Good Bye (HaliYa)

204 11 4
                                        

Warning! Halilintar x Yaya
Yang gak suka skip aja oke? Typo bertebaran cuk
.
.
.
(Good Bye)

.
.
Happy reading!

"𝘒𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘤𝘢𝘱𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢𝘵 𝘵𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭?"

.
.
.
.
.

Pagi yang cerah, seorang gadis tengah sibuk mengaduk adonan dalam mangkuk bermotif bunga sakura. Celemek merah muda nya terlihat sudah cukup kotor terkena tepung dan beberapa bahan lainnya.

"Pagi Yaya"

Sapa seorang pemuda yang baru saja turun dari tangga, kemudian berjalan menuju dapur.

"Pagi juga Hali" Yaya membalas sapaan si pemuda bersurai coklat. "Apa tidurmu nyenyak?"

"Begitulah" Ujarnya singkat. Sang pemilik iris ruby itu memandang heran pada si gadis, melihat apa yang sedang dikerjakannya hingga seserius itu. "Apa yang sedang kau buat?"

"Biskuit" Satu kata dangan tujuh huruf berhasil membuat raut wajah Halilintar berubah, bagaikan tersambar petir disiang bolong. Yaya menyadari perubahan raut wajah Halilintar, bertanya tanya ada apa gerangan. "Kenapa?"

"Kau akan membuat biskuit berperisa kertas pasir lagi?" Tanpa ragu, Hali bertanya tanpa rasa bersalah.

Yaya menghela napas, agak kesal biskuit nya dihina begitu. "Jangan ngaco, aku udah belajar cara bikin biskuit yang enak tau."

Hali terkekeh kecil, mengingat seminggu yang lalu gadis itu pergi menemui Taufan adiknya untuk konsultasi tentang bagaimana cara membuat makanan kering itu.

"Aa~ Aku baru ingat seminggu yang lalu kau bertemu Taufan"

"Nah kan ingat"

Hening sesaat, Yaya meletakkan adonan biskuit yang sudah dicetak kedalam oven. Mengatur suhu dan lamanya waktu memanggang.

"Ngomong ngomong, bagaimana kabar Taufan dan Gempa?"

Halilintat membuka suara, memecah keheningan sesaat diantara mereka. Yaya mengemasi barang barang yang ia gunakan tadi. "Mereka baik baik saja" Gadis itu berucap tanpa menoleh pada sang lawan bicara, "kenapa kau tidak datang langsung dan bertemu mereka?"

"Kau gila? Kalau mereka melihatku yang ada malah lari, lebih parahnya lagi manggil dukun" Hali berujar panjang, sesekali terkekeh di antara kalimatnya. Yaya tersenyum, Halilintar sudah cukup banyak berubah sejak hati 𝘪𝘵𝘶.

"Kau banyak berubah ya Hali, aku bertanya tanya kemana perginya Halilintar yang cool dan pendiam."

"Seiring berjalannya waktu, manusia pasti berubah, Yaya."

"𝘔𝘢𝘯𝘶𝘴𝘪𝘢, huh?"

Suara 'ting' menghentikan percakapan mereja, Yaya buru buru mengambil biskuit dari oven dan meletakkannya kedalam toples.

"Apa akan kau bagikan ke yang lain?" Hali kembali bertanya untuk yang kesekian kalinya.

"Tidak, akan kumakan sendiri" Gadis itu selesai dengan kegiatannya, berjalan ke arah meja makan diikuti Halilintar dari belakang. Yaya mencicipi biskuit buatannya, enak, rasa coklat nya tak terlalu kuat, rasanya pas. "Enak, kau mau Hali?"

"Jahat sekali, kau tau aku tak bisa makan makanan 𝘮𝘢𝘯𝘶𝘴𝘪𝘢 lagi, 'kan?" Hali sedikit cemberut, melihat gadis itu menikmati biskuit buatannya.

Our Story (Boboiboy one-shot)Stories to obsess over. Discover now