0. AWAL MULA KISAH

20 0 0
                                        

WARNING 18+



***

Bunyi teko yang berdering menandakan air yang ada di dalamnya telah mendidih sempurna tidak cukup untuk menginterupsi kedua insan yang kini tengah bercumbu panas. Decapan kedua bibir yang saling membelit seolah lebih mengisi ruangan dapur itu. Tidak ada yang saling menjauh, keduanya terlalu masuk kedalam permainan Hasrat yang menggebu.

Entah siapa yang memulai karena pada akhirnya mereka saling menikmati, mengeksplor setiap inci tubuh masing-masing. Tetapi meski dengan nafsu yang menggebu, sang lelaki begitu lembut memperlakukan wanitanya. Satu tangannya menjadi bantal sang Wanita lalu tangan lainnya bergerak menjamah beberapa titik rangsangan favorit wanitanya.

Erangan nikmat terdengar saat satu jari berhasil masuk pada lubang bawah milik si Wanita. Senyum senang tercetak jelas dibibir lelaki itu, seraya terus memberi kecupan lembut dileher sang Wanita. Dia selalu merasa gagah karena bisa membuat Wanita cantik dibawahnya terlihat kewalahan.

Diambang kesadaran atas nafsunya, Wanita itu justru berusaha menggapai milik sang lelaki dengan satu tangannya. Setelah berhasil, remasan kuat dia berikan disana. Hal yang membuat erangan lainnya lolos keluar. Senyum susah payah dia perlihatkan pada lelaki itu sebelum remasan yang dia berikan berubah menjadi kocokan cepat tak beraturan. Mereka bergantian saling memuaskan.

Merasa jika tidak perlu lagi mengulur waktu, sang lelaki mengarahkan miliknya agar bisa memasuki Lembah kenikmatan wanitanya. Perlahan namun pasti setelah semua miliknya masuk, pinggulnya dia Gerakan maju dan mundur beraturan. Tetap menjaga agar wanitanya merasa nyaman.

Desahan mereka beradu, hingga sampai pada rintihan wanita yang tengah mencengkram kuat bahu lelaki diatasnya itu menjadi tanda puncak pergumulan mereka.

Keduanya saling pandang masih dalam posisi yang sama, sang lelaki tersenyum menatap Wanita dalam kungkungan tubuh besarnya, senyum yang dibalas tak kalah lebar oleh Wanita itu.

Satu tangan lelaki itu membelai lembut wajah cantik dibawahnya, lalu kepalanya bergerak perlahan untuk mengecup sekilas bibir pink kesukaannya. Berbisik lembut, lelaki itu bertanya, "Apakah dia senang sudah dijenguk oleh papanya sekarang, hm?"

Kekehan halus terdengar menyapa, Wanita dengan perut besar itu mengangguk menanggapi pertanyaan lelakinya.

Melihat jika Wanita yang kini dia tatap begitu cantik, bahkan jauh lebih cantik dari istrinya sendiri, membuat lelaki itu merasa sangat senang. Karena si cantik ini, sedang mengandung anaknya sekarang. Suatu hal yang seharusnya terjadi lebih awal menurut pemikirannya.

"Mas, kamu bisa tolong geser gak? Aku engap banget ini," gerutuan pelan itu terdengar lucu bagi Prananda. Melihat bibir kesukaannya mencebik, rasanya ingin sekali menciumnya sampai si pemilik kesusahan bernapas.

Karena itu, Prananda Kembali mengecup bibirnya, tidak terburu-buru, justru sangat singkat sebelum dia mengangkat tubuh molek berperut besar itu dengan hati-hati.

Berdiri dengan kedua kaki yang terasa lemas membuat Wanita yang tengah mengandung itu−Linda menarik napas beberapa kali seraya tangannya yang masih bertumpu pada kedua tangan Prananda. Dress hamil berwarna merah muda dengan Panjang dibawah lutut yang dikenakan sang Wanita juga sedikit kusut akibat yang terjadi beberapa saat lalu.

Bulir-bulir keringat di dahinya membuat kesan seksi semakin terlihat dimata Prananda.

"Capek banget ya sayang" celetuk Prananda.

Linda mengangguk cepat, satu tangannya yang dia lepas dari pegangan Prananda menonjok lengan lelaki itu pelan, "Aku makin kewalahan gini padahal kamu jelas-jelas udah main pelan. Apa karena kandunganku yang udah hampir 8 bulan ini ya?"

Prananda terkekeh gemas, "but you look so seksi with a big protruding belly, Linda"

Linda hanya tersenyum lebar mendengar ucapan menggoda Prananda.

"Kamu mau aku anterin ke kamar saja?" tanya Prananda.

Namun bunyi teko yang masih mengisi ruangan membuat Linda menggeleng. Bule cantik itu justru berjalan pelan ke arah teko dan mematikan kompornya.

Gerak gerik Linda terus menjadi perhatian Prananda. Dia sungguh begitu mencintai Wanita itu. Lalu saat ini dengan kondisi Linda yang tengah mengandung anaknya, semakin membuat Prananda sigap setiap saat.

"Malam ini aku tidur disini ya? Kandungan kamu sudah besar, sebentar lagi akan melahirkan jadi aku harus siaga 24 jam mulai hari ini."

Gerakan Linda yang tengah menuang air panas pada sebuah gelas mendadak berhenti setelah Prananda membantu memegangi tangannya.

"Aku bisa sendiri, Mas" tolak Linda.

Prananda mendesah lesu. Lelaki itu tentu saja tidak setuju.

"Kamu adalah yang terpenting saat ini Linda. Ah maaf, kamu dan anak kita maksudnya," ralat Prananda.

Selesai menuang air panas pada gelas yang berisi teh hijau, Linda bergeser untuk duduk di kursi meja makan. Disusul dengan Prananda yang juga menarik kursi untuk duduk dihadapannya.

"Bagaimana dengan mba Ratih? Dia istri sah mu mas, kalian juga punya Bayuarka. Dia pasti mencari papanya terus nanti," ucap Linda.

Prananda mengerti akan kekhawatiran Linda. Dia paham betul apa yang sedang mereka jalani. Menjalin hubungan dengan Wanita lain saat dia sudah memiliki istri dan anak yang sah secara lahir dan batin bukan hal yang benar. Namun Wanita Bernama Linda itu juga tidak bisa diabaikan. Linda adalah cinta pertamanya, mereka sudah menjalin hubungan jauh sebelum Prananda menikah dengan Ratih.

Linda mengelus punggung tangan Prananda, senyum getir terlihat diwajah cantik itu. Untuk waktu yang lama, dia sangat merasa bersalah pada istri dari lelaki dihadapannya.

"Sudah kukatakan, kamu dan anak yang ada dalam kandunganmu saat ini adalah yang terpenting. Jangan khawatir terlalu banyak Linda, setelah kamu melahirkan nanti, kita sudah sepakat untuk membesarkan anak kita dengan baik. Semuanya sudah aku urus, Ratih atau ibu sekalipun tidak akan bisa mencegah kita lagi," ujar Prananda.

Sorot penuh yakin dari kedua mata Prananda membuat Linda mengangguk setuju pada akhirnya. Keduanya sangat yakin jika nanti mereka akan menjadi keluarga yang penuh kehangatan dan kebahagiaan.

Tapi mereka lupa kalau keinginan mereka terlalu egois dan memaksa, juga didasari atas ketidak benaran yang menyakiti pihak lain yang tidak bersalah. Niat dan keinginan seperti itu akan sangat berbahaya dan tidak adil untuk yang lainnya.

Jadi, haruskah yang seperti itu dikabulkan?


***

PRECIOSWhere stories live. Discover now