When there [is] Hope (COMPLET...

By ssianidha

1.8M 42.2K 390

COMPLETE// - Keyla's Story ::::::::::::: Sekarang tujuan Keyla hanya satu... Membahagiakan orang yang telah p... More

Prolog
1- First
2- Ketemu lagi
3- Ini
4- Malam
5- Bayangan
6- Elf
7- Blood
8- Hospital
9- Tertarik?
10- Lunch
11- Come
12- Explanation
13- Benci? Cinta?
14- Picture
15- Flashback
16 - Pertunangan
17- Ledakan
18- Orphanage
19- Forget
20- Am I wrong?
21- Feeling
22- Wound [1]
23- Wound [2]
24- Remember
25- De ja Vu
26- If Only I Could
27- Pain
28- Enought
29- As it is
30- Ego
31- Sisi yang tak terlihat
32- Kenapa?
33- Threēty Threë
34- Thrēety Föur
35- Outburst
36- Thrēety Sïx
37- Thrēety Sevën
38- Thrēety Ëight
39- Hide and Seek
40- Sindiran Halus
41- Perangainya
42- Fōurty Twö
43- Not have Anything
44- Never End
45- My World
46- Kebersamaan
47- Not True
49- Pastcode
50- Persecond
EPILOG
Special.Fm

48- Keputusan

19.9K 476 11
By ssianidha

Kejadian-kejadian beberapa hari yang lalu seperti kilasan abstrak yang datang bagaikan palu. Memukul-mukul dada Keyla yang kini sesak. Bahkan tiap kali kepalanya terasa pusing, kulitnya yang pucat dengan bintik-bintik hitam bekas dari perawatan nya yang tiap kali di suntikkan darah agar kedua hemoglobin dalam dirinya seimbang membuat keadaanya kali ini nampak menyedihkan.

Berusaha menahan tangis, perlahan tangan nya yang digenggam erat Elang ia lepaskan.

Elang nampak terkejut begitu menyadari sikap Keyla yang tidak seperti biasanya. Apa yang telah ia lakukan hingga mampu membuat Elf–nya yang manis berubah defensif saat disentuhnya?

Ini bukan Keyla yang dikenal Elang setahun lalu. Bukan..

"Maaf Lang..." Keyla menunduk, lebih memilih memandang kedua tangannya yang saling bertaut daripada menatap mata penuh kekecewaan yang dipancarkan Elang kali ini.

"Maaf.."

"Elf.."

Sekeras apa pun Keyla bertahan, air matanya tetap saja meluncur. Membasahi pipi pucatnya, menggoreskan luka dihati Elang ketika melihat wajah berantakkan dan penuh penderitaan tunangan nya ini sekarang.

"Maaf kan aku.." Keyla menangis. Terisak dengan tatapan perih.

Elang menggelengkan kepalanya, menolak permintaan maaf Keyla. Bukan ini yang ingin didengarnya, bukan.. Sama sekali bukan,

"Lang.—"

"Pleasse Elf, jangan.. Pleasse," Elang terus menggeleng, tidak menerima dengan apa yang akan dilakukan Keyla selanjutnya.

Seperti tak mendengar permohonan nanar dari seorang Elang yang bahkan sampai kesakittan dan merintih. Keyla tetap ingin melakukan nya, melakukan perbuatan yang seharusnya ia lakukan dari semenjak dulu.

Yaitu dengan melepas cincin ikatan ini dari jari manis tangan kanannya. Elang tentu saja menolak tegas, ia melarang Keyla memutuskan begitu saja ikatan mereka berdua. Tapi kemantapan dan kondisi Keyla saat ini, sungguh tak bisa memungkinkan Keyla terus bertahan. Mempertahankan Elang agar tetap berada di sisinya.

Tidak.

Tidak.

Keyla tidak mau membatasi pergerakkan Elang setelah kepergian nya.

Ia tidak mau.

Ini terlalu menyakitinya.

Menyakiti jiwa dan raganya.

Juga perasaannya.

Elang seperti di paksa untuk melihat bagaimana kesakittan ajal yang tengah menerjang seseorang saat ketika Keyla kini melepas cincin dari jari manisnya.

Dengan air mata dikedua mata, Keyla menunjukkan cincin yang mengikat keduanya dengan senyuman pedih dan keterlukaan sama. Elang entah kenapa mendadak hampa begitu melihat benda kecil itu dipegang, tak lagi terpasang di tempat yang seharusnya.

"Dengan ini... aku membebaskan Elang Firmansyah dari segala keterkaitannya denganku. Aku ingin melihat Elang berbahagia bersama orang lain selain aku."

Senyuman getir Keyla diakhir sesi bicara, membuat kedua tatapan Elang kosong. Dia tak tau harus berekspresi apa dengan kejutan yang mendadak datang bagai kiamat dalam hidupnya.

::::::::::::::

Di waktu yang sama, Gio memegang tangan kanan Vanya yang terbebas dari selang infus.

Kondisi wanitanya kali ini sungguh sangat menghkawatirkan. Kemungkinan-kemungkinan terburuk akan segera datang, dan Gio takut. Dia sangat takut bila kejadian dia ditinggalkan lagi oleh Vanya terjadi untuk ketiga kalinya.

Tidak. Gio tidak mau. Gio mencintai Vanya dari semenjak dulu. Dari awal mereka bertemu di saat MOS, dari awal mereka berpacaran hingga terpisah, dari awal mereka kembali lagi bertemu di kantor Gio waktu itu hingga lagi-lagi terpisah di kediaman perempuan ini.

Apakah Tuhan akan sekejam itu hingga memisah kan mereka berdua lagi? Tanpa sadar, sedikit tetesan air mata keluar dari pelupuk mata Gio. Melihat keadaan wanitanya yang tengah terbujur lemah dengan alat bantu pernapasan, siapa yang tidak miris melihatnya?

Gio merindukkan godaan dan candaan Vanya tiap kali perempuan itu bertemu dengannya. Ia merindukkan keharmonisan sosok hangat Vanya.

Tuhan, kalau boleh... Gio rela menukar nyawa demi kekasih yang sangat ia cintainya ini. Gio tidak ingin kehilangan Vanya. Ya Tuhan...

"Gio.." Sentuhan lembut di pundak pria itu, menolehkan kepalanya.

Sosok hangat seorang wanita paruh baya di belakang, membuat Gio tersadar atas keterpurukkan nya kali ini. "Dokter menyuruh kita keluar."

"Aku tidak mau." Gio menolak, tegas pada Ibu tiri Vanya yang bernama—Hellen itu. Tidak mau beranjak sedikit pun dari sisi kekasihnya.

"Biarkan Vanya sendiri. Jika dia melihat keadaan mu sekarang. Vanya pasti akan ikut merasakan sakitnya juga."

Gio sebelumnya ingin menolak lagi, tapi mengingat ini sudah habis dari jam besuk. Pria itu dengan langkah berat keluar dari ruangan hijau ini.

Keadaan parahnya tadi di UGD telah dilakukan perawatan intensif di ICU. Beberapa dokter tengah bekerja keras mencari pendonor, sudah tidak ada lagi waktu yang tersisa.

Gio masih menatap jendela tempat Vanya bisa terlihat tengah terlelap dengan bantuan banyak peralatan di dalam sana. Seketika hatinya kembali teriris.

"Vanya.." Dia bergumam, memanggil penuh perasaan sosok yang sudah mencuri hatinya itu dari sekian lama.

Anggi yang sekembali dari ruang rawat temannya, memutuskan untuk menjenguk Vanya, namun keadaan membuat nya harus meringis menahan luka dan desakkan air mata ketika melihat Vanya terbaring tidak berdaya. Saat matanya tak sengaja menangkap sorot terluka kakaknya, ia ikut merasakan sakit nya.

Kakaknya kali ini nampak menderita, menderita bukan hanya sekedar fisik, tapi raga juga jiwanya tersakiti dan itu semua karena sosok seorang Vanya. Perempuan yang tidak sekalipun terhapus dari hati seorang Gio selama ini.

Bebarengan dengan itu, Elang baru saja keluar dari ruangan rawat tunangan nya yang sudah menjadi mantan nya sekarang. Keputusan sepihak Keyla membuat hatinya terluka hingga lapisan yang terdalam.

Tapi bukan nya menampaki wajah kesedihannya, wajah Elang malah tidak berekspresi sama sekali. Hanya melihat dua bersaudara itu dalam diam dan memilih pergi saat seorang dokter wanita mendatangi Hellen dan juga Gio yang masih setia berdiri memandang tubuh lemah Vanya disebrang sana.

"Maaf. Nyonya Hellen. Bisakah kita bicara?" Wanita yang dikenal sebagai dokter Anna itu, membuat Hellen menoleh.

"Ya?"

"Mari. Kita bicarakan di ruangan ku."

Kening Hellen nampak mengernyit. Tak memahami apa yang dimaksud dokter muda itu. Mengusir segala kemungkinan terburuk, Hellen memutuskan mengikuti dokter Anna setelah sebelumnya menitipkan anak tirinya itu pada Gio.

Kedua wanita itu pergi. Anggi memberanikan diri untuk mendekati kakaknya.

"Kak?"

Gio bergeming.

Anggi menghela nafas dan menyentuh pundak Kakaknya, perlahan tangan nya terselip dan memeluk lengan kekar Gio. Berusaha menyalurkan kekuatan pada sosok Kakaknya tersebut seraya meringis saat menyadari telapak tangan Gio nampak terasa sangat dingin.

Gio ketakutan.

Dia gelisah.

Kembali Anggi mengetatkan pelukkan nya. Mengabaikan keterpakuan Kakaknya dengan menyembunyikan wajah di sana, mengeluarkan isak tangis pelan.

"Kak Gio.." Panggil nya parau. Sakit melihat Gio mengabaikan nya dan lebih memilih menonton tubuh tak berdaya Vanya di dalam sana.

::::::::::::::::

Di ruangan nya, dokter Anna tidak sendiri. Ada sosok perempuan berkursi roda tengah menatapnya dengan senyuman tipis, salah satu perawat yang dikenal nya bernama Emi pun setia berada di belakang perempuan tersebut.

"Kenapa ya dok?" Hellen bertanya, was-was dengan perempuan berkursi roda. Dia seperti merasakan de ja vu.

Kursi roda dan permintaan Irma..

Ada apa dengan situasi nya kali ini?

"Selamat sore, Tante Hellen." Perempuan berkursi roda itu tak disangka yang kini bicara, mengagetkan Hellen di tempatnya. Bagaimana bisa perempuan itu mengenalnya? Apakah keduanya pernah bertemu sebelumnya? Sepertinya belum.

Seperti tau apa yang di pikiran Hellen, perempuan tersebut tersenyum ramah. "Perkenalkan namaku Keyla Endreas. Salah satu teman baik anak anda, Vanyalera."

Hellen makin melipat dahi, tidak mengerti arah pembicaraan Keyla.

"Maaf sebelumnya," Keyla bersuara kembali, tenang. "Saya yang sebenarnya menyuruh anda kemari untuk membicarakan satu hal penting dengan anda, Nyonya."

Hellen terdiam, melirik dokter Anna yang kini mengangguk lembut dengan wajah yang sulit bisa diartikan.

Perawat Emi mengambilkan sebuah map plastik pada Keyla yang segera Keyla terima. Perempuan itu mencoret sejenak lampiran kertas di sana dan mulai menunjukkan map itu pada Hellen.

"Tolong tanda tangan. Anda lah salah satu yang bisa menjadi saksi di sini."

Hellen sejenak memperhatikan Keyla heran dan mulai membaca surat didalam map yang disodorkan. Matanya seketika membulat saat isi di dalamnya menuliskan sesuatu yang mengejutkan.

Mulutnya sontak menganga, refleks menutupnya dengan satu tangan. Matanya otomatis menatap tak percaya pada seseorang bernama Keyla tak jauh darinya. Nanar dan juga... senang?

"Anda tidak merasa perlu berterima kasih tentang hal sepele ini denganku." Keyla tersenyum penuh pengertian, menampakkan putih pucat wajah nya yang nampak begitu letih dan juga lelah tersebut. Tetapi entah kenapa, senyum di bibirnya, tak menunjukkan bahwa sosok Keyla menyesal telah mengambil keputusan.

"Nyonya boleh berterima kasih, setelah Kak Vanya siuman nanti." Sambung nya, tersenyum lembut.

***
TBC

















@ssianidha

Continue Reading

You'll Also Like

4.5K 296 35
Kirana - cewek pintar, logis, dan terkenal sebagai "Love Consultant" sejak SMA. Tapi hidupnya jungkir balik sejak satu fitnah di masa sekolah menghan...
71.5K 928 18
[18+] Sebuah kumpulan novelet berisi 5 kisah cinta sederhana: Telanjur Nyaman; Commuter Line; Gulali Rasa Jingga; Dua Puluh Dua, Kala Itu; dan Kembal...
159K 2.5K 7
#PutraTheSeries #TrioTamvanGendengTheSeries Senyum bahagia seorang Bara Angkasa langsung lenyap saat dirinya menemukan sang kekasih yang ingin dilama...
60.4K 5.5K 43
#romance_story Menceritakan tentang seorang wanita bernama Qirani Tanisha yang mempunyai kehidupan tak mudah untuk dijalani. Dia terkenal sebagai sos...
Wattpad App - Unlock exclusive features