• P r o l o g

26 9 4
                                        

S E M E S T A

"Ibu bisa gak, gak usah drama? Gak usah merasa jadi orangtua yang paling menderita. Yang menderita disini bukan ibu doang." Kali ini Alif menatap ibunya. "semaunya Bu! Semuanya ibu hancurin! Semuanya ibu rusak! Kebahagian aku, kebahagiaan bapak, kebahagiaan kita!"

...

"Asa, papa udah atur semua kebutuhan kamu, tinggal kamu lakuin semua yang papa kasih ke kamu ya nak."

"Papa percaya sama kamu, Sa. Papa bangga sama semua pencapaian kamu sejauh ini."

"Papa yakin kamu bisa jadi jaksa."

"Kamu bisa jadi kebanggaan untuk keluarga ini. Kamu aset papa nak. Belajar yang rajin ya, papa udah daftarin kamu beberapa les tambahan. Kamu atur sebisa kamu ya nak."

"Untuk universitas papa udah siapin yang terbaik buat kamu, kamu cukup ikutin semua yang udah papa kasih ke kamu ya nak. Papa yakin kamu bisa."

...

"Lo gak akan tau gimana rasanya kehilangan satu paru-paru lo. Buat hirup udara yang gratis pun rasanya gak akan selega dulu, sebagian organ lo hilang." Laut menatap lemari hiasnya, dadanya kembali sesak. "bukan cuma paru-paru, segumpal daging yang tugasnya buat memompa darah ke seluruh tubuh lo juga gak bekerja semestinya lagi. Semua udah beda, gak akan bisa kembali normal. Gak ada lagi yang bisa gue jadiin semangat dan tumpuan. Gak ada lagi alasan gue buat berhak bahagia. Gak ada lagi orang yang buat gue merasa kalo gue gak sendirian. Terus lo dengan santainya nyuruh gue buat hidup baik-baik aja setelah semuanya udah gak baik-baik aja?"

...

"Berapa lama, ma?"

"Kontrak papa lima tahun, selama lima tahun papa gak akan boleh pulang ke Indonesia. Tenang aja Sam, setelah lima tahun, papa dan mama akan ambil cuti untuk pulang." Raya menggenggam tangan putranya yang mendingin. "Kamu belajar yang santai aja ya Sam, jangan terlalu capek juga, jangan terlalu pikirin yang bikin kamu pusing. Nanti ambil jurusan yang kamu suka sesuai passion kamu. Mama akan penuhi kebutuhan kamu, kamu gak akan kekurangan apapun. Jaga diri baik-baik ya Sam. Mama papa sayang kamu."

...

"Kisah lo rumit banget ya, eh bukan cuma lo doang, tapi kalian. Gak ada yang bisa jadi milik kalian. Padahal apa susahnya tinggal merelakan yang udah pergi dan merelakan sesuatu yang emang bukan buat lo."

Aylin hampir saja memuntahkan minuman yang sudah masuk ke kerongkongannya. "Lo bisa ngomong kaya gitu, karena lo ga ngerasain apa yang kita rasain."

"Terus lo mau mempertaruhkan kebahagiaan lo lagi?"

"Gue masih percaya kesempatan dan takdir baik."

🪐🪐🪐

Hallo dalam cerita kali ini, aku akan membuat sebuah titik pusat gravitasi yang dimiliki manusia di dalam hidupnya.

Setiap manusia pasti memiliki satu tumpuan yang menjadi alasan mereka bertahan untuk tetap hidup dan menjalani hari-hari menjadi lebih bernyawa. Tapi, apa jadinya jika gravitasi mereka menghilang? Hari hari yang semula berjalan sesuai porosnya, tiba-tiba saja hancur berantakan dan mengambang tanpa tujuan.

Dalam cerita ini, ada 4 episode yang akan menceritakan masing-masing tokoh dengan lebih mendalam. Mencari setiap permasalah dalam hidup mereka dan membantu mereka menemukan titik gravitasinya kembali, walau pusat dalam hidup mereka sudah menghilang.

Happy reading, bantu vote dan tinggalkan jejak di kolom komentar ya love, enjoy 💕

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Jan 12, 2023 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

SEMESTAWhere stories live. Discover now