Previous Page of 3Next Page

PERNIKAHAN PARO WAKTU (PART-TIME MARRIAGE)

spinner.gif

Berjam-jam lamanya aku mengunci diri di kamar dan menangis sejadi-jadinya. Saking lamanya aku menangis sampai-sampai aku kecapean dan jatuh tertidur. Keesokan harinya, aku di bangunkan oleh suara ketukan di pintu kamarku.

 

‘Anna,,,ayo bangun!’

 

‘Aku masih ingin tidur sebentar lagi ma. Lagian hari ini kan hari minggu.’

 

‘Iya mama tau ini hari minggu. Tapi ada temenmu tuch yang datang. Ayo lekas bangun!’

 

‘Ha? Temen? Siapa?’ seruku sambil memegangi kedua mataku yang bengkak dan terasa perih

 

‘Alex sama pacarnya tuch... ayo cepat bangun dan mandi. Biar mama suruh temen-temenmu sarapan bareng mama dulu.’

 

Pacar? Ah mungkin maksud mama adalah Erna, pikirku. Memang walaupun Erna dulu sering main kerumahku, anehnya hanya satu kali saja dia pernah bertemu mamaku. Itulah sebabnya sekarang dia sulit mengenali sosok Erna yang baru.

 

Arrrrgghhhh....kenapa sich mesti hari ini mereka datang dan memamerkan hubungannya di depanku. Aku masih belum siappp. Lagipula aku harus bilang apa kalau ditanya soal mataku yang kelihatan merah dan bengkak. Ahhhh terserahlah. Aku sudah tak perduli lagi. Toh semuanya sudah berakhir bagiku. Jika ditanya ya aku jawab sekenanya aja.

 

Aku lekas-lekas mandi dan berdandan ala kadarnya. Tapi belum selesai aku menyisir rambutku tiba-tiba terdengar ketukan lagi.

 

‘Tunggu bentar ma... aku lagi sisiran.’

 

‘Ini aku Alex. Ada yang mau kubicarakan. Aku boleh masuk?’

 

Mendengar itu  sisir yang kupegang tiba-tiba terlepas dari tanganku. Aku panik dan ingin kabur rasanya. Tapi Alex terus-terusan mengetuk pintu kamarku hingga aku mau tidak mau terpaksa membukakan pintu.

 

‘Ah lama banget buka pintunya. Kamu lagi nga... lho mata kamu kenapa? Kamu... menangis? Kenapa?’ Serunya sambil menyentuh mataku yang bengkak dengan lembut

 

Ingin menangis rasanya. Aku pun menggigit bibirku kuat-kuat untuk menahan air mataku keluar.

 

‘I...ni tangisan ba...hagiiiaa merayakan kembalinya Erna.’ Jawabku membohonginya.

 

‘O ya? Sebenarnya aku ke sini untuk menyampaikan kalau aku sudah baikan dengan Erna tadi malam dan memutuskan pacaran lagi seperti dulu. Aku tidak mau kamu terkejut jadi aku memberitahumu dulu.’ Cerocosnya riang

 

Melihatnya seperti itu, aku tak tahan lagi. Tangisku tiba-tiba pecah. Alex yang melihatku jadi bingung seraya berkata, ‘ Oh Anna jika begini terus matamu bisa sakit. Tunggu bentar biar ku kompres dulu matamu biar bengkaknya berkurang.’

 

Setelah itu dia segera mengambil handuk kecil dari lemariku dan segayung air dari kamar mandi kamarku. Perlahan-lahan dia mengompres mataku sambil tersenyum memandangku.

 

‘Kamu kelihatan lucu hehehe... kamu alien ya? Jelek banget.’ Ledeknya sambil meneruskan mengompres mataku.

 

‘Jangan menangis lagi An... aku paling benci melihatmu menangis. Kalau kau menangis aku pasti merasa aku penyebabnya.’

 

Aku mengangguk dan berkata, ‘Memang kau penyebabnya!’

 

‘Aku? Salah...apa aku An?’ tanyanya dengan raut muka terkejut

 

Aku terdiam sejenak sambil terus memandangi pria yang tidak akan mungkin aku miliki ini. Rasa sayang seketika membuncah dari dalam diriku... Ironis benar, sedemikian sakitnya pun aku karena dia tapi ajaibnya hatiku masih saja menyayanginya. Benar-benar tidak adil.

 

‘Akuuuu.... bercanda.’

 

‘Huh dasar. Hampir saja aku kena serangan jantung gara-gara kau...’ serunya sambil beranjak ingin membuang air sisa kompresan ke kamar mandi. Namun sebelum sempat dia pergi, aku memegang erat bagian belakang kemejanya. Dia pun berbalik memandangku. Perlahan aku mendekatinya dan menaruh kepalaku di dadanya. Tak terasa air mataku menetes kembali.

 

‘Kau tetap sahabatku kan Lex? Tidak ada yang berubah kan diantara kita?’

 

‘Gadis bodoh. Tentu saja tidak ada yang berubah. Aku jamin itu.’ janjinya sambil melingkarkan tangannya dan memelukku

 

Namun janji hanya tinggal janji. Alex makin lama makin jarang bisa di temui, kalaupun bertemu pasti selalu di dampingi oleh Erna. Alhasil, aku malah jadi merasa seperti rumput pengganggu saja di tengah-tengah asmara mereka yang berbunga-bunga. Pernah saking jarangnya bisa bertemu Alex, aku pun mencoba menghubunginya lewat telepon berharap bisa mengobati kerinduaanku dengan mendengar suaranya. Sayangnya, jawabannya selalu ‘nanti aku telpon lagi ya’.

Previous Page of 3Next Page

Comments & Reviews (28)

Login or Facebook Sign in with Twitter


library_icon_grey.png Add share_icon_grey.png Share

Who's Reading

Recommended