Assalamu'alaikum, yow wasap!!
Kenali dulu saya sebelum baca cerita Renalexa.
Perkenalkan nama saya asha salken buat kalian yang baca.
Tak kenal maka tak sayang, maka untuk itu saya minta uang parkir sebagai perkenalan.
Kalian cukup follow akun wp hey_xha dan jangan lupa vote-nya agar kita saling mengenal.
Are you ready to Reading?
🗡🗡🗡
Alexa Clory adijaya, gadis remaja yang biasa dipanggil dengan nama Lexa. Berusia 17 tahun dengan pawakan tubuh yang tinggi, cantik, cerdas, tetapi memiliki sifat yang dingin kesemua orang. Tatapan matanya yang tajam akan membuat siapapun yang ngelihat merasa terintimidasi. Namun dibalik sifatnya dinginnya itu dia adalah gadis yang baik dan manja. Dia ketua geng hades, anak dari pasangan Herman Adijaya dan Dinda Adijaya, pemilik sekolah SMA MERDEKA. Tapi ayahnya Herman Adijaya meninggal karena kecelakaan saat ia masih usia 6 tahun, dan ini yang membuat sifatnya menjadi dingin dengan semua orang.
(Flashback on)
"Ayahh..." Teriak anak kecil, yang berlari menghampiri sang ayah yang nampaknya baru pulang kerja.
"Haloo kesayangannya ayah" Kata seorang pria sembari memeluk dan menggendong anak perempuan semata wayangnya menuju sofa yang ada diruang tamu.
"Eh kesayangannya ayah kok belum tidur, kan udan malam?" Lanjutnya, sembari memberi kecupan hangat di kening buah hatinya.
"Iya, soalnya nunggu ayah pulang"
"Oh.. Yaa..?" Tanya pria itu sambil melepas pelan tubuh anam kecil itu dari pelukannya.
"Iya soalnya eca tangen cama ayah" Jawab Lexa yang kembali memeluk ayahnya, dengan wajah yang di sembunyikan di tengkuk leher sang ayah.
Ya gadis kecil itu adalah Lexa, gadis kecil itu selalu menantikan kepulangan sang ayah. Meskipun di luar kota Lexa tidak pernah absen untuk menunggu kepulangan ayahnya.
Dari arah tangga nampak wanita yang masih terlihat muda menuju ke arah mereka. "Kok sudah pulang, bukannya kamu bilang masih minggu depan mas?" Tanya seorang wanita sambil mencium punggung tangan suaminya. Wanita itu adalah bunda lexa.
"Iya soalnya aku kangen banget sama Lexa putri kesayangan ayah." Herman mengeratkan pelukannya kepada Lexa, seolah tidak ingin kehilangan anaknya itu.
"Oh.. Yaa.. Besok kan ulang tahun Lexa gimana kalau kita rayain?"
Tepat sekali, besok adalah hari ulang tahun Lexa. Herman dan Dinda selalu menyempatkan waktunya untuk merayakan ulang tahun anaknya.
"Wahh... Eca mau banet." Sahut lexa dengan wajah berbinar senang.
"Bukannya kamu masih ada kerjaan ya mas?" Tanya Dinda.
"Enggak, sengaja aku ambil libur satu mingguan buat ngeluangin waktu sama kamu dan Lexa," jawab ayah Lexa, sembari mengelus rambut lexa dan sesekali menatap istrinya dengan senyuman manis.
"Gimana kalau kita liburan ke taman bermain?" Usul bunda lexa dan diangguki Herman dan Lexa.
"Ya sudah, ini sudah malam, Lexa tidur gih!" Suruh herman ke Lexa.
"Eca mau tidul cama ayah dan bunda." Pinta Lexa kecil dengan wajah memelas.
"Ihh... tumben putri kesayangannya ayah mau tidur bareng ayah bunda, biasanya maunya tidur sendiri?" Tanya ayah Lexa sambil mencubit hidung Lexa dengan ibu jari dan jari telunjuknya seakan gemas dengan tingkah Putri semata wayangnya itu.
"Coalnya Eca nda mau ayah dan bunda ninggalin Eca."
Mendengar jawaban dari Lexa, entah mengapa perasaan Dinda menjadi tidak enak. Seperti akan ada hal besar yang terjadi nanti.
"Oke deh. .. Kalau gitu hari ini Lexa tidur sama ayah dan bunda ya." Kata herman dan di angguki oleh Lexa.
"Ya udah.. Lexa yuk masuk ke kamar bunda dan ayah" Sahut dinda bunda Lexa dan di angguki Lexa dan ayahnya.
Mereka masuk ke kamar dengan perasaaan Dinda yang terus memikirkan ucapan yang Lexa lontarkan tadi. Dinda menggelengkan kepalanya, menghilangkan pikiran aneh itu. Mungkin saja ini hanya perasaannya saja, semua pasti baik-baik saja.
🗡🗡🗡
Keesokan harinya Lexa dan orang tuanya bersiap untuk pergi ke taman bermain untuk merayakan ulang tahun Lexa. Anak kecil itu baru saja keluar dari rumah ingin segera merayakan ulang tahunnya.
"Ayo Lexa masuk ke mobil, keburu kesiangan nanti!" Seru herman ayah Lexa yang sudah ada di dalam mobil pribadinya.
Lexa dan dinda pun masuk mobil dan duduk di sebelah kiri. Ayah Lexa duduk di sebelah kanan karena ia yang mengendarai mobil.
Setelah 1 jam perjalanan akhirnya mereka sampai di taman bermain yang sudah ramai pengunjung. Ayah Lexa pun pergi ke loket untuk membeli tiket masuk. Sambil menunggu ayahnya kembali Lexa dan bundanya duduk di kursi tunggu. Tak lama kemudian ayahnya kembali dan mengajaknya masuk.
"Ayo masuk!" Ajak sang ayah.
Ayah lexa berjongkok dan memegang tangan Lexa. Digendong lah Lexa oleh ayahnya dengan tangan sebelah kiri sedangkan tangan sebelah kanannya menggandeng tangan istrinya. Sambil berjalan memasuki taman bermain, perasaan Dinda kembali dengan ucapan gadis kecil itu semalam. Ah... tidak, tidak, semoga saja tidak terjadi apa-apa.
"Ayah, nanti kalau Eca lagi main, ayah jangan ninggalin Eca yaa!"
Sontak Dinda terdiam, ucapan Lexa terdengar biasa saja, namun terkesan membawa luka. Baru saja dia bergulat dengan ucapan Lexa semalam dan sekarang Lexa kembali mengucapkan kata yang menurutnya janggal.
"Tenang saja, ayah nggak bakalan ninggalin putri kesayangannya ayah sendirian." Jawab Herman menatap Lexa sambil tersenyum manis.
Akhirnya mereka sampai di dalam taman bermain, yang ramai dengan pengunjung. Lexa sangat senang, ia bisa bermain dan menikmati kebersamaannya dengan keluarganya, meskipun itu yang terakhir buat Lexa. Ha? Yang terakhir? Maksudnya apa?.
Setelah puas bermain-main akhirnya mereka pulang. Di perjalan pulang, hal tak terduga terjadi. Mobil yang mereka tumpangi ternyata remnya blong.
"Ini kenapa? Kok ngga bisa? " Kata Herman dengan perasaan panik, sambil berusaha menekan rem mobilnya.
"Ada apa mas, mobilnya kenapa?" Tanya Dinda, yang bingung melihat kepanikkan suaminya.
"Kayaknya remya blong." Sahut Herman.
Dinda ikut panik, perasaannya campur aduk. Tiba-tiba pikirannya kembali teringat tentang perkataan Lexa Dan di detik berikutnya ia pun tersadar.
"Ha apa?"
Tak lama kemudian...
BRAAKKK...
Mobil mereka menabrak truk yang melintas di perempatan dari arah kiri mereka. Mobil yang mereka kendarai terlihat rusak parah. Di waktu itu pula ramai orang yang melihat kejadian itu pun langsung mendekat ke arah mobil mereka dan mencoba menyelamatkan mereka. Lexa dan bundanya berhasil di selamatkan, tapi nahas ayah Lexa tidak bisa di selamatkan karena mobil mereka keburu meledak.
Bunda Lexa yang masih sadar dan melihat kejadian itu pun langsung menangis histeris. Apa ini maksud dari omongan anaknya?
"Coalnya eca nda mau ayah dan bunda ninggalin Eca"
"Ayah, nanti kalau Eca lagi main, ayah jangan ninggalin Eca yaa!"
Sedangkan Lexa gadis kecil itu pingsan dengan luka di wajahnya. Lexa dan bundanya langsung di bawa ke rumah sakit oleh warga sekitar, sedangkan ayahnya?. Ayah Lexa meninggal di tempat kejadian, ini yang membuat Lexa sedih saat sadar dari pingsannya di rumah sakit.
Dari kejadian itu sifat Lexa berubah menjadi dingin dan brutal. Ditambah bundanya yang selalu sibuk dengan pekerjaannya, karena harus meneruskan perusahaan sang suami.
(Flashback off)
__________________________________________
Thanks for Reading
©by hey_xha