Aku membenci sesuatu yang menyenangkan.
Aku membenci orang yang membentuk kelompok teman.
Karena aku merasa diasingkan.
Aku juga benci waktu istirahat.
Karena itu memperjelas fakta,
Bahwa aku sedang dijauhi oleh semua orang.
Aku juga membenci guru,
Karena mereka selalu mementingkan kerja kelompok.
Dan karena kita selalu diasingkan,
Kita sangat membenci acara sekolah.
Kalau di pikir-pikir kembali,
Tak ada hal yang kita suka.
Aku, tak dibutuhkan siapapun kan?.
Apa aku boleh mati?.
•••
10 Tahun yang lalu.
" Selamat pagi anak-anak. " Sapa seorang guru wanita yang baru saja memasuki kelas.
Terlihat anak-anak yang berusia 6 tahun berlari-larian menuju bangku mereka dan membalas salam wanita itu.
" Selamat pagi ibu guru!. " Seru semua murid di kelas dengan wajah berseri mereka.
Tak ketinggalan juga dengan gadis yang duduk di pojok belakang. Gadis itu paling ceria di antara semua temannya.
" Sekarang kita akan membuat kelompok. Kalian cari teman, masing-masing 5 orang. " Ucap guru itu lembut.
Semua anak-anak sibuk mencari teman untuk diajak berkelompok. Kelas sedikit ribut, namun suara mereka tak kedengaran sampai keluar kelas.
Nampak seorang gadis yang awalnya ceria, kini sedikit menurunkan senyumnya. Nampaknya semua temannya telah mendapat kelompok.
Kini ia sendiri, teman-temannya sudah duduk berkelompok seraya menatap kearahnya dengan tatapan mengejek.
Ia sendiri berdiri di bangkunya yang berada di pojok. Ia menunduk, mengepalkan tangannya.
" Wah Nada apa kamu tidak memiliki kelompok?. " Tanya ibu guru yang berada di antara kelompok anak-anak itu.
Gadis yang dipanggil Nada itu hanya menunduk, tangannya masih mengepal.
" Bukannya dia anak aneh ya?. "
" Iya. Aku enggak suka sama dia. "
" Jangan satu kelompok sama dia. "
" Dia anak aneh. "
Nada tidak tuli untuk tak mendengar bisikan-bisikan teman-temannya. Hatinya merasa sedih karena di pojokan oleh semuanya.
" Apa ada yang mau satu kelompok dengan Nada?. " Tanya guru itu pada murid-murid lainnya.
Nada tidak sebodoh anak 6 tahun. Ia cukup tersinggung dengan mendengar ucapan ibu guru.
Dengan secara tidak langsung guru itu sudah mengatainya anak yang aneh juga. Bukannya dari pertanyaannya itu sudah menjelaskan bahwa Nada memang tak memiliki seorang pun teman.
Semua murid berseru tidak mau satu kelompok dengan Nada. Guru itu meminta Nada untuk bekerja sendiri.
Nada menerimanya. Meski ia merasa sakit sekaligus sedih.
•••.
To be continue.
Terimakasih atas kalian yang menyempatkan waktu untuk membaca cerita ini.
P.S : Cerita ini di buat saat gambut aja. Update kalo lagi mood dan ada inspirasi.
YOU ARE READING
BIRU NADA.
General FictionOmong kosong itu sifat asli manusia Kekosongan, ilusi imajiner, bukan manusia, malah terlihat seperti monster. Berharap akan kehidupan yang tidak setara. Mahakarya tanpa bakat bukankah itu seperti sesuatu yang luar biasa?. Kurangnya kepribadian pada...
