1 • Ruang Musik

20 4 0
                                        

Seorang gadis cantik dengan rambut sepunggung terurai anggun dan poni tipis juga lesung pipi manis keluar dari uks setelah pingsan di kelas pada saat jam pelajaran terakhir, gadis itu memilih melangkahkan kakinya menuju tempat dimana ia biasa menghabiskan waktu senggang.

Dengan pakaian sekolah khas Sma Abdi Bangsa, yaitu kemeja putih dengan dasi berwarna biru dongker bercampur sedikit warna cream berdisain kotak-kotak dan bergambarkan lambang Sma Abdi Bangsa dan rok warna cream lipit-lipit juga jas almamater berwarna biru dongker, gadis cantik itu bernama Shania Cassanova.

Sekolah sudah bubar hampir satu jam yang lalu. Hanya tinggal beberapa anggota ekskul yang memiliki jadwal latihan. Shania menggendong tas kecilnya yang bahkan tidak bisa disebut tas sekolah karna hanya bisa memuat sebuah kotak pensil, dompet, handphone, dan powerbank miliknya. Tangan kanannya membawa sebuah kotak perwarna pink cerah bertempelkan stiker warna warni berisikan alat musik yang sejak ia berumur 5 tahun sudah ia gemari.

Saat terbangun tadi ia mendapati barang-barangnya sudah ada di sebelahnya. Tanpa seorang pun yang menunggunya.

Akhirnya ia sampai di ruang musik. Jaraknya cukup jauh, dari ujung lorong lantai tiga (uks) ke ujung lorong lantai satu (ruang musik).

***

Shania adalah anggota inti grup orkestra SMA Abdi Bangsa makanya ia bisa keluar masuk dengan bebas di ruangan yang lebih seperti walt disney concert hall dengan ukuran lebih kecil ini. Jangan salah, SMA Abdi Bangsa yang luasnya mencapai hampir 10ha ini memang punya band orkestra sebagai bagian dari ekskul mereka. Bahkan pernah mengikuti perlombaan internasional dan meraih juara 3.

Shania membuka kotak biola kesayangannya ini.

"Hari ini kacau, kan?" ucap Shania pada benda mati dipangkuannya ini.

Anggaplah Shania gila tapi berbicara sendiri itu seperti kebiasaan (?) atau bahkan seperti terapi pribadi untuk kesehatan mentalnya.

"Untuk pertama kalinya, setelah semingu di rumah sakit. Aku menjalani semuanya. Meminum semua obatnya. Tapi mengapa masih sakit? Bahkan bertambah? Ah, rasanya ingin buru buru pergi" ucapnya sambil berjalan menuju panggung kecil yang biasa ditempati oleh dirigen.

Shania berdiri tegap, iseng ia menyalakan sebuah microphone yang kebetulan ada didepannya dan mulai memainkan sebuah lagu yang sudah ia hapal luar kepala.

Pachelbel's "Camon in D" menggema disetiap sudut ruangan, bahkan mungkin terdengar sampai luar. Ia memainkannya dengan seluruh tubuhnya. Menghayati seisi lagu. Membayangkan seakan ia berada di pertunjukan solo-nya.

Dan akhirnya sampai bagian reff ia menyadari seseorang benar-benar menyaksikan permainan solo-nya. Untuk pertama kali, orang lain, dalam hidupnya. Entah sejak kapan lelaki yang berkeringat atau bisa dibilang dia mandi keringatnya sendiri(?) itu berdiri didepan pintu dan memandangi Shania dengan tatapan, em, memuja? Menilainya?

Dan akhirnya lagu yang dimainkan Shania berakhir. Lelaki itu tidak bergerak sedikitpun, bahkan Shania sudah menurunkan biolanya dan berjalan menghampiri penonton pertamanya ini.

"Em, permisi?" sapa Shania

"Eh, oh, iya" balas lelaki itu yang akhirnya sadar setelah Shania sudah ada di depannya.

Mingyu : Memories of 100 DaysDes histoires addictives. Découvrez maintenant