Ditulis oleh: Ainul
Judul: Todokanai Koi (Cinta yang Tak Tercapai)
.
.
.
.
Felin menatap Zafran dari gedung A. Ia sangat mengagumi Zafran. Zafran sudah cerdas, rajin ibadah, fleksibel dan tampan. Zafran benar-benar tipe Felin. Dan tanpa Zafran ketahui sebenarnya kalau Felin selalu mengikutinya sejak SMP. Bahkan Zafran tidak mengenal Felin.
Sepulang sekolah hujan turun begitu deras. Sesekali Felin menggosok telapak tangannya agar ia dapat kehangatan. Felin menatap arloji ditangannnya ternyata sudah jam 6. Sudah hampir malam.
"Duh hujan makin deras. Gimana caranya pulang? Papa pasti khawatir," ujar seseorang tiba-tiba di belakang Felin. Felin pun menoleh ke arah orang itu. Dan dia Zafran. Orang yang Felin kagumi.
Tidak ada pembicaraan diantara mereka. Hening. Hingga deringan ponsel yang memecahkan keheningan mereka. Dan ponsel itu milik Zafran. Tidak ada suara kemudian. Felin menganggap berarti itu hanya pesan singkat.
Felin kembali menatap arloji ditangannya dan ternyata sudah pukul 6.30. Ia pun memutuskan untuk pulang lewat supir online. Tidak mungkin ia memesan ojek online.
Ia sebenarnya ingin masih lama-lama, tapi Zafran sudah pergi duluan. Entah Zafran kemana. Karena ketika Felin berbalik Zafran sudah tidak ada. Mungkin Zafran sedang shalat Maghrib. Felin tidak ikut shalat karena ia libur. Felin segera memesan supir online dan tidak lama supir online itu datang.
"Assalamu'alaikum Ma, Felin pulang," ujar Felin ketika sampai dirumah. Mama Felin yang berada di ruang tv pun menjawab salam Felin. Lalu Mama Felin berkata "Elin, ganti pakaianmu nak, lalu kesini. Ada yang mama omongin.," Felin mengangguk patuh.
"Mama mau ngomong apa?" tanya Felin setelah ia mengganti pakaiannya.
"Kamu sudah besar ya Felin. Mama masih merasa kamu masih ada digendongan Mama,"ujar Mama Felin tersenyum.
"Tentu saja Felin sudah besar Ma. Felin harus cepat besar agar Mama bisa senang," ujar Felin.
"Begini sayang, rencananya Mama mau nikah Mama menikah dengan Papa kandungmu."
"Gak papa Ma. Malah lebih bagus lagi, Felin benar-benar tidak masalah. Malahan Felin senang," ujar Felin senang.
Ya Felin lahir tanpa seorang ayah. Karena 'kecelakaan' setelah di wisuda, tidak berapa lama lahirlah Felin. Saat itu Mama Felin tidak tau kalau ia hamil. Lagipula Mama Felin tidak memiliki kerabat. Dan Mama Felin tidak ingin memberitahu Papa kandung Felin saat itu karena Papa kandung Felin dijodohkan dengan seseorang yang sedang mengandung.
Keluarga perempuan itu tidak ingin menanggung malu maka Papa Felin yang merupakan satu-satunya anak laki-laki di keluarga maka Papa Felin lah yang di korbankan. Mama Felin yang mendengarnya pun memilih jalan untuk tidak memberitahukan tentang Felin. Hingga beberapa bulan lalu Mama Felin bertemu dengan Papa Felin di suatu tempat.
Ternyata pernikahan Papa Felin tidak berlangsung lama karena perempuan itu memutuskan untuk bercerai dan meninggalkan anaknya pada Papa Felin. Dan Mama Felin juga menceritakan tentang Felin pada Papa Felin. Dan disaat itu juga Papa Felin melamar Mama Felin. Tapi Mama Felin tidak mau jika ia di nikahi karena Felin.
Tapi alasannya Papa Felin bukan karena Felin saja, tentu karena Papa Felin masih sangat mencintai Mama Felin. Perlu beberapa lama Papa Felin meyakinkan Mama Felin. Hingga Mama Felin memutuskan semuanya tergantung pada anak mereka.
"Terimakasih sayang. Kata Papamu dia ingin bertemu denganmu. Jadi, kita harus bersiap-siap,"ujar Mama Felin. Dengan semangat 45 Felin mengangguk dan segera berlari menuju kamarnya. Hingga akhirnya butuh waktu 1 jam mereka sampai tempat mereka akan bertemu.
"Maaf telat," ujar Mama Felin ketika mereka sudah duduk di kursi makan.
Felin menaikkan wajahnya menatap kedua orang yang berada didepannya. Satunya terlihat seseorang yang berkepala 4 dan seorang pemuda yang sedikit lebih tua darinya. Tapi Felin tau siapa pemuda itu. Dia Zafran. Orang yang dikagumi Felin.
"Tidak papa, kami juga baru sampai," ujar pria baya itu. "Tidak kusangka kamu jauh lebih cantik dari bayanganku Felin," ujar pria baya itu lagi.
"Maaf, selama ini Papa tidak bersamamu. Papa tidak tau kam-"
"Maaf Pa, Felin memotong pembicaraan Papa. Felin tidak mau Papa sedih. Felin baik-baik saja. Malahan sekarang jauh lebih baik-baik saja karena Papa sama Mama mau menikah," potong Felin.
Papa Felin tersenyum lalu berkata, "Oiya ini yang nanti jadi kakak tirimu namanya Zafran. Zafran ini Felin yang akan jadi adik tirimu. Papa harap kalian bisa akur."
Felin tersenyum melihat Zafran. Lalu Zafran menepuk tangannya lalu berkata, " Aku Zafran . Aku masih kelas 3 SMA di SMAN 3."
"SMAN 3? Wah sama. Aku juga di SMAN 3 tapi masih kelas 2. Oiya aku Felin,"ujar Felin dengan sedikit berbohong. Tidak mungkin Felin tidak mengetahui kalau mereka sebenarnya satu sekolah.
" Wih bagus tuh kalian satu sekolah. Jadi nanti kalian tinggal berangkat bareng,"ujar Mama Felin.
"Beres Ma. Eh,"ujar Zafran lalu menutup mulutnya. Ia kecoplosan memanggil Mama Felin Ma.
"Tidak papa Zafran. Kalau boleh Mama Panggilnya Zaza aja ya?" kata Mama Felin. Zafran yang mendengarnya terkejut melihatnya. Raut wajahnya tidak terbaca. Entah antara setuju atau tidak.
Namun tidak lama setetes air mata Zafran turun dari matanya. Zafran menangis. Tapi Zafran langsung menghapusnya.
"Tidak masalah. Sangat tidak masalah," ujar Zafran sambil geleng kepala. Felin menatap Zafran begitu mengerti dengan keadaan Zafran. Kebetulan di meja makan ada tissu, Felin pun segera memberikan Zafran tissue itu.
"Kak jangan nangis. Cowok nangis itu gak keren. Nanti gak ada cewek yang mau sama kakak. Kalau gak ada nanti kakak jadi perjaka tua," hibur Felin.
***
Satu bulan telah berlalu. Papa dan Mama Felin sudah menjadi sepasang suami istri sejak 1 minggu lalu. Hubungan mereka sudah semakin baik. Zafran dan Felin juga semakin akrab.
Seperti sekarang ini Zafran dan Felin sedang mengerjakan PR bersama di ruang kelas Felin.
"Rumus mencari luas segitiga trigonometri itu ½ dikali a kali b kali sin c. Oke," gumam Felin.
"Eh kok hasil gak ada di pilihan sih? Soalnya salah nih, berarti ini soal bonus. Oke," ujar Felin.
Zafran yang merasa aneh pun mengintip tugas Felin. "Bukan soal bonus. Ada yang salah. Periksa ulang," ujar Zafran.
"Gak ada yang salah dengan jawaban aku," kata Felin. Zafran menyipitkan matanya.
"Kalo ada kamu mau kasih kakak apa?"
"Ih gak ada yang salah. Kalo ada salah nanti Felin traktir makan di warung Pak Somad sampai kakak puas," ujar Felin yakin.
"Oke bakso Pak Somad sampai puas. Ini 26 dibagi 2 kok hasilnya 11 sih?" tanya Zafran.
"Lah emang 26 di bagi 2 hasilnya sebel eh tiga belas yang benar," ujar Felin langsung mengganti jawabannya.
"Ingat ya warung bakso Pak Somad. Kakak tunggu traktirannya," ujar Zafran. "Ye kak, Felin masih anak kecil. Uang jajan Felin gak cukup beliin bakso di warung Pak Somad. Ikhlasin aja ya kak, dapat pahala ka," ujar Felin.
"Kamu duluan janjiin kakak. Intinya makan di warung Pak Somad sepuasnya. Janji adalah janji. Dan kamu harus menetepatinya," ujar Zafran.
Felin menghela nafas. Terpaksa gak aktif di sosmed nih, batin Felin.
***
"Baksonya 2 mbak," pesan Zafran. Felin hanya diam di meja makan. Dia membayangkan kalau dia tidak akan aktif di media sosial.
"Kenapa lesu? Gak ikhlasi nih traktir kakak?" goda Zafran.
"Eh gak kok kak. Ikhlas kok." ujar Felin.
"Ini pesanannya, selamat menikmati," ujar pelayan dan tidak lama kemudia mereka makan.
Dan saat yang di khawatirkan Felin pun tiba. Kini Felin harus membayarnya.
"Berapa semua pak?" tanya Zafran di kasir.
"Semuanya 50 ribu dek," jawab kasir itu. "Tuh dek 50 ribu, buruan bayar dek,"ujar Zafran.
Felin pun menyerahkan uangnya pada kasir dan mereka pun pulang. Habislah sudah uangnya untuk membeli kuota.
Gak jadi download drakor lagi nih, batinnya.
***
Di hari Minggu Felin bersama keluarganya sedang piknik di pantai. Zafran dan Papa Felin sudah berada di laut. Mamanya dan Felin menyiapkan makanan.
Felin tidak menikmatinya. Felin bosan. Ia tidak bisa berenang karena haid. Tinggallah ia menonton drakor di laptop. Tidak ada yang bisa ia lakukan selain itu.
"Aish, Felin nonton aja gak seru ih," kata Zafran. "Dia datang kak," kata Felin. Zafran menghela nafas berat.
Zafran pun meninggalkan Felin dan menuju ke Mamanya. Papanya pun ikut naik dan menghampiri Mamanya. Felin tidak memerdulikan itu. Ia hanya serius menonton drakor di laptopnya.
"Happy birthday to you. Happy birthday to you" Felin menoleh kearah sumber suara ternyata mereka telah membuat surprise untuk Felin.
Mereka membawa sebuah kue yang terlihat angka 16 di atasnya. Felin baru menyadari, hari ini adalah ulang tahunnya. Ia lupa hari ulang tahunnya.
"Happy birthday sayang. Gak terasa kamu sudah 16 tahun," ujar Papa Felin.
"Happy birthday my sister. Udah makin tua. Nih kado buat kamu. Maaf ya kalau kakak belum bisa menjadi kakak yang baik. Tapi kakak akan berusaha karena aku menyayangimu. Sangat menyayangimu," ujar Zafran.
Felin baru menyadari sesuatu. Sejak kapan perasaan ini berubah? Dan kenapa Felin merasa jauh lebih senang ketimbang bertemu dengan Zafran, walau tak sengaja.
Karena hubungan mereka sebagai saudaralah yang membuat perasaan Felin berubah. Felin merasa baik-baik saja.
Meskipun ia tidak mendapat kasih sayang dalam artian lawan jenis. Setidaknya Zafran menyayanginya sebagai saudara. Walaupun sakit, tapi jauh lebih baik daripada tidak dianggap sama sekali.
Zafran, Umae wa todokanai koi. (Kamu adalah cinta yang tak tecapai)