Namaku rayna.. aku duduk di kelas tiga SMA, aku sekolah di salah satu sekolah negri yang terkemuka di bandung.
Awal kisahku saat aku bertemu dengan seseorang yang mampu membuatku jatuh cinta. Di mulai sejak 2016 kita bertemu..
Kita memulai semuanya dengan indah, aku mulai menyayanginya sejak dua minggu kita kenal.
Ia adalah daffi, adik kelasku di salah satu smp yang ada di bandung.
Umur kita memang tak sebaya, namun rasanya aku sangat nyaman dengannya.
Aku menghabiskan waktu dan semua hal dengannya.
Bagiku dia laksana pangeran yang mampu membuatku bahagia saat itu,dia mampu menjagaku, dan membuatku lupa bahwa ia tak sepenuhnya milikku, ia membuatku percaya lagi akan kata cinta. Ia mampu meluluhkan hatiku yang sudah terlanjur membatu karena cinta di masalalu.
Ia pun mampu membuatku teguh akan suatu keinginanku yang di tentang banyak orang termasuk keluarga ku sendiri. Namun dengan sabarnya ia meyakinkanku, ia membuatku semangat bahkan dikala banyak orang menjauhiku karena aku berbeda ia berdiri di barisan paling depan untuk sekedar menguatkan dan memberikan semangat.
Btw kita kenal sejak SMP, kita satu sekolah, Dan kisah kita di mulai disana.
Aku mengenalnya lewat organisasi yang mampu menyatukan dua hal yang berbeda.
Ia pribadi yang sangat humble kepada siapapun, sedangkan aku sering di sebut dingin, galak, macan dll. Namun, baik ko hehe.
Aku seperti itu karena memang aku bergaul dengan banyak teman laki-laki, sahabatku pun salah satunya laki-laki.
Namun semenjak aku mengenal daffi, aku mulai menjauhi semua hal yang berhubungan dengan laki-laki. Termasuk dengan sahabatku, amir.
Disaat awal aku mengenalnya, daffi sudah memberiku dua pilihan.
Disaat sedang mengobrol tiba-tiba daffi bilang "pilih aku apa amir".
Hmm.. sebenarnya aku tidak bisa memilih antara keduanya, karena aku sama-sama menyayanginya, namun disaat itu yang terfikir hanyalah menyayangi seorang daffi saja.
Aku lantas menjawab "aku pilih abiib lah".
Ngomong-ngomong panggilanku ini memang aneh namun ada hal di balik itu yang memutuskan aku memanggilnya abiib. Sebetulnya bukan abiib sih, awalnya aku memanggilnya dengan sebutan habib lama kelamaan berubah deh jadi hanya abiib saja.
Aneh memang namun tak apa lah asal bahagia, saat itu kurang lebih pikirku seperti itu.
Di mataku daffi terlihat sempurna, tak ada sedikitpun celah untuk membuatku berpaling walau di luar banyak yang menginginkanku namun hatiku bertahan untuknya.
YOU ARE READING
Pupus
Short Story4 tahun menjalani hubungan bukanlah hal yang mudah, perjalanan yang penuh lika liku menghiasi setiap sudut ruang kenangan yang telah kita lalui. Rasanya mempertahankan sesuatu yang sudah tak lagi sama itu tak mudah. Menjalin hubungan tanpa restu, m...
