Dengan gila nya laki-laki itu mempertemukan matanya dengan mata pisau yang tajam itu yang mengakibatkan darah keluar dari bola mata laki-laki itu.
" Sial ! dasar bodoh " !! Ujar Aldrich.
" Bawa dia keruang pemulihan " suruh Aldrich pada seorang pengawal yang ada di sampingnya.
Tak lama, setelah itu Aldrich memasukkan tangannya kedalam jas, sepertinya dia sedang mengambil sesuatu.
" Al ... Aldrich ? A-apa yang ... Apa yang kau lakukan "?? Tanya ku gugup bukan tanpa alasan, Bagaimana tidak aku bertanya dengan nada seperti itu !? Aldrich menodongkan mocong Desert eagle nya pada ku. Refleks akupun mengangkat kedua tanganku.
____________________________________
" Akh ... sayang ! maaf membuat mu takut, bisakah kau menggeser tubuhmu lima langkah ke kanan " !? Tanya Aldrich. Aku yang masih merasa gugup pun hanya bisa menuruti permintaan laki-laki itu.
Satu.
DOOR ... !!
Dua.
DOOR ... !!
Tiga.
DOOR ... !!
Empat.
DOOR ... !!
Lima.
DOOR ... !!
Setelah aku menggeser tubuhku satu langkah, suara tembakan terdengar. Ketika langkah ke lima aku langsung menoleh kebelakang. Lima pria jatuh di atas lantai yang kotor ini. Disekitar mereka dikelilingi oleh darah yang terus menyebar.
Aku tak menyangka, Aldrich melakukan hal itu. Sebenarnya siapa Aldrich ? Kenapa sekarang aku melihatnya seperti bukan Aldrich !? Aldrich memang kejam dan irit berbicara, tapi aku tak menyangka dia akan menghilangkan nyawa seseorang dengan begitu mudahnya.
" Bakar mayat mereka semua " !! Perintah Aldrich. Dia kemudian berjalan kearah ku, memeluk pinggangku dan menggiringku keluar dari ruangan itu.
Aldrich membawaku masuk kedalam mobil yang sudah terparkir didepan toko matrial itu.
" Aldrich ! kenapa kau menembak kelima pria itu " !? Tanya Ku.
" Penghianat " ! Jawab Aldrich singkat.
Pantas saja mereka ditembak. Oh sekarang aku mengerti, laki-laki itu memberi tahu Aldrich bahwa diantara pengawalnya terdapat seorang penghianat.
Tak lama mobil yang kami tunggangi berhenti tepat di sebuah gedung pencakar langit. Saat aku ingin bertanya pada Aldrich, ternyata laki-laki itu sudah keluar dari dalam mobil.
Aku mengikuti Aldrich dari belakang. Dia sedikit bebricara pada Receptionis yang berada di balik meja yang mengelilinginya. Setelah itu Aldrich berjalan kearah Lift.
Menekan angka 70. Lift pun bergerak naik.
Ting ...
Pintu lift terbuka dan kamipun keluar. Aldrich berjalan menuju ujung lorong. Aneh !
Saat kami masuk, Aldrich mulai menanggalkan pakaiannya. Tepat di lengan kemaja berwarna putihnya terdapat bercak darah.
" Aldrich kenapa tak ada kamar selain kamar ini " !? Tanyaku. Aku duduk di tepi ranjang.
Ya selama aku menyusuri lorong ini, memang tak ada pintu kamar selain yang berada di ujung. Yaitu kamar ini.
" Karena aku sengaja membuatnya seperti itu " Kata Aldrich.
Oh ternyata hotel ini milik Aldrich !?
" Kenapa " !?
" Jangan banyak bertanya ! lebih baik kau mandi " Suruh Aldrich.
" Aku tak membawa pakaian "
" Sudah kusiapkan di lemari " Kata Aldrich, setelah dia Shirtless, Aldrich malah berjalan kearah meja kerja dan mulai begulat dengan laptopnya.
Kulangkahkan kakiku menuju kamar mandi. Setelah seharian berjalan-jalan mengunjungi tempat-tempat yang menurutku aneh, akhirnya aku bisa menyegarkan diriku.
Setelah menanggalkan semua pakaianku, segera aku celupkan tubuhku pada bathup. Ya tuhan ... rasanya sangat menyegarkan ! tubuhku sangat nyaman.
Setelah dirasa sudah cukup lama aku berendam, akhirnya aku keluar dari bathup. Kuedarkan pandanganku keseluruh penjuru kamar mandi ini.
Sial ! Bagaimana ini bisa terjadi ? Bagaimana aku keluar ?
Yap ! di kamar mandi ini tak ada handuk atau semacamnya untuk menutupi tubuhku.
Dengan berat hati, aku berjalan kearah pintu. Membuka pintu sedikit dan menjembulkan kepalaku.
" Al " !! Panggilku.
" Aldrich " !! Panggil ku lagi meniakkan satu oktaf suaraku.
Laki-laki itu tetap fokus pada laptopnya.
" ALDRICH " !! Teriakku. Dia sepertinya tekejut, terlihat saat aku berteriak tadi badan bagian belakang Aldrich sedikit terguncang. Aldrich membalikkan badannya menghadapku.
" Ada apa " !? Tanya Aldrich. Kurasa dia kesal ? Entahlah.
" Ambilkan pakaianku " Perintahku pada Aldrich. Laki-laki mendekat, setelah berada di depanku, dia menaikkan salah satu alisnya.
" Kau menyuruhku " !? Tanya Aldrich.
" Oh ayolah ... Di kamar mandi tak ada handuk ! tolong ambilkan pakaianku " Ujar Ku sedikit lembut dari sebelumnya.
" Malas ! ambil sendiri " Kata Aldrich. Dia pun mulai menyibukkan dirinya lagi pada laptopnya.
Ya tuhan ! laki-laki macam apa dia ? Sekarang bagaimana Aubrey ? Kau akan terjebak dikamar mandi sampai besok ? Oh tidak ! aku pasti akan mati kedingin jika itu terjadi.
Tidak ada cara lain ! Aku harus mengambil pakaianku sendiri. Ini gila ! sangat gila !!
Aku mulai membuka pintu kamar mandi itu dengan kakiku. Ya karena kedua tanganku sudah memiliki kesibukan sendiri. Tangan kananku bertigas untuk menutupi kedua buah dadaku sedangkan tanan kiri ku. Hm ... Kalian tentu tahu ! menutupi bagian inti tubuhku.
Aku memelankan langkahku karena aku tak ingin Aldrich menyadari bahwa aku keluar dari kamar mandi dengan keadaan telanjang.
Jarak dari kamar mandi menuju walk in closet cukup jauh. Sekarang aku bati menyadari ternyata memiliki kamar yang luas sangat merepotkan.
Selama perjalananku, aku sesekali menengok kearah Aldrich takut- takut dia menoleh kebelakang. Setelah sampai, aku mulai membuka lembari itu.
Dengan secepat kilah kuraih bra dan celana dalam ku asal. Setelah itu aku mulai membuka lemari kedua, itu berisikan pakaian dan dres dres yang berjejer rapih.
Saat sedang memilih-milih pakaian, tiba-tiba ada sebuah tangan kekar yang melingkar di perutku. Melilitnya dan dapat kurasakan hembusan nafas seseorang di tengkuk ku.
Sial !
Dia pasti tak akan membiarkan ku lepas kali ini !!
" Kau menggoda ku, sayang ? "
Aku tak menjawab. Kegugupanku seketika menghilangkan semua kosa kata yang ku kuasai.
" Bagaimana kalau kita melanjutkan yang waktu itu !? " Tanya Aldrich. Ya laki-laki itu yang melakukannya.
Dia melingkarkan tangannya dan membuat pundak ku menjadi sandaran dagunya.
" Aku akan memulai " Ucap Aldrich. Sejurus dengan itu, aku bisa merasakan sesuatu yang kenyal, lembab, dan basah menyentuh tengkukku. Sesekali benda itu menjalar ke pundakku.
Aku yang masih diam hanya bisa mengigir bibir bawahku. Semoga suara menjijikan itu tidak keluar.
Aldrich membalikkan badanku, dia menggeser tubuhku agar terhimpit di atara tubuhnya dan pintu walk in closet.
Bibir sialan itu telah membungkam bibirku. Aldrich terus berusaha untuk memasukan lidahnya kedalam rongga mulutku. Aku yang masih sadar pun terus berusaha agar lidah Aldrich tidak sampai masuk.
Dan seketika tubuhku menjadi panas. Aku benar-benar menikmati permain yang dibuat Aldrich. Gila !
Entah dari kapan, tanganku sudah melingkar di leher Aldrich. Tangan Aldrich mulai bermain, semula yang hanya diam tangannya mulai menjalar keseluruh tubuhku.
____________________________________
Holaa ...
Balik lagi nih 😁 Double up guys .. 😉
Sorry ya di part ini sedikit bangeett 😀 Aku tuh belum bisa bikin part" yang kya gini 😁😂
Jadi sekali lagi maaf ya 😆
Sampai ketemu di chap selanjutnya .....