Cahaya mentari menembus tirai tipis dikamar itu dan membuat sang pemilik kamar terbangun dari tidur nyenyak nya.
Dikediaman yg cukup megah, namun tidak dengan kondisi keluarganya yg sudah retak namun tetap bertahan.
Nabeela Syahira Anastasya, seorang anak perempuan yg menyembunyikan beberapa luka dalam hatinya. Memang luka tak perlu diceritakan, cukup dirasakan dan bersabar. Jatuh boleh, menyerah jangan. Itulah moto hidup bee yg selalu ia ucapkan ketika ia sedang terpuruk.
Ia tinggal hanya bersama kedua orangtua nya saja, karena sang adik laki lakinya menetap di rumah orangtua dari papanya. Singkat cerita, saat bee masih duduk di bangku SD kelas 3, setelah naik kelas ia dipindahkan ke rumah nenek dari sang papa. Entah mengapa, tapi sejak saat itu bee tak pernah bertemu dengan sang bunda.
Lebih tepatnya sang bunda memilih pergi meninggalkan anak nya dirumah saat siang hari, padahal ia sudah berjanji pada anaknya kl ia akan menjemputnya dijam pulang nanti.
Bee memang bukan anak yg cerdas, dia sangat amat jauh dari kata cerdas. Bee selalu dimarahi oleh sang bunda perihal nilai nya yg amat buruk. Suatu hari bee mendapat nilai hasil ujian matematika, ia sangat terkejut. Karna baru kali ini ia mendapatkan nilai sempurna yaitu 100. Ia sangat bahagia, sampai sampai tak sabar untuk pulang agar bisa membuat bunda nya berhenti memarahinya. Bunda memang memarahi bee karna bee selalu menyembunyikan kertas hasil ujian nya, ia takut sang bunda kecewa. Namun saat sampai rumah, ia tak menemukan sosok wanita yg ia cari, ia pikir mungkin sang bunda masih keluar sebentar cari makan siang.
Dari siang sampai larut hingga sang papa pulang pun sang bunda belum menampakkan dirinya. Bee semula tenang menjadi gelisah, ia tak tau dimana bunda saat ini.
Keesokan harinya, saat bee baru menyesuaikan pengelihatannya, sang papa sudah rapih dan membawa koper besar yg berisi baju baju bee. Ternyata bee diantar oleh sang papa kerumah orangtua papa, ia tinggal disana bersama adiknya yg sangat tak ia kenali. Mereka tak kenal karena sedari adiknya lahir, adiknya langsung dibawa ke rumah ortu dr papa. Sedangkan papa dan bunda kerja diluar pulau.
Bee mengira bahwa hidupnya akan bahagia disana, bersama adik dan orang tua dari papa. Nyatanya, disitulah mental bee dilatih sekuat baja, hati bee dilatih agar sekeras batu, pundak bee dilatih agar sekeras karang, fisik bee dilatih untuk sebagai laki laki yg kuat dan tangguh. Selama 3 tahun ia tak bertemu sang bunda, ia hanya bertemu sang papa jika papa nya sedang libur saja. Ia juga sudah 3 tahun tidak kembali kerumah nya sendiri. Ia juga sudah 3 tahun dibedakan dengan adiknya saat didalam rumah itu, ia merasa dirinya tak penting didalam rumah ini. Ia menjadi anak perempuan pertama yg dibedakan, ortu dr papa nya selalu memanjakan adiknya. Selama itu ia merasakan pedih nya hidup tanpa sang bunda, pedihnya hidup seorang anak yg harusnya diawasi di masa tumbuh dan berkembangnya, ia merasa bahwa dirinya terlalu rendah, ia merasa bahwa dirinya hanya sebagai pembantu dirumah itu. Diusia menginjak 9th ia sudah melakukan pekerjaan ibu rumah tangga, seperti mencuci baju, mencuci piring, mengepel, menyapu disela sela ia istirahat.
Ia terkejut saat harus melakukan itu semua, karna ibundanya saja belom pernah mengajarkannya untuk melakukan itu semua. Bee sekolah pukul 7 pagi- 12 siang, lalu ia mengikuti les tambahan hingga jam 14.30 lalu ia pulang untuk mengistirahatkan diri sebelum les pelajaran di rumah wakelnya. pukul 14.30 ia pulang, bee tak beristirahat dan langsung mengerjakan tugasnya untuk membersihkan seisi rumah itu, selesai berberes², ia langsung mandi lalu makan, dan langsung berangkat ke tempat les. Jam 16.00 ia les sampai pukul 19.00 setelah pulang ia langsung makan dan belajar lagi agar dapat nilai bagus. Bee mengalami peningkatan besar saat ia mengikuti beberapa les dikelas 5. Saat kelas 4, bee hampir dinyatakan tidak naik kelas karna ia tidak diberikan buku LKS/paket, jadi bee sekolah selama kelas 4 hanya membawa buku tulis saja, ia tak pernah belajar, bahkan untuk mengerjakan pr saja dia harus pergi kerumah teman nya yg jauh dr rumah yg ia tinggali skrg. Ia tak bisa menyesuaikan otaknya dengan pelajaran baru disekolah baru itu. Bee bersekolah sampai lulus SD, ia mempunyai banyak teman laki laki dibanding perempuan.
Terkadang bee merasa sangat lelah, hingga dia bisa mimisan hingga 4 kali dalam sehari. Namun ia tak pernah menceritakan apapun kepada papa nya, ia tak mau menambah beban pikiran papa nya. Ia terkenal sebagai siswi yg dingin, rajin, cerdas namun agak sedikit nakal. Kenakalan bee masih bisa diukur, ia hanya beberapa kali memanjat pohon jambu air di sekolahnya, ia sering kali menghilangkan bola kasti saat ia menjadi pelempar. Ia juga hobi main sepak bola, basket, sepedaan. Ia menemukan cinta monyet nya disana, ia pacaran selama 3 th, sejak ia baru masuk sekolah sampai ia mau lulus. Pacarnya dulu itu sangat pengertian, bee hanya bercerita padanya tentang kejadian yg ia alami dirumah ortu papanya itu. Pacarnya dulu itu juga yg membuat nya kuat dan setegar itu. Rumah mereka berhadapan, jadi ia mengaji bersama, namun sayangnya mereka tidak sekelas. Saat lulus, bee memilih untuk mengakhiri kisah monyet nya bersama sang pacar itu. Karna ia tak mungkin bisa bertemu lagi, dan bee tak mempunyai ponsel. Jadi ia memilih pergi dan tak ingin membuat monyetnya itu terlalu berharap padanya.
Suatu hari di akhir tahun, bee datang ke acara keluarga besar orang tua dr papa, saat ia duduk ada buyutnya yg duduk juga disebelahnya. Buyut itu tau kl bee tak bertemu dg bundanya sela 3 th.
"Bee pengen apa diakhir tahun ini?" - ucap buyut
"Gaada yut, bee cuma pengen bahagia, bee cape yut"- ucap bee yg berusaha mengubah raut wajahnya datar
"Bee kangen bunda?"-tanya buyut
"Ngga yut, bunda ga kangen bee kok. Bunda udah bahagia tanpa bee, bunda mungkin capek marahin bee yut, jadinya bunda pergi ninggalin bee"- ucap bee yg mulai lemas. Ia tak mau membicarakan hal yg membuatnya lemah begini.
Setelah mendengar ucapan bee, buyut langsung berbicara dengan papa. Lalu beberapa saat kemudian, papa datang bersama sosok yg selama ini bee dirindukan. Siapa lagi kl bukan bunda nya.
Bee menatap kearah bunda nya dengan datar, tak ada kata yg mampu keluar dari bibirnya, bibirnya kelu. Air matanya sengaja ditahan agar tak terlihat lemah. Ia hanya diam dan memandangi tubuh sang bunda. 2 menit berlalu dan bunda mulai merengkuh tubuh bee dengan hangat. Yg bee rasakan hanya kerinduan yg terpendam selama ini, ia berusaha melanjutkan hidup tanpa bunda nya. Ia menatap nanar wajah bunda yg sudah menangis membasahi pipi nya. Air mata bee pun langsung berjatuhan deras, ia tak sanggup untuk menahannya lagi. Ia rindu sekali dengan sosok ini, meskipun ia selalu salah dimata bundanya.
"Maafin bunda ya, bunda udh jahat sama bee"- ucap bunda disela tangisannya
Bee hanya diam dan tak membalas pelukan bundanya, ia memang rindu bundanya, tapi ia mulai menjaga jarak antara ia dan bundanya. Ia masih trauma dengan bundanya.
Selama ini ia berhasil menyembunyikan kaget karna keadaan berlalu sangat cepat , lelah, sakit fisik, sakit mental tanpa adanya seorang ibunda ataupun papanya. Ia berhasil jadi orang asing saat bersama keluarganya. Ia memakai topeng nya saat keadaan memaksanya untuk terus tersenyum.
"Aku hebat tanpa mu Bun, aku kuat tanpa mu, aku tegar dan tahan banting tanpa mu Bun"- batin bee saat Ia dipeluk dengan bunda.
YOU ARE READING
The Past
Teen Fictionbee tak mendengar apa pun yang keluar dari bibir ibra. Ia tak habis pikir apa yang membuat laki laki ini selalu menarik perhatiannya, meski dengan gaya rambut sebiasa itu, tubuh yg tak tumbuh ke atas. Mungkinkah Ibra memang magnet sejati? Apa pun be...
