Prolog

12 3 4
                                        

Hope you like this

Happy reading.....

>>>>>>>>

Aluna POV

Hai, aku Aluna Rainie Pragesta. Aku anak bungsu dari keluarga Pragesta, seorang hakim yang baik di mata dunia, tapi tidak di mataku.

Aku memiliki seorang kakak laki laki yang saat ini sedang belajar di fakultas hukum di Inggris.
Ya, dia akan menjadi hakim juga. Aku tidak tahu apa yang menyebabkan dia ingin menjadi hakim. Padahal sedari kecil, dia ingin menjadi spesialis psikolog.

Kakakku bernama Gibran Roes Pragesta.

Satu lagi kakak perempuan, Candy Angel Pragesta. Dia itu.... emm entahlah.

Satu hal yang aku sesali, kepergian kakakku. Karena keinginannya menjadi hakim, dia meninggalkanku.
Meninggalkan ku bersama para monster berkedok keluarga.

Katakan aku tidak sopan, tapi jika kalian berada di posisi ku, aku yakin kalian akan menyebut mereka iblis.

Contohnya saat ini, sebentar lagi pasti ak-"

Brakkk

"Luna!" teriak pria paruh baya yang ku sesali adalah ayahku, Rio Pragesta.

"I- iya Ayah" aku bukan gugup. Aku takut padanya.

Normal POV

"Lihat sekarang jam berapa? Masih bermalas malasan, hah!?" Aluna melirik kearah jam dinding di kamarnya.

"J-jam 4 pagi ayah" cicitnya pelan.

"lakukan pekerjaan di rumah ini! cepat!" ujarnya kemudian berlalu dengan kembali membanting pintu.

Aluna menghela nafas.

Ini adalah tugas nya setiap hari. Menjadi pembantu.

Aluna bangkit, dia merapikan tempat tidurnya kemudian berjalan keluar. Kamarnya tepat di samping kamar pembantu asli. Di lantai dasar.

Aluna mencepol rambutnya asal, dia menggulung lengan baju nya sampai terlihat seperti tanpa lengan.

Sontak dia meringis. Luka lebam menghiasi lengan atasnya. Dia kembali menurunkan bajunya.

"Heh!" suara tersebut membuatnya menghentikan aktivitas. Ia pun menoleh.

"Iya kak" Aluna mengernyit merasakan bau alkohol menyengat indra penciumannya.

"kak, kamu mabuk?" Aluna berjalan mendekat. Dia berusaha menggapai Candy, hendak membantu nya kembali ke kamar.

"Gausah pegang pegang" Candy mendorong Aluna. Dia kemudian menatap Aluna remeh.

"Lo pembantu ya?" Aluna memilih tak menjawab. Ia mengambil gelas kemudian mengisikan air putih.

"Minum kak"

Dia adalah Candy Angle Pragesta, kakak perempuan pertama yang dimiliki Aluna. Ketus, sinis dan keras. Dia sedang menempuh kuliah S2 jurusan kedokteran.

Aluna memiliki dua saudara kandung dan satu saudara tiri.

"Kak ke kamar yah" Aluna hendak membantu Candy. Namun, di didorong hingga terjatuh.

"Gue ngga suka disentuh cewek lemah! Jauh jauh dari gue!" Candy menjauh dengan tatapan tajam nya. Sekilas, tersirat memancarkan kesedihan.

Aluna menghela nafas, kemudian kembali melanjutkan aktivitasnya.

2 jam berlalu, Aluna selesai menjalankan tugasnya.

Setelah mandi, dia memakai seragam putih abunya. Rambutnya di kuncir biasa. Ia hanya memoleskan pelembab dan bedak.

Aluna saat ini menjadi murid dari Crownrug High School, sekolah yang cukup elit untuk kalangan bawah.

Bersyukurnya, dia masih di beri uang oleh ayahnya.

Rain Malini, bunda Aluna yang sekarang telah meninggal dunia. Dia meninggal saat Aluna dilahirkan. Apakah itu alasan keluarganya membencinya? Entahlah.

Shinta Aylana, ibu tiri yang kini menjadi nyonya rumah Pragesta. Dia memiliki seorang putri yang umurnya sama dengan  Aluna, Kania Melani Pragesta.

Dan yang lebih gilanya, ternyata Kania adalah anak kandung dari ayahnya. Bisa dibayangkan, sudah berapa tahun ayahnya mengkhianati bundanya.

Katakanlah Aluna durhaka, tapi faktanya ia membenci ayahnya sendiri.

Tapi dia tidak bisa pergi. Bagaimanapun, dia adalah ayahnya. Yang memberinya kehidupan yang kemudian ditambahkan bumbu kesakitan, trauma dan rasa bahaya.

Aluna melakukan satu kesalahan, maka 10 hukuman dia dapatkan.

Aluna keluar kamar, dia menghampiri meja makan yang sudah berisi ayah, ibu dan saudara tiri serta kakaknya, Candy.

Saat hendak menarik kursi untuk duduk, sebuah suara menghentikan aksinya.

"Makan di dapur!" Perintah ayahnya.

"Tapi yah-" ucapannya terpotong saat mata lelah itu menatapnya tajam. Aluna menunduk bungkam.

"Ayah" panggilnya lirih.

Rio mendongak, dia menatap anak bungsunya malas.

"Apa aku anak kandung ayah?" mata memerahnya tak mampu ia sembunyikan.

"Apa yang kamu bicarakan! Cepat makan di dapur!" Aluna menahan kepalan tangannya.

Selalu seperti itu. Ayahnya selalu menghindari pertanyaan ini.

"Ayah, jika aku bukan anak ayah, aku rela diusir dari rumah ini" tambahnya lagi. Kegiatan di meja makan terhenti.

"Setidaknya aku akan memiliki waktu memulihkan luka ku" ucapnya tersenyum kecil.

"Kamu bosan hidup?" Rio bertanya sarkas. Hati Aluna teriris mendengarnya. Satu pertanyaan terlintas. Apa ayahnya akan membunuhnya?

"Tidak ayah, aku tidak bosan. Hanya saja, kehidupan ini tidak pernah aku inginkan"

Brakk

"Aluna!" Rio menggebrak meja sambil berdiri. Amarahnya sudah di ubun ubun sekarang.

"Pergi ke sekolah sekarang tanpa sarapan!" Rio kemudian bangkit dan pergi.

"Ya, selalu seperti ini. Hukuman untuk sebuah pertanyaan".

Brakkk

"Gausah drama. Cepat pergi" Candy menarik tangan Aluna kasar, ia kesal dengan drama pagi yang tampak memuakkan.

Candy menghela tangan Aluna kasar hingga Aluna jatuh didepan rumah.

"Ngga usah banyak drama. Pergi sekolah sekarang!"

"Kak. Bisa aku susul bunda aja?" tanya Aluna ngga nyambung.

"Ngga usah sembarangan. Berangkat sekolah sekarang!" Aluna bangkit. Dia kemudian tersenyum kecil.

"Aku berangkat kak" ucapnya meraih tangan Candy, dia hendak mencium tangannya. Namun hempasan menjadi jawaban.

"Pergi sekarang"

Aluna pun berangkat tanpa sarapan, tanpa minum dan tanpa uang saku. Dia tersenyum miris.

"Andai ada yang bersedia membantuku, apakah aku akan mampu melawan mereka?"

>>>>>>>>

Hai guyss. Don't forget to vote and comment

This is my first story in this account.

My other account
@Masthalu21

Follow yahhh.

Ig : Masthalu_21

See you 😉

Save meWhere stories live. Discover now