkannya ke tangannya lalu tersenyum seperti orang bodoh. Dia tampaknya seorang profesional.
"Sekarang keluar."
Aku menaikkan celanaku dan langsung duduk di atas meja menunggu wanita itu merapikan dirinya.
Dia melambai dengan senyuman cerah di wajahnya, "Jumpa minggu depan, sweety!" Setelah itu dia langsung berjalan dengan riang keluar dari ruangan ini.
Aku turun dari meja dan berjalan menuju loker bekas penyimpanan peralatan lab. Pintu loker terbuka dan aku melihat seorang laki-laki di sana. Aku sudah menyadari ini sejak aku masuk ruangan ini di jam ketiga. Sampai dua perempuan datang dan aku bercinta sampai dua kali, dia tetap disana dan tidak berkeinginan untuk keluar.
Kuhela nafasku dan menatapnya dari atas sampai bawah. Netraku menangkap celananya, tidak, tepatnya terhadap penis yang sudah menegang di balik celananya itu. Wait, itu bercak basah?
"Lo masturbasi ngeliat kami main?" tanyaku agak najis.
Dia menggeleng.
"Tapi pria kecil ini udah basah?" Tanyaku lagi. Jujur, aku tidak menyangka akan mendapat penonton langsung.
Dia tidak bergeming dan hanya menunduk. Aku baru menyadari, dia terlihat kesusahan berdiri di dalam loker itu. Aku mundur beberapa langkah dan mengibaskan tanganku, "Keluar dari sana."
Lelaki itu akhirnya mendongak, menatapku. Aku terkesiap melihat iris matanya yang berwarna cokelat terang, seperti karamel. Aku menunduk ke bawah dan melihat jarinya sibuk memelintir keliman seragamnya. Geraknya kaku saat ia keluar dari dalam loker.
Aku yakin, punggungnya pasti sangat sakit tertekuk selama itu.
Mataku membelalak, leherku ikut mendongak ketika berhadapan dengannya, "What the hell, berapa tinggimu?!" tanyaku.
Ini beruang?!
"190?" jawabnya pelan.
Astaga, dia benar-benar tinggi. Bagaimana bisa dia bertahan hampir 3 jam di ruangan sesempit itu? Tapi, terserah, bukan urusanku.
"Lupakan. Sekarang, jawab. Lo masturbasi ngeliat kami tadi?"
Dia menggeleng pelan.
"Jangan bohong! Kontolmu dah basah!" tukasku dengan galak.
Dia masih memelintir ujung seragamnya dengan gugup. Bentar dulu, jangan bilang...
"Ga mungkin sih, ga mungkin." Aku menolak fakta aneh yang berputar di kepalaku.
Tapi, gimana kalau iya?
"Lo ejakulasi hanya dengan liat doang?!" tanyaku hati-hati.
Ia makin menunduk dalam. Tak sadar aku sudah menganga lebar dan mataku membelalak tak kalah lebarnya, "Beneran, anjir? Kok bisa?"
Dia mengangguk pelan. Astaga, aku benar. Tapi, tenang, itu mungkin terjadi kalau dia melihat orang yang disukainya mendesah. Dia pasti sangat menyukai perempuan tadi.
Aku merasa menyesal telah bercinta dengan perempuan itu. Dan agak kasian terhadap lelaki ini. Apa aku harus mengatakan kalau lubang perempuan itu sudah terbuka lebar?
Tidak, terserah, bukan urusanku.
"Lo suka sama awewe yang terakhir?" Tanyaku penasaran.
Beruang di hadapanku ini menggeleng lemah.
"Jadi, perempuan mana yang Lo suka? Yang pertama? Cantik sih, tapi sasimo dia mah. Saran gue, cari yang lain," nasihatku prihatin.
Dia mulai menutup wajahnya dan menggumamkan sesuatu. Aku tidak bisa mendengar apa yang dikatakannya sama sekali. "Gue ga bisa denger. Lo bilang apa?" tanyaku.
Dia hanya menutup wajahnya dan menggumamkan sesuatu dengan cepat. Aku tersenyum dengan awkward, tidak pernah aku sesabar ini dengan orang. kupegang kedua pergelangan tangannya dan menarik tangannya turun. Dari jarak sedekat ini, aku bisa lihat dia sangat tampan, bahkan dengan kacamata bulatnya itu.
Bangsat!
Matanya beneran secokelat ini?! Indah, mata ini terlalu indah. Tapi mataku juga bagus kok, lebih indah bahkan. Dibandingkan aku yang dipahat setampan ini, lelaki ini masih rata-rata.
Eh benter, itu urusan nanti.
"Nah, Lo bilang apa tadi?" ujarku dengan lembut, kesabaranku saat ini dapat bertahan karena mata lelaki ini yang bagus. Walaupun, tetap bagusan mataku.
"Aku suka sama kamu!" pekiknya lantang.
Tanganku melepas pergelangan tangannya dan melihatnya dengan tatapan kosong. Dia bilang apa tadi?
Aku memukul bagian atas telingaku dan membuka tutup telingaku sembari berteriak. Pendengaranku tidak bermasalah. Lalu apa yang dikatakannya tadi?
"Hah?" tanyaku lagi meminta dia mengulangi.
"Aku suka Rey."
"Rey siapa? Aku?"
"Iya, aku suka kamu, Rey."
Jawabannya membuatku ingin berkata kasar. Tak pernah aku semerinding ini!
"Gila ya lu, anjing?!" teriakku dan tanpa sadar.
"Aku beneran suka samamu, Rey!"
Tak sadar tanganku sudah melayang dan menempel di pipinya dengan keras.
Bodo amat! Aku langsung berjalan keluar dari lab.kimia dan berlari. Dia orang tersinting yang pernah aku temui di sepanjang hidupku, dih!
Dont forget to check my other works "I Like You?" and "I Like You? Pt. 2". You could see it on my wall or my profile page<3 See you on there!
VOUS LISEZ
I Love My Big Bear [ 18+ ; BL ]
Roman d'amour[COMPLETE] [YAOI] Ketika "beruang cabul" alias Kristo menyatakan cinta, Rey hanya bisa tertawa, tertawa mengejek sampai tubuhnya sendiri mulai berkhianat. "Ya Tuhan, ini kontol punya garansi gak sih?!" Rey frustasi karena 'miliknya' tak kunjung bang...
![I Love My Big Bear [ 18+ ; BL ]](https://img.wattpad.com/cover/269504322-64-k628131.jpg)