Chapter 2 - Tetangga itu?

10.8K 632 2
                                    

Ibu sudah sibuk sejak pagi karena membantu Tante Irina memasak untuk menjamu tamu dalam acara peresmian rumah barunya dengan tetangga sekitar. Dan malam ini acara peresmian itu akan dimulai jam tujuh.

Tak lupa ibu mengajak serta Faya. Memang dasar saja Faya yang cuek , mau ke rumah orang kaya justru berpakaian layaknya mau pergi ke kampus.

"Sayang, ganti baju kamu atuh. Masa mau ke acara eksklusif pake baju gembel gitu." seru ibu saat melihat anaknya mengikat tali sepatu kesayangannya.

"Ya ampun ibu lebay deh kita kan cuma mau ke depan rumah yang kepeleset terus nyampe bukan ke acara nikahannya anak Presiden." balas Faya. Ayah yang sudah siap dengan kemeja batiknya hanya mendengus kesal melihat istri dan anaknya yang selalu berisik.

"Ayah biasanya juga pake kemeja slim fit biar perut sixpacknya keliatan, kenapa sekarang kemejanya gombrong gitu sih? Apalagi ibu dandanannya on banget gitu? . Ah pokonya Faya tetap mau pake ini. Titik. Kalo nggak boleh yaudah Faya lebih milih tidur di kamar."

"Terserah kamu. Ibu cape ngasih taunya."

"Udah lah ayo cepet nanti keburu makanannya abis." kata ayah menengahi.

"AYAHHHHHH!" teriak Faya dan ibu kompak.

Faya pikir tetangga barunya itu akan mengundang band ibukota atau minimal penyanyi terkenal untuk mengisi acara malam ini. Ternyata setelah acara potong pita dan sambutan dari sang punya hajat, acara dengan musik klasik dan tembang-tembang lawas menjadi hiburannya.

Namun benar saja, keluarga Dewandaru ini memang orang kaya. Faya bahkan mencuri dengar dari bu RT kalau keluarga ini mempunyai lima cabang bisnis properti di berbagai kota di Indonesia. Maka tidak heran kalau rumah mewah ini diisi dengan perabotan oke punya. Bahkan membuat semua tetangga dan para tamu mendecak kagum.

Faya lebih memilih duduk sendiri di belakang rumah yang ada kolam renang super besar sambil mendengar lagu dari headset. Tiba-tiba sebuah gelas berisi jus jeruk mampir di depan wajah Faya. Dia mendongak dan melihat sosok pemuda yang manis.

"Lo siapa?" tanya Faya sambil melepas headsetnya. Faya menduga kalau cowok manis dihadapannya ini masih berumur belasan tahun. Cowok berkemeja merah itu mengulurkan tangannya ke hadapan Faya.

"Iqbal. Iqbal Abimana Dewandaru. Aku yang tinggal dirumah ini." jawabnya. Faya masih mengamati betul wajah cowok yang bernama Iqbal itu.

"Gue Faya dan yang pasti gue tetangga baru lo." jawab Faya.

Walaupun di dalam ramai, namun Faya dan Iqbal lebih memilih duduk berdua di bangku yang menghadap ke kolam renang.

"Oh jadi lo anak bungsu? Kakak lo mana dari tadi nggak keliatan."

"Nggak tau tuh padahal udah nyampe Indonesia dari pagi tapi kok belum juga nyampe." jawab Iqbal dongkol.

"Kalau kak Faya punya adik atau kakak gitu?" Faya menggeleng sedih. Dia memang anak satu-satunya dan maka dari itu Faya kadang merasa kesepian kalau ibu dan ayah lagi tidak ada di rumah. Tanpa terasa Faya dan Iqbal menghabiskan malam sambil bercerita tentang apa saja.

**

"Pagi kak Faya!" seru Iqbal. Faya yang sedang memanasi mobilnya berhenti sejenak untuk menyapa balik Iqbal.

Cowok keren itu sudah siap dengan setelan seragam putih abu abunya.
Benar dugaan Faya semalam kalau Iqbal masih unyu-unyu. Iqbal baru akan masuk di kelas sebelas.

"Mau berangkat, Bal?" tanya Faya.

"Ya nih abang lama banget mandinya." kata Iqbal sambil mencibik kesal. "Kak Faya mau kuliah? Boleh numpang nggak sampe sekolah abis takut terlambat nungguin abang mandi."

Faya langsung terima permintaan Iqbal. Buru buru dia mengambil tas dan pamit kepada ibu.

"Gurunya galak-galak nggak kak?" tanya Iqbal membuka percakapan.

"Ya nggak semuanya galak sih. Ada juga kok yang baik banget. Namanya Pak Dadan, dia guru bahasa Inggris" jawab Faya menyebut nama salah seorang guru di sekolahnya dulu. Iqbal akan bersekolah di SMA Patriot, sekolah Faya dulu.

"Oh. Tapi kan aku nggak suka pelajaran itu kak."

"Kenapa?"

"Abisnya susah sih."

"Dulu ibu gue pernah bilang, kalo mau ngerti suatu mata pelajaran, senengin dulu gurunya nanti lo bakalan suka deh sama pelajarannya." Iqbal nampak manggut manggut saja.

"Udah sampe kak. Makasih ya." kata Iqbal.

"Tunggu Bal. Ini." Faya memberikan sebungkus permen karet mint kesukaannya pada Iqbal. Setelah mengucapkan terima kasih, Iqbal segera berlari masuk ke dalam gerbang.

**

Sehabis mengerjakan tugas, Faya duduk sambil memainkan gitarnya. Dulu sebelum rumah di seberangnya itu kosong, Faya sering menghabiskan malam dengan duduk di balkon kamarnya namun semenjak rumah itu kosong, dia tidak berani lagi duduk di balkon kalau hari sudah malam. Berhubung rumah di depan sudah ada yang menempati, makanya kebiasaan lamanya pun dia lakukan kembali.

"Fayaaaaa sini sebentar!" panggil ibu. Faya menaruh gitarnya dan turun ke bawah. Aroma kue pie buatan ibu memenuhi indera penciuman Faya.

"Ibu tau aja kalo Faya lagi kepengen kue pie." kata Faya sambil cengengesan. Tangannya diketuk ibu dengan sendok karena ingin mencicipi kue pie.

"Aduh ibu tega banget sama anak sendiri. Masa nggak boleh dimakan, percuma kalo ibu bikin kalo buat dipajang doang." Faya mengerucutkan bibirnya.

"Nanti ibu bikin lagi tapi anterin dulu nih kue buat tante Ir. Tadi ibu diminta tante Ir buat bikin kue pie. Itung itung promosi Fay kali aja kita dikasih modal sama tante Ir buat bikin toko kue. Gimana keren kan ide ibu?"

Faya memutar bolanya. Bosan dengar khayalan ibunya. Berkali kali Faya memencet bel di rumah keluarga Dewandaru tapi tidak ada yang membukakannya pintu.
"Aduh lama banget sih dibukanya. Bisa bisa gue khilaf nih liat kue pie yang menggiurkan ini." batin Faya.

"SEBENTAR!" Faya akhirnya menghembuskan nafas karena ada juga yang mendengar bel.

"Selamat ma-" Cowok ini?

Faya menganga saat tahu dihadapannya berdiri cowok yang ganteng. Tapi bukan itu masalahnya. Dia cowok yang pernah dikerjain Faya saat nanya alamat.

Oh my God, dia tetangga Faya!!!

**

Vomment please...

__Paprika Merah__

Neighbour is Love Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang