Satu💦

109 6 0
                                        

Sepulang sekolah, Wendy merebahkan tubuhnya di kamar sambil menatap langit-langit kamar. Dia sangat jenuh ketika berada di sekolah, bayangkan saja di jam pelajaran akhir disuguhkan oleh pelajaran matematika selama tiga jam. Sungguh membosankan.

Untuk melepaskan jenuh, Wendy pun mengambil laptopnya. Dia ingin melanjutkan cerita yang ditulisnya di sebuah platform bernama Wattpad.
Belum saja dia mulai menulis, tiba-tiba pintu kamarnya terbuka begitu saja.

Itu adalah mamanya, beliau menatap Wendy dengan datar. Seperti enggan sekali, melihat Wendy santai begitu saja.

"Ada apa, ma?" tanya Wendy dengan sopan.
"Enak banget ya, pulang sekolah langsung mainan laptop gitu. Kayak ratu," sindir mamanya.

Wendy menghela nafas dalam-dalam, tidak tahu harus merespon ucapan mamanya bagaimana lagi.
"Terus, aku harus apa ma?" tanyanya dengan sopan.

"Pakai nanya, ya belajar lah. Apa kamu nggak mau sukses kayak kakak kamu? Lihat, dia sekarang sebentar lagi jadi sarjana pendidikan! Nilainya tertinggi semua," ujar Mama Wendy. Lagi-lagi beliau membandingkan Wendy dengan kakaknya yaitu Hendra Wahyuda.

Memang, sifat dan segalanya dari mereka berdua berbanding terbalik. Hendra, dia sangat pintar dan selalu belajar. Cekatan, tentu saja dia selalu di eluh-eluhkan oleh kedua orang tua.

Sementara Wendy, dia tidak terlalu pintar. Malas sekali rasanya belajar, sekalipun dia belajar hasilnya juga tidak begitu memuaskan. Sehingga dia hanya mempercayai sebuah keberuntungan yang terkadang terjadi pada dirinya, sifatnya yang terlalu santai membuat kedua orang tuanya sangat pusing.

Awalnya Wendy ingin mengistirahatkan pikiran di rumah, namun karena mamanya berbicara seperti itu dia mengurungkan niat. Akhirnya dia mencari alasan agar bisa keluar dari rumah.

"Iya ma, habisini aku ada belajar kelompok di rumah temanku. Nola, mama tahu kan?" jawab Wendy.
"Iya tahu. Beneran kan belajar kelompok?" mamanya memastikan.

"Beneran mama. Kapan sih Wendy pernah bohong sama mama?" jawab Wendy dengan lirih. Dia lelah sekali berdebat dengan mamanya.
"Yaudah kalau gitu, nanti hati-hati berangkatnya. Mama keluar ada kerjaan soalnya," ujar mamanya.

"Iya ma. Hati-hati," Wendy mencium punggung tangan mamanya.
"Hmm.."

********

Akhirnya Wendy keluar dari rumah, dia telah menghubungi Nola kalau dia akan kesana. Untung saja Nola mengizinkannya untuk mampir.

"Assalamualaikum, Nola!" Wendy mengetuk pintu rumah Nola terus menerus sampai Nola membukakannya.
"Iya. Waalaikumsalam," pintu rumah Nola terbuka.

"Masuk, masuk," Nola mempersilahkan Wendy untuk segera masuk.
"Oke," Wendy pun melangkahkan kakinya memasuki rumah Nola.

Sebagai tuan rumah Nola menyuruh Wendy duduk di sofa ruang tamu dan mengajaknya berbincang.
"Lo kenapa lagi sih Wendy? Muka lo lecek banget," Nola menanyakan keadaan Wendy.
"Orang tua gueee Nolaaa...." rengek Wendy. Wajahnya begitu kusut.

"Kenapa? Sakit? Atau apa?" Nola semakin khawatir.
"Enggak," Wendy menggelengkan kepala.
"Terus?"
"Gue dihujat mulu! Dibanding-bandingin sama kakak gue. Kesal!" gerutu Wendy.

"Ya ampun. Tapi ya gimana ya? Bukannya hal kayak gitu udah bisa nggak sih? Di hubungan saudara?" respon Nola.
"Iya sih udah biasa. Tapi gue kesal lah! Kan gue sama kakak gue beda," ujar Wendy.

"Duh, gue bingung harus gimana sama lo. Hmmm," gumam Nola kebingungan. "Yaudah lo tunggu sini. Gue mau bikinin lo makanan," sambung Nola memposisikan dirinya berdiri.

"Enggak usah repot-repot. Gue kesini karena cuma butuh teman," ujar Wendy mencegah Nola pergi ke dapur.
"Ihh.. apaan sih," Nola menyingkirkan tangan Wendy yang menghalangi dirinya.

"Lo pasti belum makan. Udah lah nggak usah banyak ngomong," protes Nola lalu segera menuju dapur. Sementara Wendy hanya terdiam setelah itu memainkan handphonenya.

Ketika dia menscroll laman Instagram nya, tiba-tiba terlintas terdapat sebuah informasi lowongan pekerjaan. Entah kenapa Wendy tiba-tiba tertarik dan membacanya dengan teliti.

"Wahh ada lowongan pekerjaan bagian kasir di toko roti nihhh!!!!" ujar Wendy dengan riang.
"Apa apaaa?" sembari menunggu masakan matang. Dia menghampiri Wendy, karena penasaran dengan apa yang membuat Wendy senang.

"Gue mau ngelamar kerja paruh waktu deh," kata Wendy.
"Serius lo? Yakin?" Nola memastikan, agar Wendy tidak salah mengambil keputusan.

"Serius lah! Kenapa emangnya?" jawab Wendy begitu percaya diri.
"Lah lo nggak kerja aja, nilai lo pas-pasan. Apalagi kerja? Lo pasti bingung bagi waktunya. Ya kan? Ditambah lagi lo juga suka nulis dimana tuh. Wattpad ya," ujar Nola.

"Ya ampun, lo mah meragukan gue. Bisa,bisa! Gue bisa. Biar gue punya pengalaman, nggak di rumah mulu. Di hujat terus-terusan katanya malas," Wendy meyakinkan keputusannya sendiri.
"Yaudah kalau gitu," kata Nola.

"Lagipula nih tempatnya dekat sekolah kita tahu! Lo kalau ada waktu mampir ya?Haha! Ya kalau gue diterima sih," Wendy tersenyum manis.
"Hmmm.." gumam Nola. "Bentar-bentar, masakan gue mau matang!" sambungnya terburu-buru. Beranjak dari sofa menuju dapur untuk memeriksa masakannya.

Halooo semuanya! Hehe, aku bikin cerita baru nih "LIKE WATER"
Selamat datang di chapter 1 🎉.
Gimana pendapat kalian?
Kasih pendapatnya ya, butuh kritik dan saran yang membangun🙏.
Jangan lupa follow, read, vote dan comment. Supaya aku makin rajin up-nya😁.
Bantu "LIKE WATER" biar dapat banyak pembaca. Hehe!
Thankyou..

- Happy Reading 💦-

LIKE WATER [ COMPLETED ] Donde viven las historias. Descúbrelo ahora