Dua motor itu berpacu cepat di jalanan umum, sesekali membunyikan klakson motor nya saat pejalan kaki tak melihat mereka.
Xan berada dibelakang Mei yang jauh lebih cepat darinya, agak sulit bagi lelaki itu untuk berusaha menyalip gadis dengan helm kucing tersebut. Beberapa kali ia hampir melewati motor merah didepannya, tapi gadis yang mengendarai motor itu terlalu cepat untuk menghalanginya.
' dia tau aku teman masa kecilnya, tapi pura-pura tak kenal? Cih! Kupikir aku harus menang kali ini '
Dengan cepat Xan mencoba menyalip ke arah kiri, namun saat gadis di depannya sadar ia ingin menyalipnya maka dengan cepat ia membelokkan motornya ke arah kanan.
Bodohnya, gadis itu tertipu trik murahan.
Peluangnya untuk menang terlihat sangat besar saat ini, ia kembali memacu motornya dengan kecepatan tinggi. Dilihatnya orang-orang yang memandu nya entah itu ke kanan atau ke kiri disisi jalan.
Sesekali dilihatnya gadis itu dibelakangnya, tak terlihat cukup jauh darinya. Hah... Sungguh ia malas untuk melakukan ini, rasanya merepotkan. Jika saja bukan ini cara satu-satunya agar ia tak diusir mentah-mentah oleh gadis itu, ia akan sangat bersyukur.
Sampai di persimpangan depan, seseorang disana menyuruhnya untuk belok ke arah kanan. Ia mengikuti instruksi, ia mengikuti arahan untuk berbelok. Belum jauh dari tikungan tadi, ia kembali melihat kaca spion. Tidak ada kendaraan disana, hanya dirinya saat ini.
Kemana gadis itu? Mengapa belum terlihat di tikungan? Bukannya motor itu tak jauh dari dirinya tadi?
Ia berhenti di trotoar jalan, blok itu sepi. Seperti tempat yang uhh- terbengkalai? Banyak ruko-ruko yang tutup dengan banyak coretan cat pilox. Tempat ini belum pernah dipijaknya.
Sibuk dengan pemikirannya, ia lebih memilih memutar kembali motornya untuk mencari Bryna. Pikirannya mengatakan bahwa gadis itu tidak baik-baik saja.
Xan menambah kecepatannya menuju tikungan tadi, sepi. Kemana orang tadi? Ia memang tidak mengetahui siapa-siapa saja yang memandu nya, hanya saja orang-orang di tempat tadi bilang mereka akan stay di setiap jalan dan tikungan. Mereka menggunakan jaket kulit yang sama agar tidak kebingungan.
Perasaannya mulai aneh, kemana Bryna? Ia mengambil ponselnya, berusaha menghubungi nomor Max.
'halo? Ada apa?'
"Aku pikir aku akan menang, tapi aku tak menemukan Bryna ditikungan keempat. Orang yang memandu ku tadi juga tak ada beserta motornya, ini aneh"
'tunggu, ada di mana kau?'
"Aku juga tak tau, tapi saat aku mengikuti arahan tadi aku sampai di sebuah blok kosong dengan banyak ruko terbengkalai"
'oh, dude. Gadis itu sepertinya tidak baik-baik saja'
Mendengar itu Xan naik pitam. "Apa-apaan kau?! Jelaskan apa maksudmu, sialan!"
'seharusnya kau bukan ke sana, tapi ke arah yang satunya. Blok itu bukan sepi, mereka yang disana mungkin saja bersembunyi saat mendengar suara motor mu dan mengira kalau dirimu itu polisi'
"Lalu aku harus kemana?"
'aku akan melacaknya sebentar, bukankah kau sudah menitah Hao untuk meletakkan cip GPS itu di motor gadis itu?'
"Lakukan, jangan lama. Aku akan mencarinya sendiri untuk sementara, suruh beberapa anak buah ku untuk ikut mencarinya. Lacak motor ku dan suruh beberapa agar ikut bersamaku"
Tanpa mendengar jawaban dari Max, lelaki itu menutup teleponnya dan segera memacu motornya. Dia berada di perempatan, jika tadi ia ke kanan salah dan yang benar adalah ke kiri. Ada dua kemungkinan, mereka kembali ke jalan yang ia lewati sebelumnya, atau lurus ke depan.
Bimbang, ia takut salah memilih jalan dan membuat dirinya semakin jauh dengan gadisnya.
Ia turun dari motornya, berjalan menuju jalur yang di depannya. Jalanan berlumpur akibat hujan, siapa tau ada jejak ban motor. Jalanan itu seperti jarang dilewati, banyak tanah disana.
Dilihatnya dengan senter ponselnya, bersih. Tak ada jejak, ada kemungkinan lain. Kalau Bryna sudah melewati jalan yang benar, dan dia hampir menang.
Xan menarik nafas dalam-dalam, perasaannya bilang kalau Bryna tidak melewati jalan yang benar. Apa mereka kembali? Ia bingung.
Dengan perasaan campur aduk, ia memilih untuk kembali ke jalan tadi. Dengan kecepatan tinggi, ia melihat gesit setiap motor besar seperti dirinya yang ia lewati, ia ingat apa merk motor orang di tikungan tadi. Bisa jadi ia tak sendiri, tapi sudah ada beberapa orang yang menunggu juga disana.
Satu pertanyaan, apa tujuannya?
Lama mencari, sampai matanya menatap beberapa motor milik anak buahnya datang dari arah berlawanan. Dengan cepat motornya mereka memutar balik untuk bergabung dengan tuannya.
"Kau dan dia kesana" titah Xan dari microphone helmnya, dua dari mereka mengangguk. Sedangkan dua diantaranya mengikuti dirinya berbelok ke arah yang satunya.
Ia berbelok cepat diikuti dengan dua anak buahnya dibelakang, ia memperhatikan setiap hal yang ada disana. Sampai keningnya membuat garis samar saat ia menyadari sesuatu.
' jalan ini seperti jalan lain menuju blok yang tadi aku lewati, mungkinkah Bryna ada disini? '
Xan kembali menghubungi Max lewat ponselnya.
"Apa ada tanda-tanda Bryna akan datang?"
'kupikir tidak, terlihat dari sini teman Bryna juga kekasihnya itu mondar-mandir. Sepertinya mereka juga khawatir akan Bryna yang tak kunjung kembali'
"Baiklah, apa kau sudah menemukannya?"
'sebenarnya sudah, tapi lama aku menunggu motornya tak berpindah dari tikungan tempat mu menghubungiku sebelumnya'
"Apa disana tidak ada cctv?"
'apa disana ada lampu jalan?'
"Hm"
'tunggu sebentar'
Panggilan itu tidak terputus, Xan tetap menyusuri jalan kecil yang ia masuki tadi. Sampai ia melihat ada jalan besar di ujung gang tersebut.
"Disini sepi, tapi malah semakin mencurigakan" celetuk salah satu dari anak buahnya yang berambut pirang, dalam hati Xan mengiyakan ucapan anak buahnya tersebut.
"Kudengar orang-orang disini terkenal akan kebrutalannya saat menghabisi seseorang, awalnya tempat ini adalah tempat yang sering dikunjungi oleh pelancong juga tempat dimana semua barang murah tapi berkualitas dijual. Tapi entah sejak kapan dan apa alasannya, tempat ini menjadi tempat yang mengerikan" jelas yang satunya bercerita, Xan mengangguk paham.
Benar, ini tempat yang tadi Xan lewati. Ia ingat dengan ruko bertuliskan ' you will die ' bercat merah itu terlihat lagi oleh netranya.
Mereka berhenti, sepertinya mereka memiliki pemikiran yang sama.
' apa mereka harus mengecek setiap gedung dan ruko disini? '
Senyap, tidak ada suara setelah mesin motor mereka mati. Semuanya mendengar kan dengan seksama, banyak suara-suara aneh tapi bukan suara setan.
"Sepertinya sebelum kita datang tempat ini terdapat banyak orang, kopi disana terlihat masih mengepul karena suhunya yang dingin" tunjuk salah satu anak buah Xan pada gelas plastik berisi kopi dan kartu Remi yang berserakan.
"Kau benar, mereka seperti bersembunyi" balas Xan.
"Bukankah kau bilang mereka brutal?" Tanya Xan.
Yang ditanya pun mengangguk. "Dari semua orang disini, mereka punya perkumpulan nya masing-masing. Masing-masing perkumpulan juga sering kali bertengkar karena saling ejek, tapi walaupun begitu. Mereka juga memiliki penguasa tempat ini, kudengar penguasa tempat ini sudah meninggal, dan yang meneruskannya anak laki-lakinya" jawabnya jelas, Xan kembali mengangguk.
Mereka kembali diam, sampai sebuah suara teriakan melengking membuat semuanya menoleh serentak mencari dari mana asal suara tadi.
Ting!
Max
Dijalan yang kau lewati tadi, cari sebuah hotel bernama KingStar motel. Beberapa cctv masih menyala di blok itu, kurang tau tepatnya kamar sebelah mana.
"Motel KingStar?" Tanya Xan, mendengar itu keduanya segera mengedarkan pandangannya.
"Itu motel!!" Tunjuk si pirang pada sebuah papan nama bertuliskan KingStar motel dengan Font serif dan lampu warna-warni yang redup di sisi-sisinya.
Serentak semuanya menoleh, melihat motel itu tak jauh dari mereka dengan segera mereka menyalakan motornya dan pergi ke motel tersebut.
Mereka turun dari motor dan melepaskan helmnya, baru saja mereka akan masuk. Beberapa orang dari dalam keluar dengan balok kayu juga senjata tajam lainnya. Ada sekitar 8 orang disana dengan satu orang lainnya yang mungkin bos atau ketua mereka.
' merepotkan '
"Ohoo kita kedatangan tamu rupanya, dan... Dia sepertinya orang asing, kalian bertiga akan menginap?" Tanya pria dengan perut buncit dan kumis melintang di atas mulutnya serta senyum menyebalkan.
"Banyak bicara" gumam si pirang kesal, temannya yang berambut coklat menahannya. "Jangan gegabah" bisiknya.
Pria buncit itu tersenyum miring melihat keduanya. "Ada apa? Mengapa kau terlihat kesal saat melihatku?"
Si pirang mendengus, ia tidak menyukai pria didepannya. Dari dulu, sampai sekarang.
Xan yang menyadari sesuatu pun paham, ah... Orang itu ternyata. Lelaki bertubuh tinggi itu maju beberapa langkah mendekat.
"Kami tidak ingin menginap" ucap Xan.
Pria itu mengangkat alisnya seolah bertanya. "Lalu?"
Xan mengangkat bahu acuh, melempar tatapannya ke arah lain. "Aku tak sengaja lewat kesini saat mencari temanku, dan aku mendengar suara teriakan dari arah sini" pandangan lelaki itu kembali pada pria buncit pendek di hadapannya.
"Apa kalian tidak mendengarnya?" Lanjut Xan disertai tanya, pria buncit itu diam kemudian menjawab. "Tidak, mungkin kalian salah dengar"
Xan mengangguk-anggukkan kepalanya seolah percaya. "Benarkah? Oh, kau bilang ini tempat penginapan bukan? Aku mungkin akan melihat-lihat kamar di sini, bolehkah?"
Pria itu menoleh cepat, menatap kesal Xan yang tersenyum aneh. "Tidak, pergilah" jawabnya datar.
Mendengar itu Xan memasang raut wajah seolah kecewa. "Oh? Begitukah? Baiklah, kami akan pergi" ucap Xan kembali mundur beberapa langkah, membuat kedua anak buahnya menatapnya tak percaya.
Apa-apaan?!
"T-tapi,"
Lelaki itu membuat gesture tangan seolah menyuruh si pirang untuk diam, si pirang menurut. Mungkin tuannya memiliki rencananya lain, pikirnya.
"Bagus, lebih baik kalian pergi sebelum-"
"Sebelum kami membunuh kalian tentu saja" suara seseorang di belakang membuat ke-sembilan orang itu serempak menoleh.
Pria buncit itu melebarkan matanya, dirinya terkepung.
Xan tersenyum pada Max yang membawa sekitar 15 anak buah lainnya yang membawa banyak persiapan. "Kalian mendengar nya?" Tanya Xan pada pria itu.
"Sialan kau AKHH-" pria itu berlutut, satu timah panas bersarang di betis kanannya. Membuatnya lemas untuk berdiri.
"Jangan berani mengatai tuan ku, sialan" desis Max.
Pria itu nampak kesal, terlihat dari wajahnya yang memerah sampai telinga karena menahan sakit juga kesal.
"APA YANG KALIAN LIHAT?! HABISI MEREKA BODOH!!" teriaknya pada delapan orang lainnya, max tersenyum mendengarnya. Dirinya sudah tidak sabar untuk melakukan lagi setelah sekian lama hanya memandangi komputer di kamarnya.
"Pergilah ke lantai 3 motel ini, ada dua orang yang menunggu disana. Penjagaan sudah tidak ada" Xan hanya mengangguk mendengar perkataan Max, pria buncit yang ikut mendengar membelalakkan matanya.
"KALIAN TAHAN MEREKA, JANGAN SAMPAI NAIK!!" namun sayang, teriakannya bahkan tak di gubris oleh anak buahnya.
Sebelum ikut naik ke atas, si pirang sedikit berteriak pada Max. "Pria itu untuk ku, biarkan aku yang mengurus nya!!!"
Max hanya mengangguk mengiyakan, masalah harus dihadapi dan bukan dihindari. Dan pria itu harus menerima konsekuensinya setelah mengganggu adik si pirang.
Ketiganya naik ke lantai tiga, dan benar saja. Ada dua orang lainnya disana tengah menunggu ketiganya.
"Malam, tuan" sapa keduanya.
"Dimana?"
"Ada banyak suara berbisik di kamar 001, sepertinya mereka disana" jawab salah satunya, Xan mengangguk.
"Apa yang kalian bawa?" Tanya Xan, keduanya mengeluarkan 3 revolver dan satu tas kecil yang berisi peluru, juga satu tas yang membawa 2 buah belati dan 2 botol berisi cairan berwarna biru, 3 botol obat bius dan 5 jarum suntik.
Xan mengangguk. "Persiapan yang cukup bagus" gumamnya yang dapat didengar oleh anak buahnya.
Lelaki itu mengambil 1 revolver dari tangan anak buahnya, 1 belati, juga 2 jarum suntik dan dua botol obat bius. Xan memerintahkan pada kedua anak buah yang menunggunya tadi untuk diam di dekat sana, jaga-jaga jika Xan dan anak buah yang lainnya membutuhkan mereka.
Mereka mendekat dengan perlahan menuju kamar 001, benar. Terdengar beberapa suara berbisik namun terdengar jelas, lebih seperti gumaman.
'mereka seperti nya sudah baik'
'kalian berdua cukup diam dan jaga gadis itu, aku bahkan belum menggunakannya' suaranya terdengar berdesis kesal.
'aneh, mereka terlihat peduli. Padahal bocah itu bisa saja menang balapan jika tidak mencari gadis yang pingsan itu'
'diamlah! Lebih baik kalian cek keluar, apa mereka sudah naik atau belum. Selagi menunggu aku akan memakai gadis ini'
Rahang Xan terlihat mengeras, ia mengepalkan tangannya. Manik elangnya menatap kedua anak buahnya.
"Sambut mereka saat keluar, aku akan urus bos mereka" yang diajak bicara hanya bisa mengangguk tanpa protes, tuan mereka tak bisa di ganggu gugat jika ini menyangkut dengan gadisnya.
Xan melipir ke sebelah kanan, merapatkan diri ke dinding. Ia akan masuk setelah kedua orang yang dititah orang lainnya di dalam keluar.
Si pirang dan di coklat sudah siap disana, menunggu pintu terbuka dengan raut wajah santai. Ini didikan Xan, jika sang Daddy mendidik anak buahnya agar memasang tampang datar tanpa ekspresi pada musuh. Maka berbanding terbalik dengan Xan, ia akan menyuruh anak buahnya untuk melempar senyum, dan membunuh targetnya dengan sebuah senyum manis.
Agar apa? Tidak masuk akal memang, tapi jawabannya adalah agar target yang akan mati bisa melihat senyum tulus sebelum mati. Aneh. Prik.
Ceklek
Pintu terbuka, kedua anak buah Xan tersenyum menatap kedua lelaki yang lebih tua dari mereka dengan banyak tato di sekujur tubuhnya.
"Selamat malam" sapa si pirang, keduanya terkejut melihat anak buah Xan.
"S-siapa,"
"Stt- tenanglah kami hanya ingin bermain" gumam si coklat sebelum keduanya menyeret tanpa suara dua orang itu menuju kamar sebelahnya.
Xan masuk kedalam setelah sebelumnya pintu kembali tertutup dengan sendirinya, kembali dibukanya pintu kayu bercat putih pudar dengan angka 001 di hadapannya.
Ceklek
"Mengapa kalian kemba-"
"Siapa kau?!" Tanyanya tak santai, ia kembali menarik resletingnya ke atas setelah sebelumnya terbuka.
Xan tak menjawab, netranya menatap gadisnya yang berbaring di atas ranjang dengan bajunya yang sedikit tersingkap. Matanya terpejam, gadisnya pingsan.
"Hey! Aku bertanya padamu" ucapnya sambil menatap Xan bingung, ia bingung kenapa Xan hanya diam.
Manik elang itu beralih menatap pria itu, menatap tajam membuat pria itu sedikit menciut. "Kau apakan gadisku?" Tanyanya.
Mendengar itu pria tadi tertawa. "Ahaha, ini gadismu? Ya ya, tentu saja gadis cantik ini banyak yang menyukainya. Berhubung aku belum memakai nya, bagaimana jika kita menggunakannya bersama?"
Mendengar itu Xan terkekeh, lalu berdecih. "Dalam mimpimu"
"Oh ayolah, ini akan menyenang- AKHHH" belum kalimat itu terselesaikan, Xan melempar belati tepat pada dada kanan pria itu.
Pria itu bersimpuh menahan sakit, menatap tajam Xan yang berjalan mendekat ke arahnya.
"Shh s-sialan k-kau..."
Mendengar itu Xan tersenyum tipis, membuat posisi jongkok di depan pria itu. Kemudian menarik dengan kasar belati yang tadinya masih tertancap di dada pria itu.
"AKHHH-"
Tarikan kasar saat mengambil belatinya kembali membuat beberapa noda darah terciprat ke wajah serta baju dan celananya.
"Menggunakannya bersama, huh?" Tanya Xan diiringi dengan kekehan.
"Aku tau aku memang bodoh, tapi aku tidak sebrengsek dirimu" ucapnya sambil menatap pria itu.
Pria itu semakin lama semakin merosot kebawah, banyak darah yang keluar dari dada kanannya. Cih, pria ini akan mati dengan cepat kalah begini caranya.
Xan mendengus kesal, ia lantas berdiri. Menatap pria itu yang mulai terbatuk-batuk, ia menendang kasar perut pria itu. Membuat pria itu menjadi terjengkang ke belakang, Xan lantas kembali mendekat. Pria itu sudah lemas dengan tangan yang masih berusaha menahan darah yang kian banyak keluar.
Xan menginjak sisi kepala pria itu, tak sampai membuat tengkorak nya retak. Ia lantas menarik kembali kakinya, di tendangannya lagi tubuh itu sampai mendekat ke arah kamar mandi.
"B-berhenti uhuk- kumohon, b-berhenti" pria itu memohon dengan suara seraknya.
"Sayang sekali, aku tidak mendengar mu" balas Xan acuh. Ia lantas melewati pria itu, melihat ke arah bathtub yang terisi air kotor dengan banyak jentik-jentik juga cacing.
"Aku tidak mengerti, kau bos di daerah sini. Yang paling di takuti, huh? Aku tak percaya ternyata dia selemah ini. Biarkan aku mengambil kesimpulan, kau ditakuti semua orang mungkin saja karena kau penggila sex. Setelah sex yang panjang kau memerintahkan anak buahmu untuk menghabisi bekas mu, benar kan?"
Pria itu tak menjawab, ia terlalu lemas. Xan kembali tersenyum menatap pria itu. "Kau diam ku anggap iya"
Lagi, pria itu tak merespon membuat Xan mendengus. Ia lantas kembali mendekat pada pria itu yang berada di antara pintu masuk kamar mandi.
Dilihatnya nafas pria itu masih ada. "Kau tidak akan mati secepat itu, kau baru akan mati jika gadisku mengizinkannya" pria itu hanya menatap Xan sebagai respon.
Xan berlalu, ia mencari sebuah wadah untuk mengambil air. Sampai netranya menangkap sebuah teko plastik berisi kopi, dia menumpahkan kopi itu ke lantai. Kemudian kembali menuju kamar mandi. Mengambil air dengan banyak jentik-jentik dan beberapa cacing yang ikut masuk.
Ia kembali memutar badannya, berjalan ke arah pria tadi. Kemudian mengguyur air kotor itu pada pria yang tergeletak di bawah.
"AKHHHHH HENTIKAN!!!" pekikan nyaring terdengar saat air kotor itu mulai masuk ke luka-luka yang ada di tubuh pria itu.
Setelah air dalam teko habis, Xan melemparnya ke sembarang arah. Kemudian mengelap tangannya pada seprai kasur yang Bryna tempati, setelah di rasa tangannya bersih. Ia menggendong Bryna ala Bridal style.
Dapat terlihat olehnya ada satu kissmark samar di perut Bryna, hah... Lidah pria itu bisa saja ia putus, hanya saja semua keputusan tetap berada pada gadis di gendongannya.
Sebelum ia keluar dari kamar itu, ia kembali melirik pria tadi. Pria itu menggeliat kesakitan saat jentik-jentik maupun cacing-cacing yang berada dalam air tadi mungkin masuk kedalam lukanya.
"Jangan mati dulu pak tua, kau belum mendapat izin dari gadisku untuk mati" ucapnya sebelum ia keluar dari kamar itu sambil menggendong Bryna.
💃💃💃
Note:
Haiii
Kemaren ada yang bilang kurang panjang, sekarang Rin panjanginnnn
Puas ga? Hampir 3000 words
Semoga suka sama chapter ini~
Oh iya, untuk Mafia Widower bakal ada ending versi kedua!!!
Tungguin yaaaa
By. Pinterest