Di pagi hari ini vano yang dari tadi bolak-balik dari kamar mandi. Dia merasakan sakit di perut nya, kemaren malem juga dia merasakan seperti ini. Apalagi muka dia sampai pucat sekali, vania yang melihat suaminya seperti bersalah banget sama suaminya itu. Karna dia suaminya jadi seperti ini.
"kakak gak kenapa kan, atau aku panggil dokter" Tanya vania sambil melihat suaminya yang tiduran lagi di ranjang setelah keluar dari kamar mandi.
"gak kenapa kok sayang" jawab vano lemas
"yaudah kakak istirahat aja, aku mau ke bawah untuk bikinin bubur buat kakak" balas vania
Setelah vania keluar dari kamar, dia lansgung menuju dapur yang dimana sudah ada bibi tini yang sedang menyiapkan sarapan buat majikannya.
"pagi bi" sapa vania
"pagi juga non, muka non kenapa kok di tekuk gituh" jawab bibi tini
"iya bi, aku berasa salah sama ka vano, gara-gara aku dia jadi bolak balik ke kamar mandi" ucap vania yang matanya mulai berlinang air matanya.
"makanya itu aku ke sini ingin bikinin dia bubur bi" lanjutan vania
"yaudah saya aja non yang bikinin buur nya" tawar bibi tini
"gak usah bi, mending bibi ngerjain yang lain aja" tolak vania
"oh yaudah, kalau itu kemauan non. Bibi permisi ingin ke belakang rumah dulu" ucap bibi tini
"iya bi" ucap vania
Setelah bibi tini sudah keluar dari dapur, vania mulai memasak bubur buat suaminya. Beberapa menit kemudian,akhirnya bubur bikinan vania sudah selesai dan dia juga sudah menaro di dalem sebuah mangkok.
Lalu dia beranjak dari dapur sambil membawa nampan yang berisi semangkok bubur dan air gelas minum untuk kakak vano menuju kamarnya.
Ceklek
Saat vania sudah membuka pintu kamar, lalu vania menaro nampan di atas nakas dan membangunkan suaminya.
"kak, bangun dulu yuk" ucap vania sambil menepuk lengan tangan suaminya
"hhhmmm" deheman vano
"ayuk bangun dulu, aku sudah bikin bubur buat kakak" ucap vania
"engghh, iya sayang" ucap vano serak khas bangun tidur dan bangun dari tidurnya menjadi duduk
"mau aku suapin atau makan sendiri" tawar vania sambil pegang semangkok bubur ayam
"suapin sayang" ucap vano sambil membuka mulutnya yang siap buat di masukin buburnya.
Setelah bubur yang di makan suaminya sudah habis, lalu dia menyuruh suaminya untuk istirahat. Dan di sinilah vania yang sudah membawa atau mencuci mangkok bekas makan suaminya ke dapur, dia mengambil handphone dan menelfon seseorang untuk menyuruh ke sini.
15 menit kemudian....
Ting nong ting nong......
Vania yang mendengarkan suara bel pintu nya berbunyi dia langsung berjalan menuju pintu rumah, biasanya yang membuka pintu itu pembantunya tapi bibi tini sedang sibuk dengan kerjaan nya.
"eh dokter, ayuk langsung aja ke kamar" ucap vania sambil membuka pintu dan mempersilahkan dia untuk masuk ke rumah dan berjalan menuju kamar dia.
Lalu dokter itu lagi sedang memeriksa suaminya, dan dia hanya memperhatikan saja. Setelah itu alat yang tadi di keluarkan oleh dokter untuk memeriksa suainya di masukkan kembali ke tasnya.
"dia gak kenapa kan dokter" Tanya vania
"dia tidak apa-apa kok nyonya, ini saya kasih resep obat yang nyonya menembus obat di apotek supaya suami nyonya bisa pulih kembali." Ucap dokter itu yang bernama alvian sambil memberi kertas yang berisi resep obat untuk suaminya
"iya terimaaksih dokter" ucap vania
"kalau gituh saya permisi nyonya" ucap dokter alvian
Ia tidak mengantarkan dokter sampai luar rumah, dia harus menjaga suaminya itu. Vania yang melihat suaminya seperti gini dia bersalah bangat sama dia. Dia juga sudah tau kalau suaminya tidak suka dengan makan pedas tapi karena paksaan dari vania, dia menuruti kemauan dia.Vania sebelum itu dia juga sudah menyuruh supir nya dia untuk membeli obat di apotik terdekat dari rumahnya.
"maafin hiks hiks aku karena egois aku hiks hiks kakak jadi gini" ucap vania sambil mengeluarkan air mata sampai jatuh ke tangan suaminya.
Vano yang sedang tidur saat sudah di periksa oleh dokter pribadi keluarga dia. Lalu dia melanjutkan tidur kembali karna dia dai semalem tidak bisa buat tidur yang dimana harus bolak balik ke kamar mandi.
saat vano sedang tidur pulas, tiba-tiba dia merasakan ada yang basah di tangan dia. Vano pun membuka matanya dan melihat kalau basah di tangan itu berasal dari air mata istrinya.
"jangan nangis sayang, kamu gak salah kok" ucap vano sambil menghapuskan air mata vania
"tapi kalau kemaren aku gak suruh kakak buat makan rujak yang pedas itu kakak gak hiks hiks bakl sakit seperti ini" ucap vania
"sudah ya jangan nangis lagi, nanti kaishan anak kita kalau melihat mommy nya nangis gini" ucap vano sambil peluk vania. Bukannya berhenti nangis tapi vania malah tambah kejar nangis di saat di pelukkan suaminya.
--------
Ia tak pernah ingin istrinya merasa bersalah karna dia menjadi seperti ini. Dia juga melakukan karena kemauan dari jabang bayi yang ada di perut vania. Sekrang vano sudah agak baikkan setelah minum obat yang di berikan oleh istrinya.
Vano yang saat ini sedang mencari keberadaan istrinya ternyata dia ada di balkon rumahnya yang sedang melihat keindahan di malam hari.
Sementara vania yang sedang berdiri dekat pagar balkon kamarnya, tiba-tiba saja ada tangan seseorang yang peluk dia dari belakang. Vania juga sudah tau kalau aroma ini dari tubuh suaminya.
"lagi ngapain sayang" ucap serak dari vano yang sambil mengendus di leher vania
"hhmm, lagi ngeliatin pemandangan di saat malam hari " jawab vania
"tapi gak bagus loh buat ibu hamil" ucap vano
"iya ka, aku tau kok. Sebenatar lagi aku bakal masuk ke kamar" ucap vania
"kakak sudah baikkan? Apa masih bolak balik ke kamar mandi" Tanya vania yang begitu bertubi tubi sampai vano yang mendengarkan hanya diem dan pusing untuk menjawab pertanyaan dari istrinya.
"sudah kok sayang" ucap vano sambil membalikkan tubuh vania untuk berhadap ke badan dia
"sayang suatu saat nanti kalau ada yang menghancurkan hubungan kita, kamu harus selalu percaya sama aku bahwa aku sangat mencintaimu" ucap vano
"kakak kenapa kok ngomongnya seperti gituh, emang siapa yang ingin menghancurkan kita?" jawab vania yang bingung
"gak apa-apa kok, ini cuman firasat aku aja " ucap vano
"yaudah mending kita masuk aja yuk, gak bagus buat bumil" ucap vano lagi
Vania tidak mau mengambil pusing apa yang di bicarakan oleh suaminya, dia selalu percaya kepada suaminya kalau dia sangat mencintai dan tak pernah meninggalkan dia dnegan anak yang ada di dalem perut vania. Lalu vania hanya membalas dengan anggukan kepala saat vano mengajak dia ke dalem kamar. Karna tidak bagus untuk kesehatan ibu hamil.
Setelah itu vania lansgung tidur duluan yang sambil peluk tubuh suaminya. Semenjak dia hamil, dia tidak mau terpisah dengan suaminya. Apalagi vania menyuruh ka vano tidak usah memakai baju karna dia suka vano yang bertelanjang dada.
Vano yang tadinya ingin menolak, tapi dia berpikir kembali dan tidak mau vania menangis kembali.
"sayang sehat terus ya di dalem sini, jangan nyusahin mommy kamu" ucap vano sambil mengelus perut vania
"daddy sangat sayang kamu, dan daddy ingin kamu cepat hadir di kehidupan mommy maupun daddy" ucap vano lagi sambil membuka baju vania sampai perut lalu dia mencium perut vania yang sudah mulai benjolan. Saat ini usia kandungan vania sudah 10 minggu.
Setelah itu vano langsung menutupin kembali kaos vania, dan di beralih ekapada wajah cantik istrinya yang sedang tidur pulas.
"selamat tidur my wife vano" ucap vano sambil mencium kening vania dan mengelus rambut istri tercintanya.
Lalu vano menarik selimut sampai batas dada tubuh mereka, dan mereka pun tertidur dengan posisi vano yang memeluk vania dan kaki vano ada di atas kaki vania.