When there [is] Hope (COMPLET...

By ssianidha

1.8M 42.2K 390

COMPLETE// - Keyla's Story ::::::::::::: Sekarang tujuan Keyla hanya satu... Membahagiakan orang yang telah p... More

Prolog
1- First
2- Ketemu lagi
3- Ini
4- Malam
5- Bayangan
6- Elf
7- Blood
8- Hospital
9- Tertarik?
10- Lunch
11- Come
13- Benci? Cinta?
14- Picture
15- Flashback
16 - Pertunangan
17- Ledakan
18- Orphanage
19- Forget
20- Am I wrong?
21- Feeling
22- Wound [1]
23- Wound [2]
24- Remember
25- De ja Vu
26- If Only I Could
27- Pain
28- Enought
29- As it is
30- Ego
31- Sisi yang tak terlihat
32- Kenapa?
33- Threēty Threë
34- Thrēety Föur
35- Outburst
36- Thrēety Sïx
37- Thrēety Sevën
38- Thrēety Ëight
39- Hide and Seek
40- Sindiran Halus
41- Perangainya
42- Fōurty Twö
43- Not have Anything
44- Never End
45- My World
46- Kebersamaan
47- Not True
48- Keputusan
49- Pastcode
50- Persecond
EPILOG
Special.Fm

12- Explanation

28.1K 721 0
By ssianidha

Kembali dari acara makan siang tadi bersama Keyla—yang tak sengaja bertemu dipedagang bakso pinggir jalan. Gio sontak membuka pintu ruangannya tanpa sekalipun tertarik melirik kesekitar.

Langkah kaki gaduhnya membuat alis Anggi terangkat heran. "Kenapa lo?"

Jantung Gio hampir saja copot saat suara tanya dan keberadaan Anggi mengejutkan dirinya saat ini.

Anggi yang melihat itu menurunkan ponsel yang sedari tadi dimainkan nya dan mencibir.

"Biasa aja kali , lo pikir gue hantu?"

Gio menghela napas kasar setelah dapat menetralisirkan pompa jantungnya kembali normal. "Anggi ...bisa gak sih kalo masuk ruangan orang , ketuk dulu. Kalo gue punya penyakit jantung terus ko'it ditempat gimana?"

"Kubur." Celetuk Anggi lugas membuat Gio melotot. "Gue udah di sini dari tadi tau. Lo nya gak ada." Rengut perempuan itu kemudian. "Lo abis dari mana?"

Gio menghela nafas dan duduk dikursinya. Bersandar disana. "Makan."

"Heehh...sama siapa? Temen kencan lo?"

"Kalo boleh dianggep temen kencan juga gak papa."

Mata Anggi menyipit , memperhatikan Gio. "Kenapa tampang lo? Jelek amat."

"Enak aja!"

Perempuan itu terkekeh. Membuat Gio makin dongkol. Ingat pembicaraan tadi siang bersama Keyla? Perempuan itu bertanya hal-hal yang diluar dari skenario Gio. Tentu saja. Sebagai seorang pria , Gio tak mungkin bisa menceritakan detailnya karena itu dia menjawab setengah-setengah.

"Apa sakit? Kok banyak pasangan yang suka banget gitu-gituan?" Itu salah satu pertanyaan yang diajukan Keyla pada Gio tadi.

"Kalo mau tau , kenapa gak nyobain aja sama pacar lo? Mumpung kalian berdua entar tunangan , kawin dulu sebelum nikah kan bisa."

Kening Keyla mengkerut. "Bedanya kawin sama nikah tuh apa?"

Itu dia. Gio jadi sebal mendengar pertanyaan penasaran dan tampang polos Keyla yang entah sejak kapan menjadi sangat menyebalkan.

"Kalo nikah tuh di KUA sedangkan kawin tuh di kamar." Gio menjawab asal yang langsung kembali mengerutkan kening Keyla makin dalam.

"Gitu...?"

Gio menyeruput es tehnya hingga tandas dan mengiyakan spontan.

Keyla masih sedikit bingung hingga entah sadar atau tidak , rona wajah Keyla kini terbit setelah dimenit-menit terakhir bakso yang dipesan Gio habis. Gio yang melihatnya tentu saja heran.

"Kenapa Key?"

Keyla kaget. "Hah? Enggak."

"Muka lo merah."

"Mana? Ini kepedesan."

"Kalo kepedesan mah dibibir bukan di pipi."

"Bakso gue pedes. Coba aja."

Saat itu Gio tau benar kalau Keyla sama sekali tak berniat memakan bakso dan makanan malang itu menjadi kambing hitam atas kesadaran nya yang lola alias loading lama.

Gio baru tau lagi sifat Keyla hari ini. Berpikir kritis dan agak menyebalkan.

Padahal Gio yang melihat sifat datar perempuan itu saja sudah membuatnya dongkol. Ditambah sifat menyebalkannya. Perempuan itu tak sesuai bayangan Gio sebelumnya.

Yeah...walaupun soal menyebalkan Keyla belum tentu demikian. Buktinya Elang sepertinya baik-baik saja dengan perempuan itu.

Selera mereka memang jauh berbeda. Sangat.

"Kak Gio? Lo ngelamun."

Gio tersadar menatap Anggi yang menatapnya balik dengan alis terangkat. Mengingat kembali kejadian tadi siang membuat wajah kesal Gio kini tercetak di mimiknya sekarang.

"Lo ngomong apa soal gue pada Keyla? dari mana Keyla tau gue playboy?"

Anggi menatap Gio kaget dan langsung berdeham—membuang tatapan secepat kilat. "Gak tau deh , eh! Lihat! Pemandangan luarnya bagus banget dari sini!!!"

Oke. Anggi mulai mengalihkan topik pembicaraan.

Jangan salah. Gio berhak kesal karena akibat lemes nya mulut adiknya yang selalu saja memang memberitahu pada semua wanita yang didekati Gio bahwa dirinya playboy sudah pria ini jalani selama lebih lima tahun.

Dilain sisi, Anggi sangat tertutup. Di sisi lain , sifat comelnya memang menyebalkan. Sebelas duabelas sama Keyla. Karena hal itu pula Keyla jadi lebih berani bertanya hal-hal sarkas seperti tadi. Anggi pasti cerita juga tentang seberapa pengalamannya Gio dengan perempuan. Gak heran bila Keyla nanya hal macem-macem.

Hanya saja sikap marah Gio padanya teredam mengingat Anggi ini adik mungil satu-satunya yang dia miliki , dia jadi gak tega marah lama-lama dengan nya.

"Lo marahan sama Keyla gak?" Wajah Gio kini berubah penasaran yang hanya ditatapi bingung adiknya.

"Apa? Enggak. Kenapa?"

Ternyata simpulan Gio tadi salah besar. Anggi dan Keyla tidak marahan , dan masih menjadi teman bukan musuh bebuyutan. Gio agak sedikit kecewa mendengarnya.

"Tadi gue makan bareng Keyla , deket-deket sini."

"Apa??!! Dimana? Makan apa?? Kok bisa??? Ada Elang nya juga?" Anggi dengan heboh bertanya.

"Kagak." Gio memutar mata jengah. "Gue makan berdua sama dia. Hanya berdua."

Iris coklat Anggi langsung menyipit , menatap tajam Gio dengan aura intimidasi kuat. "Lo makan berdua sama Keyla? Impossible."

"Lo pikir aja sendiri." Gio benar-benar bosan main urat melulu dengan adiknya. Serius.

"Gimana ceritanya?"

Gio berdecak. "Gak sengaja ketemu." Pria itu terdiam dan sejenak mengingat sesuatu. "Oh iya , katanya elo ada kuliah siang ini. Kenapa lo bisa diruangan gue sekarang?"

"Cuman absen doang tadi. Gak ada dosennya. Dari pada gue bosen dirumah yaa..gue kemari. Tau nya lo ngilang."

Gio tak menjawab. Ia lebih memilih mengambil beberapa pekerjaannya yang masih belum ia selesaikan.

"Kak Gio. Lo dapet undangan nya gak pagi tadi?"

Gerakan Gio terhenti dan seketika dia teringat atas kesimpulan nya sebelumnya. Kepalanya mendongak , matanya kini menatap lurus-lurus sosok Anggi yang sedang mulai membuka undangan yang didapatnya.

Wajahnya tak menunjukkan kekesalan atau apapun saat perempuan sedang patah hati. Wajah itu terlalu biasa dan tak mencurigakan. Membuat Gio diam-diam cemas.

"Anggi ..." Gio memanggil pelan.

Perempuan itu tak meliriknya hanya fokus pada undangan yang dipegangnya. "Apa?"

Gio terdiam sebelum bicara. "Lo gak papa?"

Pertanyaan klise.

Tiga kata yang biasanya sering kali Anggi ucapkan pada Keyla tiap kali perempuan itu kelelahan dan selalu dijawab dengan kalimat 'gue baik-baik aja' , karena itu Anggi mengutip jawaban Keyla sebagai ganti jawaban atas pertanyaan Gio barusan.

"Gue baik-baik aja."

Gio tak percaya. "Lo gak berantem sama Keyla? Cewek itu kan tau kalau elo suka Elang."

Anggi kaget , "hah? Keyla cerita emang nya?"

"Enggak. Lebih tepatnya gue yang nanya pas lunch bareng di Caffe waktu itu. Lo sama Elang kan lagi nyingkir."

Anggi tak merespon. Perempuan itu memegang kepala meringis. Kenapa bisa jadi serumit ini?

Melihat itu , Gio salah paham menganggap adiknya sekarang sakit hati atas tingkah sahabatnya. "Nggi... Gue bilangin ya , lebih baik lo cepet-cepet kasih tau perasaan lo sama Elang deh. Kalo gini terus yang ada lo sakit sendiri."

Anggi menatap kakaknya bingung. "Bilangin apa?"

"Tentang perasaan lo padanya."

"Iih ogah."

"Lho ..kok ogah?"

Anggi tak langsung menjawab. "Gue ama dia kan cuman temen biasa. Kalo gue bilang suka sama dia , kemungkinan gue diketawain , dia gak bakal percaya dan nganggep pengakuan gue troll."

"Lo mikirnya terlalu dramatis banget."

Anggi menggeleng perlahan. "Lagipula nih ya... Gue gak mau jadi pengganggu diantara mereka. Mereka saling suka dan gue gak berhak masuk ke dalamnya."

Gio berdecak tak habis pikir menatap adiknya. "Lo terlalu baik hati Nggi. Gak masalah kan cuman ngungkapin doang. Gak dosa. Terima—enggak nya perasaan lo , biar Elang yang nentuin pilihan nya jatuh kemana—"

"Dia bakal tetep milih Keyla."

"Siapa yang tau?"

"Gue tau." Anggi menghela napas pelan , "dan gue gak mau kemungkinan terburuk gue ditolak. Selama ini hubungan gue sama dia baik-baik aja. Gue gak mau malah jadi canggung saat gue putusin buat ngungkapin perasaan gue sama dia."

"Anggi... Lo gak mesti mikir kesana-sana kan? Coba pikir diri lo sendiri dulu. Lo suka kan sama dia?"

Anggi terdiam , menatap kakaknya kembali menggeleng. "Gue gak mau nyakitin Keyla."

"Tapi Keyla nyakitin elo." Geram Gio mulai marah.

Anggi diam.

"Lo pikir gue gak tau seberapa sakitnya elo ngeliat mereka selalu bersama? Lo pasti tiap kali ada alasan nya pas diajak makan bareng sama mereka kan? Dan alasan terbaiknya adalah karena elo sebal sama Elang. Dan lo ogah kalo deket-deket sama dia. Keliatan jelas kalo lo manfaatin kesebelan lo itu buat menghindari mereka duduk di meja yang sama."

Anggi masih diam tak merespon. Membuat Gio gemas. "Gue kakak lo Nggi. Gue tau gimana sakitnya perasaan lo. Meskipun lo gak pernah bilang atau nunjukkin. Kita masih terikat saudara , sakit lo sakit gue juga. Makanya , pleasse untuk kali ini aja , turutin permintaan gue , ungkapin perasaan lo ke dia."

Anggi mendongak , menatap lurus-lurus mata Gio tanpa ekspresi. "Gue gak bisa."

"Nggi..."

"Maaf Kak , gue beneran gak bisa." Anggi memutuskan bangkit dari sofa dan mulai hendak pergi , secepat kilat Gio menahan nya dengan mencekal satu lengan kirinya yang bebas.

"Kenapa gak bisa? Jelasin ke gue!"

"Lo gak bakal ngerti! Lepasin tangan gue!" Anggi berontak , mencoba menarik paksa tangan nya , tapi sepertinya cekalan Gio tak kunjung juga lepas.

"Lo aja belum jelasin alasan nya. Gimana gue mau ngerti."

Anggi jengah. "Setiap cowok pasti selalu mengandalkan ego nya lebih dulu dari pada otak. Dan gue gak mau turutin apa kata ego gue. Gue lebih suka mikir pakai otak."

"Jadi lo pikir gue tadi gak mikir pake otak?"

"Iya."

"Lo ngeselin ya?"

"Emang. Dari dulu."

Gio kesal. "Gak mau tau , lo kudu ungkapin perasaan lo sama dia. Kalo lo gak ungkapin biar gue yang jadi perwakilan elo."

"Jangan gila deh!" Anggi marah. "Lo mau ciptain perang dingin antara kami?"

"Makanya turutin apa nasehat gue. Dan gue akan diam."

Anggi menghempas kasar nafasnya , sikap yang sedang ia tunjukkan kalau dia sekarang mulai jengkel dan lelah dengan semua sifat pemaksa kakaknya. Kenapa Gio gak mengerti sih?

"Lepas kak." suara Anggi kini menjadi pelan. Membuat Gio mengangkat alisnya. "Enggak."

"Lepas."

"Enggak."

"Lepas gak?"

"Enggak akan."

"Lo ngeselin banget sih?!!!"

"Emang. Dari dulu."

Anggi mendengus , kata-kata Gio sama dengan yang diucapkan Anggi sebelumnya. "Fine. Gue bakal kasih tau dia dan mengakhiri cinta diam-diam ini. Puas?"

Senyum Gio mengembang. "Beneran?"

"Iya."

"Bagus."

Anggi memutar bola mata. "Ya udah lepasin sekarang."

Dengan senang hati , Gio melepaskan cengkraman nya. Dapat dilihat , tangan Anggi kini memar. Ini sakit.

"Sorry." Kata Gio kalem , membuat kedongkolan Anggi menjadi.

***

Keyla keluar dari ruangan Elang setelah puas dengan hasil yang dicapainya saat ini.

Walau sepertinya setelah Elang keluar dari kamar mandi—yang entah berapa abad lamanya—tadi , pria itu jadi lebih fresh dan tampak bugar.

Agak aneh sih. Tapi Elang masih bersikap seperti biasa. Yang jadi pertanyaan Keyla adalah , kemeja yang dipakai Elang berbeda. Dan Elang dengan kalem menjelaskan kalo dia gerah , abis mandi makanya ganti baju.

Keyla hanya bisa manggut-manggut saja mendengar itu. Gak heran kalo dia lama banget dikamar mandinya.

Elang tadi berniat menawarkan tumpangan 'selamat sampai rumah' ketika Keyla ingin pulang tetapi langsung ditolak perempuan itu halus.

Mengingat meeting Elang sebentar lagi akan dimulai. Mana mungkin Keyla seenaknya meminjam CEO perusahaan ini untuk menjadi tukang supir dadakan nya?

Keyla tak mau memberi beban yang lebih lagi.

Semula Elang memang memaksa , tetap akan mengantar , urusan perusahaan mah nomor dua yang penting Keyla selamat sampai di rumah dengan dirinya , tapi dengan tegas Keyla mengancam jika Elang tetap memaksa ia tidak boleh berkunjung ke apartemen Keyla untuk seminggu kedepan , karena itu entah mukjizat dari mana Elang menurut.

Keyla hampir saja tak percaya , tapi untunglah Elang jadi tak memaksanya lagi. Mungkin di suatu saat , Keyla bisa menggunakan ancaman itu lagi supaya Elang jadi penurut.

Walau Keyla tadinya cuman bercanda tapi dianggap serius oleh kekasihnya itu , Keyla sekalipun tak bisa menahan tawa nya karena mengingat sikap keras kepala Elang luluh begitu saja akibat ancaman aneh itu.

Sedikit lucu juga sih , Elang langsung cemberut ketika mendapat ancaman.

Senyuman kecilnya lolos lagi saat mengingat aksi nya tadi.

Perasaan Keyla jadi beribu-ribu lebih baik dari sebelumnya. Ini pertama kalinya Elang bisa menurut padanya , biasanya Elang selalu memanfaatkan kebaikan Keyla untuk banyak permintaan. Dan itu membuat Keyla gemas.

"Keyla ..?"

Keyla menghentikkan langkahnya menoleh ke-empunya suara saat mendengar panggilan dan langsung merubah air wajahnya datar ketika tau siapa yang memanggil.

Perempuan cantik dengan segala pakaian elegannya mulai berjalan mendekat dengan lekukkan langkah kakinya bagai berjalan diatas catwalk. Perempuan itu melempar senyum misterius saat ia benar memastikan kalau pandangannya memang tidak salah lihat.

"Hai ... Ketemu lagi kita." Katanya biasa , sangat biasa dan Keyla tau kalau perempuan ini pasti memiliki dendam padanya atas apa yang dilakukan nya saat itu bersama Gio , dilihat dari tatapan matanya yang berkilat penuh menilai dan meremehkan.

"Ya. Hai juga ..." Keyla terdiam mengingat-ingat—mengabaikan tatapan perempuan itu , "...Vanya?" lanjutnya ragu.

Senyuman lebar kini nampak setelah Keyla masih mengingat namanya.

Perempuan bernama Vanya itu langsung tersenyum manis yang mungkin bagi kebanyakan orang itu senyuman malaikat berbeda dengan Keyla yang tau arti muka dua di dalam diri Vanya.

***
TBC.

















@ssianidha

Continue Reading

You'll Also Like

9.1K 287 53
CERITA ROMAN DEWASA 18++ Gadis memiliki trauma masa lalu yang begitu menyakitkan, sehingga dia tidak mudah menerima kehadiran lelaki yang ingin menci...
254K 13K 43
A Wattpad Romance Story DON'T PLAGIARISM! I DON'T HAVE ANY RESPECT FOR SOMEONE WHO COPY MY WORK! ___________ Liburan yang Laura Hamilton lakukan sel...
109K 3.8K 31
Sheila Anastasya ,27tahun,CEO muda hotel Grande Soetoyo. Kehidupannya mulai berubah perlahan sejak bertemu dengan Joe. 'Ada apa gerangan dengannya...
Wattpad App - Unlock exclusive features