Vanya membuka pintu apartemen miliknya , menatap tersenyum pada sosok pria yang ditunggunya sudah lebih dari satu jam lamanya akhirnya muncul juga.
Pria itu tak bicara hanya memandangnya dingin dan masuk tanpa sekalipun repot-repot membalas senyuman perempuan cantik ini. Vanya yang melihat sikap nya, tersenyum wajar—menutup pintu dan mulai menyusul sang pria masuk kedalam ruang Tv.
Pria itu duduk disofa dengan kaki terangkat, menyandarkan tubuhnya disana dan mengeluarkan ponsel dalam kantung jaketnya. "Jadi, mau bicara apa?"
Vanya yang sejenak terpaku memperhatikan gaya pria itu yang entah kenapa makin membuatnya terkesima, jatuh berdeham gugup. "Itu..." Perempuan ini membeo. "...mau aku buatin minuman dulu gak yo? Kopi?"
"Gue gak mau lama-lama disini. Cepet ngomong,"
Vanya tersenyum kecut. Mengambil tempat duduk bersebrangan dengan pria itu. Ekspresi nya terlihat sebal , tapi dia lebih memilih menurut. Sejenak perempuan itu memperhatikan nya, membuat kepala pria itu terangkat dari posisinya yang tadi menunduk memandang ponsel.
Mengangkat satu alisnya heran, menyadari keterdiaman Vanya yang tidak seperti biasanya.
"Apa kamu masih cinta padaku Al?"
Prolog yang menjurus kepernyataan membuat pria itu sedikit berdecak. Kenapa harus ini lagi yang dibahas?
"Aku butuh kepastian Al. Aku ini cewek, bukan nya cenayang." Sebenarnya Vanya berniat bercanda , tapi sungguh—itu sangat tidak lucu.
"Cinta gue sama lo udah gak ada. Hilang gak berbekas. Dibawa pergi sama lo pas itu, lupa?"
"Aku minta maaf Al."
"Telat. Udah lebih dari tiga tahun Van, dan lo baru minta maaf sekarang? Dari dulu pas gue jatuh , bahkan buat makan pun gak minat, lo kemana aja? Dihubungin pun susah. Lo hilang bagai di telan bumi. Gak meninggalkan sedikit pun clue dan hanya kata 'kita putus' lewat pesan ponsel yang lo kirimin waktu itu ke gue. Dan pergi gitu aja setelahnya. Apa gak keterlaluan itu namanya?"
Rasanya Vanya ingin sekali menangis, berlari memeluk pria itu dengan semua kerinduan yang amat menggebu-gebu dalam dirinya. Sungguh, ini bukan keinginan Vanya yang sesungguhnya.
Ia mecintai pria itu setulus hatinya, hanya saja dia bingung harus melakukan bagaimana. Di satu sisi, dia tak ingin membebani pria yang ia cintai ini untuk mengatur segalanya—ikut menderita bersama dirinya, di sisi lain dia harus memperhatikan orang lain yang jelas-jelas lebih membutuhkan nya.
Terpikir untuk membuat pria ini—Algio agar benci padanya dan dirinya bisa tenang untuk tidak lagi memberikan harapan manis namun palsu pada Gio. Tetapi, dia tak menyangka. Di benci oleh orang yang amat dia kasihi ini ternyata semenyakitkan ini.
Bahkan rasanya yang dulu dia suka seenaknya memeluk Gio dimana pun saja bagai candu dan pria itu tak pernah berkomentar bahkan membalasnya dengan sayang. Kini harus meminta ijin terlebih dahulu kalau tidak mau terkena damprat dan pelototan.
Senyuman manis dan menggoda Gio yang biasanya muncul bila ada dihadapan nya, kini menjadi senyuman enggan, dan pandangan dingin, sarat dengan kebencian yang Vanya tanamkan sendiri.
Vanya sakit. Hatinya sakit. Bahkan obat pun tak bisa menyembuhkan, seperti bagaimana hidupnya selama tiga tahun ini. Itulah yang Vanya rasakan saat prediksi itu keluar.
Dia sakit. Dia hancur.
"Maaf." Hanya kata itu yang dapat keluar dari mulut kecil Vanya membuka. Dia berusaha keras untuk tidak lemah dan menangis dihadapan Gio. Dia tidak mau dikasihani oleh Gio nantinya, walau dia pun tidak tau apa yang akan Gio lakukan saat dia menangis.
Vanya lebih memilih menguatkan hatinya, dan mencoba bersikap biasa.
"Lo nyuruh gue dateng kemari, tengah malem begini dan cuman pengen ngomongin hal-hal konyol barusan?" Gio bertanya tak habis pikir, menatap Vanya yang kini menunduk melamun.
"Bukan." Vanya spontan menggeleng. "Aku mau kasih tau sesuatu sama kamu. Sebentar ," perempuan itu bangkit dari duduknya dan melangkah kedalam kamarnya.
Gio sedikit heran begitu Vanya kembali muncul dengan sekotak kayu bercat hitam persegi panjang dikedua tangan. Ukuran nya kecil, seperti tempat-tempat penyimpanan perhiasan.
"Apa ini?"
Vanya tersenyum. "Kotak kita."
Kening Gio mengernyit. Sikap Vanya sudah tidak lagi seagresif sebelumnya. Tadinya Gio selalu menghindari perempuan ini bila bertemu, tapi anehnya sekarang dia sudah tidak lagi peduli.
Gio tidak terganggu dengan ekspresi wajah Vanya yang selalu memandang nya dengan senyuman aneh yang bisa dikatakan senyuman seorang cowok yang sedang berotak dibawah perut.
Mungkin Gio menikmatinya? Entahlah... Gio tidak mau terlalu mendramatisir dan berakhir mempermalukan dirinya sendiri. Dia hanya merasa janggal saja, Vanya tidak pernah seagrsif itu saat mereka dulu pacaran.
"Sejak kapan kotak ini dinamain kita ?"
"Lupa ya? Dulu kita pernah buat surat dan dimasukkan kedalam sini." Vanya menjelaskan dengan ekspresi ceria. "Aku mau kita buat surat lagi yang isinya tentang masa depan."
"Childish." Gio mencibir yang hanya dianggap angin lalu oleh Vanya. Perempuan itu menyeringai, menatap Gio.
"Kamu keberatan yo?" Perempuan itu tersenyum miring. "Atau memang kamu terlalu takut buat jujur didalam surat? Takut aku membacanya ya? Oh! Apakah masa depan mu itu hidup bahagia bersama ku?"
Gio mendengus. "Your a dream. Will never!"
Bukan ekspresi sakit hati atau apa yang ditunjukkan Vanya. Perempuan itu malah tertawa geli, mengulurkan selembar kertas cream pada Gio beserta pulpennya yang diterima pria itu dengan enggan.
"Kalo gitu tulis! Ku pastiin gak bakal kebaca. Kita akan menguburnya di belakang sekolah lagi kayak waktu itu."
"Lo pikir gue mau jadi kayak orang idiot malem-malem ke sekolah? Kita ini udah tua, bukan anak kecil lagi yang bikin surat lalu dimasukkin ke dalam kotak dan dikubur kedalam tanah. Ini kehidupan nyata, bukannya film sinetron drama yang bikin orang mewek-mewek gak jelas."
Vanya kembali tertawa. "Berarti dulu kita ini norak banget ya?"
Gio kembali mendengus. Lagi. Perempuan ini mengingatkan nya pada masa lalu indah yang dulu pernah Gio rasakan dengan dirinya yang menjadi seorang ratu didalam hatinya.
Bodoh sekali.
Gio akui, karena dulu ia dibutakan cinta. Hal-hal aneh seperti ini ia lakukan. Entah lah, rasaya asik saja saat dirimu melakukan hal konyol bersama orang yang kau cintai.
"Kita gak perlu ngikutin sinetron lagi deh," Vanya mulai menulis sesuatu dalam kertasnya, bicara tanpa menoleh kearah Gio. "Gak perlu pakai kotak terus dikubur ke dalam tanah kayak waktu itu. Kita bisa pakai botol dan melemparnya ke danau."
"Malem-malem mau ke danau?" Gio bertanya sedikit mencibir "emang nya di film-film gak ada adegan lempar botol di danau."
Vanya hanya terkekeh.
Perempuan itu tidak berubah banyak. Itulah yang dipikiran Gio saat ini ketika mendapati sosok kalem Vanya yang tengah fokus dengan suratnya.
Perempuan itu masih terlihat mempesona saat perhatian nya kini tersita akan ke suatu yang sedang ia lakukan. Tampang seriusnya dan helai rambut panjang nya yang jatuh natural disekitar pipinya, menambah nilai plus wajah cantiknya.
Baru kali ini Gio dapat memperhatikan Vanya lama. Sebelumnya, tidak hanya melihat, melirik pun dia malah jatuh tak nyaman karena pandangan Vanya selalu tak lepas dari sosoknya.
Dan harus Gio akui , dia masih memiliki setitik perasaan pada perempuan ini. Tidak-tidak ..sepertinya lebih. Ego memutuskan nya untuk menampik semua kejanggalan aneh yang hendak mengoyak hatinya saat ini. Terlalu dini bila dia menyimpulkan sesuatu yang dianggapnya telah mati kini hidup lagi. Gio tidak menginginkan nya. Bahkan sedikit saja, tidak.
"Lo udah Yo?" Vanya bertanya setelah ia selesai menulis suratnya. Perempuan itu tengah melipat surat yang dibuatnya , dan memandang Gio yang sedari tadi diam memantung tanpa melakukan apa-apa selain hanya memperhatikannya tadi.
Gio seakan lupa daratan ketika perhatiannya tersita pada sosok cantik perempuan tersebut.
"Udah." Dustanya ikut melipat kertas yang sebenarnya kosong, karena memang Gio tak menuliskan apa pun didalamnya.
Vanya meraih botol plastik kecil, yang tadinya ia gunakan untuk menaruh tangkai bunga di atas nakas.
Ia menaruh suratnya disana , bersamaan dengan surat Gio. Rasanya makin aneh saat senyuman Vanya terukir begitu melihat perempuan itu sedang menutup botolnya.
Ada sesuatu yang tak dimengerti Gio. Tapi dia tidak tau apa.
"Sekarang , ayo kita lempar ke danau." Vanya menunjukkan senyuman selebar bahunya. Tanpa sekalipun menolak , pada akhirnya Gio ikut saja saat ia digiring menuju taman didepan gedung apartemen Vanya.
Hari kini makin larut, bahkan jarum jam sudah menunjukkan angka satu lewat. Seperti tidak merasakan apa-apa, Vanya berlari kecil kearah danau buatan cukup dalam ditengah-tengah taman. Kalau dirumah mu tidak ada air, kau bisa menceburkan diri kemari dan anggap saja ini kolam renang. Kira-kira sebesar itu lah ukuran lebar danau nya.
Dengan berbekal jaket tipis, Vanya berdiri tepat didepan danau dengan Gio yang menyusul dibelakang nya.
"Surat kamu udah di doain kan yo? Mau langsung lempar aja atau gimana?"
Gio tak peduli. "Up to you."
Vanya nyengir kuda , dan mulai mengambil ancang-ancang melemparnya. Suara decakkan air muncrat dengan sukses dan gelombang pusat jatuhnya sang botol mulai bergerak perlahan-lahan ke bibir danau dan hilang.
Vanya memperhatikkan nya sedetik dan menghela nafas lega ketika gelombang itu tak lagi dilihatnya.
"Udah?" Gio bertanya, kembali bersikap biasa. Dingin dan tak mudah didekati oleh seorang Vanya.
Vanya terkekeh mengangguk. "Sorry ya, aku ngelakuin hal konyol kek gini. Malem-malem lagi."
Gio hanya diam saja. Sudah saatnya dia pulang, ia tak ingin kembali terlibat ke dalam hal-hal kekanak-kanakkan ini lagi. Sudah cukup untuk kali ini. Dia menurut saja karena memang dia sedang malas berdebat dengan Vanya. Gio tidak ingin menetapkan kegiatan nya sekarang menjadi membekas. Makanya dia berusaha tidak peduli saja.
Semua yang dilakukan Vanya semuanya aneh. Dan Gio tak ingin ikut jadi aneh karena terlalu dekat dengan perempuan yang sudah jadi mantannya ini. Dia sudah jadi orang aneh, tiga tahun yang lalu. Sekarang tidak lagi.
"Algio .." Panggilan lirih Vanya terdengar saat keduanya kini melangakah dengan Gio didepan dan Vanya dibelakang nya menuju bassement. "Pulang?"
Gio melirik , menatapnya aneh. "Menurut lo?"
Vanya nyengir. "Gak mau nginep aja? Sekali-kali kita begadang sampai pagi , gimana?"
Godaan Vanya sedikit membuat Gio melotot. Perempuan ini tidak lagi sama, dia berubah. Bodohnya Gio menganggap Vanya masih sama seperti yang dulu tadinya. Gio mungkin terlalu berharap akan kehadiran Vanyanya yang dulu.
What? Dia mikir apa barusan??
"Oh iya. Hampir lupa," Vanya menyahut kembali. "Mulai besok aku gak lagi tinggal di sini. Aku mau ke Thailand , dan mungkin...aku akan menetap di sana,"
Gerakkan Gio yang hendak membuka handle pintu mobilnya, berhenti seketika begitu mendengar pemberitahuan yang entah kenapa menceloskan tiba-tiba hatinya.
"Lalu?" Entah apa yang membuat Gio berubah lebih dingin berkali-kali lipat dari sebelumnya. Mendengar tiap-tiap kata yang telah dicernanya bulat-bulat membuat ekspresi pria itu mengeras tanpa sebab.
Vanya terkekeh. "Ku pikir kamu akan menahan ku pergi gitu, hehe, ternyata enggak ya? Haahh..realita emang tak seindah fiksi ya?"
"Kalo mau realita lo indah. Kenapa gak sekalian masuk aja kedunia dongeng?" Gio marah. Dia membuka kasar pintu kemudi dan mendudukkan diri disana. Dia mengambil seatbelt dan memasang asal ke tubuhnya.
"Kalo bisa, aku mau masuk sama kamu." Vanya nyengir, menunduk mengedipkan mata kearah Gio. "Mau kah kau tinggal di dunia dongeng bersama ku, wahai belahan jiwaku?"
Rasanya sungguh amat mengganggu ketika kembali mendengar kalimat agresif Vanya kepadanya. Dia bukan lagi seorang Vanyanya yang polos. Dia adalah orang lain. Orang lain yang dibenci Gio setengah mati dan lebih memilih tak terlibat lebih dalam ke urusan kehidupannya orang lain ini.
Tanpa berkata-kata, Gio menarik kopling dan menginjak pedal dibawah kakinya. Mobil bergerak cepat meninggalkan Vanya yanh tengah berdiri memantung ditempatnya berada.
Hanya senyuman menggoda yang perlahan menjadi miris saat mobil itu kemudian tidak terlihat lagi didepan mata.
Ini lebih dari cukup.
***
TBC
Wuaaahh... Full adegan Gio–Vanya nih. Wkwk, aneh gak sih? Gue jadi nyengar-nyengir gak jelas baca nih chapter ampe dua kali. Kenapa hayati menulis adegan gak jelas gini?? *plak
@ssianidha