Sang fajar segera datang perlahan menyibak awan gelap sisa semalam, aroma angin shubuh masih terasa begitu kuat berhembus pelan menerpa paras jelita seorang gadis yang tengah duduk di tepi jendela kamar dengan mukena dusty pinknya.
Sempurna , mata bulat kecoklatan, wajah dengan rona merah alami juga tubuh mungil sedikit berisi di tambah kulit kuning langsat khas perempuan jawa, dia Erina Betari Ayu gadis 24 tahun kelahiran Sleman Yogyakarta 4 mei 1997
" Ighfirli dzunubi ya Allaah.."
Rapalnya pelan sambil terus memejamkan mata menikmati terpaan angin di wajahnya.
Dapat kembali merasakan sejuknya udara shubuh setelah melewati malam - malam panjang adalah sebuah keberkahaan yang tiada tara berharganya, bukankah sang Khaliq begitu Maha Pengasih memberikan kehidupan kembali pada setiap insan yang sedang mati sementara atau sering disebut tidur lalu masih bisa menghirup udara sebebas - bebasnya ketika pagi hari ?.
" Nduk, udah bangun tho ? Ditunggu Bapak mu di mushola belakang sama Mas Yusuf "
"Iya buk, sebentar" balasnya sambil membuka pintu kamar, menenteng sajadah menuju mushola kecil dekat taman belakang yang sekaligus menyatu dengan dapur minimalis milik keluarganya.
Terlihat dua laki - laki sedang duduk bersila menghadap kiblat, sang Ayah Abdul Mun'im dengan hem batik coklat sambil memegang tasbih, di belakangnya laki - laki tampan berkulit kuning langsat dengan kaos oblong abu peci hitam lengkap dengan sarung batik nya. Dia adalah Muhammad Yusuf Yudishtira, kakak Betari .
"Lama tenan kamu ini dek"
Keluh laki - laki tampan yang di panggil Mas Yusuf oleh betari
"Ck.. ya sabar tho Mas nih udah disini"
Sahutnya dengan sedikit mendelik. Sering ribut kecil tapi sebetulnya mereka saling menyayangi Yusuf memang tidak bisa bersikap manis layaknya seorang kakak pada umumya, alih - alih memanjakan sang adik Yusuf memang cenderung kerap menjahilinya. Tapi tak masalah, sebab rasa sayang tak melulu dengan ungkapan - ungkapan manis
Meskipun sekarang usian Betari telah menginjak 24 tahun namun tetap saja bagi Yusuf betari masih seperti bocah 5 tahun, ingusan dan suka menangis kala digoda sang kakak
" Tolong segera di Iqomahi le.. "
Titah Abdul Mun'im sang Bapak. Bagai kerbau dicucuk hidungnya Yusuf berdiri dan disusul sang Bapak yang memulai sholat subuh menjadi imam untuk kedua putra kebanggaannya, hanya bertiga karena sang ibu Ayu Ningtyas memang sedang berhalangan sehingga tidak ikut bergabung untuk sholat shubuh berjamaah
"Assalamualaikum warahmatullah.. "
Selesai rokaat terakhir tiga manusia ini masih betah rupanya untuk bercengkrama dengan sang pemilik alam semesta, berdzikir dan dilanjut merapal doa - doa terbaik mereka.
Setelah melakukan rutinitas sholat subuh keluarga kecil ini kembali melanjutkan aktifitas masing - masing, sang bapak yang bersiap untuk berangkat ke sebuah Madrasah Aliyah Negeri 1 Sleman yogyakarta tak jauh dari rumah
Yusuf juga sedang bersiap menuju salah satu Pondok Pesantren modern di daerah Yogyakarta. Yusuf mendapatkan amanah yang luar biasa karena diberi kesempatan sekaligus kepercayaan untuk mengelola madrasah diniyah di Pondok tersebut Yusuf menjadi kepala sekolah diusianya yang cukup muda yaitu 29 tahun.
Sementara Betari, saat ini bekerja disalah satu kantor penerbitan buku majalah anak. Meskipun background keluarga betari sendiri adalah seorang pengajar mulai dari bapak juga ibu hingga kakak laki lakinya namun kedua orang tua Betari membebaskan anaknya untuk memilih jalan hidup mereka, apapun yang mereka sukai asal masih dalam hal kebaikan
"Selamat pagi Ibuku, wanita tercantik sejagad raya "
Sambil terkekeh geli dengan ucapannya sendiri Betari menghampiri sang ibu dan mengucup singkat pipi yang mulai menonjolkan kerutan yang berbalut jilbab, namun masih terlihat cantik itu
" Gombalmu dek, mau minta apa tho ? " Balas sang Ibu dengan tangan yang masih sibuk memegang spatula mengaduk nasi goreng favorit keluarga mereka
" Enggak kok, memang Ibu Betari cantik kesayangannya Bapak lagi, yakan ?" Masih dengan senyum jahilnya betari betah sekali menggoda sang ibu
"Ibuku.. ibuku. Ibunya Mas juga ya, emang ibukmu tok apa ?"
yusuf dengan suara bassnya muncul dari kamar sambil menggulung kemeja cream berjalan menuju ruang makan menyahuti obrolan dua perempuan tercintanya dengan wajah yang di buat - buat kesal
" Mas Yusuf anaknya Mbok Nah kan buk, tetangga sebelah kita ? Anak nemu itu !?" Ledek betari yang tidak mau kalah dari sang kakak
" Padahal Ibu punya Bapak " celetuk Abdul Mun'im yang sudah rapi memakai seragam dinas cream tua dan peci hitam ditambah kumis sedikit lebat membuatnya terlihat sangat berwibawa berjalan menuju ruang makan ikut bergabung dengan yusuf yang sudah duduk di depannya
" Uwis tho, ngapain sih rebutan Ibu pagi - pagi Yusuf juga dari pada tiap hari godaan adeknya mending cari istri. Biar ada yang bangunin juga tiap mau shubuh terus Ibu bisa pensiun deh bangunin kamu "
cerocos sang ibu dengan semangkuk nasi goreng ditangannya dibantu betari memindahakan ke meja makan
" Lha, bener itu Mas ! jomblo mulu "
Betari yang ikut menimpali pembicaraan ibunya dengan senyum puas karena berhasil membuat bungkam sang kakak.
"Wis lah mas kalah kalo ibuk sama betari udah kompakan begini"
yusuf menjawab dengan memutar bola matanya malas
"Udah.. udah.. sarapan dulu jangan sampek pada telat betari nanti berangkat sama Bapak aja ya motormu kayaknya belum bisa diambil kata mas bengkelnya belum sempet nyervice"
"Siap pak"
•To be continue•
Halo - halo, gimana nih kesan pertama baca cerita dari eiri :D . Maafin ya kalau bahasanya agak kaku dan kurang lues atau mungkin agak lebay. Tolong banget dimaklumi karena emang baru belajar , hehe. Oiya buat temen - temen yang kerja di kantor penerbitan gitu boleh banget kasih masukan, karena eiri sebenernya kurang begitu ngerti struktur atau kepengurusanya hehe.
Terimaksih sudah mampir, I hope you enjoy this story.
* Tetap jadikan Al - Qur'an sebagai bacaan utama *
See you next chapter :)
YOU ARE READING
Best Part
General FictionSemua yang telah dilewati akan menjadi bagian terbaik dalam sebuah kehidupan.
