01 - Tentang perasaan.

4 1 0
                                        

Hai, selamat datang di cerita aku! Jadi ini cerita hasil dari imajinasi aku sendiri, yang nantinya bakal bener bener aku usahain buat menyajikan ke kalian dengan sebagus mungkin. Aku masih butuh saran, kritikan. Semisal ada bagian dari cerita aku yang mungkin kurang baik atau kurang mengenakkan, kalian bilang ya. Happy reading!☺️💗

**********

Disinilah Leonara Jovanka atau sering dipanggil Nara. Berdiri di ambang pintu kelas 11 IPS 3 sambil menenteng kotak bekal berisi sandwich. Bisa dikatakan bahwa saat ini Nara sedang melaksanakan rutinitas setiap pagi nya, mendatangi sang pujaan hati yang sudah ia dambakan sejak dua tahun lalu.

Devazka Bagaskara. Lelaki tampang dan berpawakan tinggi dengan dada yang bidang, menjadi alasan mengapa seorang Azka bisa menjadi most wanted di SMA Cakrawala.

Demikian juga dengan Nara, gadis berparas cantik, memiliki postur tubuh mungil dan sedikit pendek, serta memiliki kapasitas otak yang di atas rata rata. Oleh karena itu ia juga menjadi pentolan di SMA Cakrawala. Namun ada satu yang disayangkan, mengapa Nara mau repot-repot mengejar seseorang yang sudah jelas tidak menerimanya?

Oke, back to topic.

Setelah lima belas menit menunggu, akhirnya sang pujaan hati pun datang. Nara langsung mengubah mimik wajahnya dari yang lesu menjadi sumringah.

"Azka, akhirnya kamu dateng juga. Lama banget sih, pasti bangun kesiangan ya?"

Baru saja Azka dkk ingin memasuki kelas, sudah diberi sambutan oleh gadis yang entah sampai kapan akan terus mengejarnya.

"Widih, si eneng. Ga ada bosen bosennya apa ya? Tiap hari dicampakkin Azka, tetep ae nyamperin." Lontaran kalimat yang berasal dari Teo, sahabat Azka.

"Ngapain harus bosen? Toh gue emang suka ngelakuin ini,"

"Oh iya, Ka. Seperti biasa aku bawain kamu sandwich, dimakan ya calonku" Nara berucap sambil memberikan bekal yang dibawa kepada Azka.

Sudah bukan rahasia lagi bagi siswa di kalangan kelas 11, bahkan mereka sudah hafal bagaimana sifat Nara yang selalu mendekati Azka.

Mendapati pemberiannya tak kunjung diterima oleh lelaki dihadapannya, lantas Nara langsung menarik salah satu lengannya dan memberikan kotak bekal tersebut secara paksa.

Azka yang sudah terbiasa dengan perilaku Nara pun hanya diam serta memberi tatapan dingin, seperti enggan menanggapi. Namun tetap menerima bekal tersebut.

"Udah kan? minggir"

"Iya, udah kok. Aku balik ke kelas dulu ya, dadah"

Namun sebelum pergi, Nara menyempatkan mengarahkan jari telunjuk dan jari tengahnya ke bibir lalu menempelkan ke pipi Azka.

Sontak para siswa yang menyaksikan hal tersebut mulai bersorak, begitu juga dengan teman-teman Azka yang sudah melontarkan godaan.

Azka berdecak pelan, dan berujar
"Berisik." lalu ia melangkah memasuki kelas diikuti teman-temannya.

Kemudian beberapa detik selanjutnya terdengar bel, pertanda pelajaran akan segera dimulai.

Disisi lain, Nara berhenti disamping bangkunya sambil memegang lutut dengan nafas yang ngos-ngosan. Mungkin karena tadi ia berlari saat kembali dari kelasnya Azka. Apalagi jarak antara kelas 11 IPS 3 dan IPA 2 lumayan jauh.

Anda telah sampai ke penghujung bahagian yang diterbitkan.

⏰ Kemaskini terakhir: Jan 29, 2021 ⏰

Tambah cerita ini di Pustaka anda bagi pemberitahuan tentang bahagian baharu!

TAMARA Cerita yang buat anda obses. Terokai sekarang