ALMA

By Alldhaa_17

3K 2.3K 1.5K

Tidak ada anak yang ingin orang tuanya menjadi seorang pejudi dan ibu yang kerjanya cuman menghabiskan uang s... More

Prolog
Alma
Tidur di rumah tante Ati
Bekal
Sebungkus nasi
Kecerobahan
Murid Baru mMenyebalkan
Kejadian apa lagi ini?
Dusta
Perdebatan
Adik baru
Hanya sekedar kata-kata
Perubahan
Penyakit Alma
Apa? Dia anak seorang Ustadz Amar?
Bakat terpendam
Belanja
Malu
Terkurung
Kucing Pemakan Es Cream
Menyebalkan!
Penjelasan

Ikhlaskan

88 68 28
By Alldhaa_17

Tuhan menghancurkan rencanamu supaya rencanamu tidak menghancurkanmu :)

Happy reading
*
*
*

Akhirnya sampai rumah juga, aku memegang gagang pintu yang sudah hampir rapuh dan menekannya hingga terbukalah sebuah pintu yang sudah terlihat tua itu. Aku menoleh kiri dan kananku hingga memasuki semua ruangan, masih tidak ada orang sama sekali.

"Sejak tadi pagi mereka belum datang juga? Sebenarnnya mereka kemana tanpa memberitahuku?" fikirku.

Tok...Tok...Tok...

Suara ketukan pintu itu memecahkan fikiranku yang sangat mengguncang di pendengaranku, spontan aku segera membukanya.

"Alma, orang tua dan adikmu nak!" ucap salah seorang yang tampak sangat khawatir.

"Kenapa mereka bu?" tanyaku terkejud setelah mendengar ucapan tetanggaku barusan dengan sangat khawatir.

"Mereka kecelakaan." katanya.

"Innalillah, dimana?" tanyaku dengan mengernyitkan alisku, nampak sekali raut wajahku yang sangat khawatir.

"Ayo ikut ibu nak," ajaknya. Aku yang segera menyimpan barang-barangku dengan langsungnya berlari menaiki motor tetanggaku.

Di sana sudah banyak orang yang berkerumun, tidak ada yang berani menyentuhnya.

Aku yang baru saja datang langsung berlari dan menghampiri orang yang berkerumunan itu. Aku segera menyelip di antara orang-orang itu dengan tergesa-gesa, aku melihat kedua orang tuaku sudah terbaring seperti tak bernafas lagi dengan lumuran darah di bagian kepala dan perut.

Rasanya badanku sangat tertusuk melihat mereka, aku segera memeluk ibuku terlebih dahulu. Pakaianku terpenuhi darah olehnya.

"Apa yang terjadi pak?" tanyaku yang sudah mulai meneteskan air mata.

"Kedua orang tuamu sudah meninggal nak," jawab pak Somat.

"Apa? Kenapa tidak ada sama skali yang menolongnya," protesku dengan air mata yang terus mengalir.

"IBUUU......" teriakku dengan sekencang-kencangnya. Warga disana yang melihatku sudah menangis pun ikut meneteskan air matanya.

"Ibu maafin aku, aku belum bisa banggain ibu, mungkin saja aku selalu menyusahkanmu ibu. Maafkan aku ibu, kamu memang tidak pernah memberiku kasih sayang selama hidupku namun aku menyanyangimu sampai akhir hidupku, meski aku tau kau selalu mengecawakanku. Maafkan aku yang belum bisa membuatmu bahagia," ucapku dengan meneteskan air mata dengan sederas-derasnya.

Aku segera melihat ke ayahku, kini lumuran darah di bagian kepala sudah mulai berhenti. Mungkin saja dia sudah kehabisan darah. Aku segera beralih ke ayahku.

"AYAAHH...." ucapku seraya memeluk ayahku dengan tetesan air mata yang semakin menjadi-jadi.

"Kenapa kalian begitu cepat meninggalkanku, aku belum bisa sholat berjama'ah dengan kalian kenapa harus pergi secepat ini. Aku belum bisa menjadi anak yang baik, aku belum bisa membuat kalian menyayangiku hiks." lanjutku seraya berusaha mengusap air mataku. Hatiku sangat teriris ibarat irisan dari pedang damaskus. Aku sudah tidak peduli dengan penampilanku yang tengah di hiasi darah ayah dan ibuku.

Mendengar kabar bahwa ayah dan ibuku, Ahmad segera mengajak ustaz Amar untuk menemuiku di tempat kejadian. Ahmad yang melihatku terduduk lemah seperti tak ada aliran darah yang kurasakan, ia langsung menghampiriku.

"Alma," panggil Ahmad lirih seraya merangkulku.

Sementara ustaz Amar yang juga menghampiriku yang tak tega melihatku seperti ini, kini meneteskan setetes demi setetes air matanya. Ia begitu berat melihatku seperti ini.

"Ahmad," ucapku masih melihat wajah ayahku, sementara kepala yang sudah tertempel didadanya.

"Yang sabar Al," sela Ahmad ikut meneteskan air matanya perlahan.

"Ini ada coklat buat kamu," ucapnya seraya menyodorkan coklat batang padaku, setelah aku melepaskan pelukannya.

"Nggak Mad, kali ini sakitnya udah nggak bisa terobati," tolakku tambah membanjiri bagian pipiku karna ulah dari air mataku.

"Hmm aku udah nggak tau mau gimana lagi Al, biasa kamu kalo nangis trus di kasi coklat pasti udah tenang, mungkin ini sangat berat buatmu Al," batin Ahmad dengan menggenang Air matanya.

"Kenapa harus begini Mad? Aku sungguh tidak tau mau gimana lagi, mereka memang tidak pernah memberiku kasih sayang namun aku sangat menyayanginya. Aku merasa sangat teriris Mad!" kataku.

"Yang sabar Alma, kita tidak bisa mengubah takdir. Aku yakin kamu pasti kuat nak," lirih ustaz Amar yang berada di depanku.

"Ustaz," aku memanggil ustaz dengan tambah meneteskan air mataku.

"Aku belum bisa mengubah mereka, aku belum bisa bertanggung jawab ustaz," lanjutku.

"Sudahlah Al, yang terjadi biarlah terjadi. Ustaz tau betul perasaanmu nak, mari kita do'akan ayah dan ibumu sebelum membawanya ke rumahmu." ucap ustaz Amar, aku hanya bisa mengangguk dengan pelan.

Setelah do'a selesai, kami semua mengaminkannya dengan penuh ikhlas. Aku yang baru saja teringat oleh Aska, adik satu-satuku.

"Aska kemana?" tanyaku.

"Aska ada di rumah nenekmu nak," jawab pak Somad.

"Kenapa dia disana? Sedangkan ibu dan ayahku?" tanyaku tampak heran.

Mayang P.O.V.>

Flashback On

"Yah ayo cepet keburu Alma bangun," teriakku  yang sudah berada di ambang pintu. Sedangkan Aska yang kugendong masih keadaan tertidur.

"Iya bentar," teriak balik suamiku yang tengah mengemas pakaian Aska ke dalam tas.

Suamiku pun keluar dengan membawa barang Aska.

Di tengah perjalanan pak somad tengah melihat kami yang sedang terburu-buru membawa motor. Aska kini sudah terbangun karna suasana sangat dingin.

"Ibu, kita kok ada di atas motol? Peyasyaan aku tidulnya di atas kasul bu?" tanya Aska yang masih dengan kurang jelas.

"Iya nak, kita mau ke rumah nenek yah. Ibu dan ayah mau keluar kota mencari uang buat Aska jadi untuk sementara harus tinggal di rumah nenek dulu yah?" jelasku.

"Uang buat kak Alma juga kan bu? Loh kok kak Alma nggak di ajak bu? Kasian kakak di sana sendirian," ucap Aska dengan mengerutkan keningnya.

"Kakak kamu sudah smp berarti udah besar nak, nggak usah di fikirin dia bisa jaga diri kok," pekikku.

"Tapi bu," sahut Aska.

"Ussh diam," tegur suamiku.

"Iya yah,"

Sampai di rumah ubuku, aku dan suamiku pun turun dari motor dan segera membawa Aska ke dalam rumah.

Tok...Tok..Tok..

"Ibu..." panggilku yang masih di luar.

"Belum bangun kali..." ucap suamiku.

"Ahh nggak mungkin, dia bukan seperti kamu yang tidurnya sampai jam 10 pagi," pekikku.

"Iya tunggu," ucapku yang sudah membuka pintunya.

"Nih bu aku nitip Aska dulu yah, aku mau keluar kota. Kemarin aku dapat voucer kemana saja dari hadiah Kripik yang viral itu loo bu," ucapku tampak sangat bahagia.

"Itung-itung bisa jalan-jalan kek orang-orang lain kan yang suka pulang balik kota. Bosan di kampung terus," sela suamiku.

"Trus kamu mau ninggalin kedua Anakmu? Dan kok Alma nggak kamu bawa?" tanya ibuku heran.

"Ibu Alma udah 3 hari nggak pulang ke rumah, katanya nginap di rumah temannya. Biasalah bu anak muda, biarkan sajalah," karang suamiku.

"Oyyah? Perasaan..." ucap Aska tanpa melanjutkan pembicaraannya, karena Aku sengaja menutup mulutnya supaya tak mengadu pada nenekanya.

ibuku mengerutkan Alisnya, "Perasaan kenapa Aska?" tanya Ibuku membingung.

"Nggak bu, Aska mau bilang Perasaan dulu disini ada Ayunan kok sekarang udah nggak ada?" ucapku.

"Ohh"

"Oh iya bu kami berangkat yah, keburu ditinggalin vus entar," pamit suamiku.

"Oh iya hati-hati nggak usah terlalu terburu-buru," sahutku.

"Iya bu." ucap suamiku.

Di perjalanan suamiku begitu bersemangat hingga tak sadar jika kilometernya sudah angka yang paling tertinggi. Aku selalu saja menasehati suamiku "jangan ngebut-ngebut!" Namun apalah daya suamiku begitu keras kepala jika di tanya.

Hingga pada sepertengah perjalanan....

GUBRAAAAKKK.....

Sebuah truk berpapasan dengan sebuah mobil sport itu langsung menabrak motor suamiku hingga terjatuhlah kami sampai terluka dibagian kepala dan juga perutnya, sebuah truk itu melintas langsung kebagian perutku kemudian langsung melintas ke kepala suamiku. Mobil sport itu tidak menabrakku hanya menabrak pohon hingga pengemudi terluka parah, yang mempunyai mobil truk itu langsung di bawah ke kantor polisi sedangkan yang bermobil sport itu langsung di bawah ke rumah sakit terdekat. Aku dan suamiku sudah tak mempunyai waktu lagi untuk dibawa ke rumah sakit, karna 6 menit setelah di tabrak kami langsung kehabisan nafas.

Flashback Off

Alma P.O.V. >

"Ibuu.... Ayah.... apa salahku hingga kalian tidak mau memberiku kasih sayang sepercik pun, sungguh kau sangat menyayangi adikku sedangkan aku yang sudah sabar menunggu kasih sayangmu, mala tak sepersen pun kau berikan padaku." aku semakin meneteskan air mataku dengan sekencang-kencangnya, sedangkan Ahmad yang berusaha menenangku.

"Pantasan saja sejak tadi pagi aku tidak melihat mereka, ternyata mereka meninggalkanku sendirian di rumah hanya karna ingin bersenang-senang. Bagaimana jika ada orang yang ingin menyelakaiku sendirian dirumah? Bagaimana jika aku kesakitan memikirkan keadaan mereka? Bagaimana jika ada yang tau kalo aku sendirian di rumah dan ingin menculikku? Ibu... Ayah... kenapa kalian harus bersikap begini terhadapku," lanjutku. Ahmad yang tidak tega melihatku lantas ia memelukku dan ikut menangis.

"Ya udah yuk Al, nggak mungkin juga kita tinggal di sini lama-lama kasian ayah dan bumu," ucap Ahmad.

"Benar nak," ucap ustaz Amar.

Aku pun menaiki motor Ahmad sedangkan ustaz Amar menaiki ambulance yang baru saja datang. Di sepanjang jalan aku hanya bisa berusaha mengikhlaskan mereka walau rasanya sangat terpukul. Aku yang memeluk Ahmad kini berusaha menghentikan tetesan air mataku, namun sangatlah susah. Apalagi aku belum tau sebabnya mengapa ayah dan ibuku tampak tidak ingin aku berada di dunianya.

















Salam Author

Alda Maylanda

Continue Reading

You'll Also Like

2.3K 196 25
[FOLLOW FOLLOW] Reano terbiasa mengejar cinta yang sama-seseorang yang selalu membuatnya berharap, lalu patah lagi. Dalam proses itu, ia tidak pernah...
264 26 14
menceritakan tentang seorang pemuda yang tinggal di panti asuhan yang selalu mencari tau siapa orang tua kandungnya di mana . mencintai seorang gadis...
1.2K 22 5
Nggak semua keluarga bisa di sebut rumah. Terkadang, mereka lah luka pertama bagi seseorang. Orang-orang ingin hidup seperti dirinya, apakah sebagus...
Wattpad App - Unlock exclusive features