Perempuan itu menatap keluar jendela mobilnya. Hujan di luar, hujan di dalam. Meskipun tak ada bulir yang keluar dari pelupuk mata perempuan itu, semua yang melihatnya pasti tahu. Dalam diam ia menangis.
Kisahnya telah berakhir sejak lama, namun hanya orang terdekatnya saja yang tahu bahwa perempuan ini masih merasa sakit. Terkadang terlihat bahagia namun terkadang terlihat nelangsa.
Ia berusaha terlihat kuat pada semua orang. Ia tak mau dikasihani. Namun sebarapa rapat ia menyembunyikan, tetap raut wajah dan sorotan mata itu terlihat. Ia sakit di dalam.
"Aku bisa tanpa dia." Begitu ujarnya ketika ditanya tentang hubungannya yang kandas.
Mungkin bagi kalangan orang, melupakan seseorang yang telah berkhianat itu mudah. Namun tidak untuknya. Ia sudah jatuh sangat dalam.
Hingga saat ini walaupun empat bulan telah berlalu sosok itu masih saja terus berada disekitarnya. Pria berlidah tajam itu terus saja memintanya untuk tetap bersama.
Sakit ia rasakan ketika kawan-kawan mengatainya bodoh nan polos. Tapi mereka tak tau, hati perempuan itu seperti apa. Hatinya buta. Ia terlalu tulus pun terlalu susah untuk menolak seorang pengkhianat. Sungguh, ia bersumpah, ia pun tak mau begini.
Pria berlidah tajam datang dengan kata-kata manis beserta wajah sendu yang terkadang kelihatan sekali munafiknya. Perempuan itu terlalu polos untuk bisa menghindar. Bodoh kalau kata kawannya. Kembali mungkin tidak, tapi masih merespon.
Bagai seorang bajingan, pria berlidah tajam itu telah mendekati beberapa perempuan lain bahkan sebelum hubungan mereka kandas. Perempuan itu tahu. Tapi mengapa hati dan pikiran begitu kompak untuk menghancurkan sang perempuan secara perlahan? Bagaimana bisa seorang perempuan begitu tulus mencintai seorang pria bajingan yang telah mengkhianatinya entah kesempatan yang keberapa.
"Terima kasih, karena tidak berpaling dan tetap sabar menunggu." Begitu katanya waktu hari dimana ia telah dilantik. Ucapan itu sangat terdengar tulus dihadapan perempuan itu.
Pada hari yang sama, perempuan itu tahu. Begitu banyak perempuan lain di dalam hubungannya. Ini terlalu tiba-tiba. Subuh itu perempuan bangun dengan tergesa-gesa. Menyiapkan dress yang telah dipesannya dari lalu-lalu. Menyiapkan beberapa riasan, dan bahkan perempuan itu belajar merias karena memenuhi permintaan pria berlidah tajam itu untuk sedikit berias saat pelantikannya. Panas, lapar, dan lelahnya hari itu dibalas dengan beberapa fakta yang terkuak. Ini kejam.
Menemani dari awal tak bisa membuat seseorang tetap setia pada pasangan. Semua orang tahu itu. Meskipun perempuan itu sudah menguatkan hati untuk berjaga-jaga, tapi ia masih begitu sakit ketika tahu yang sebenarnya. Ternyata sampai kapanpun ia tak siap.
Pengkhiantan yang mulai terlihat akan ditutup oleh pria berlidah tajam itu dengan wajah penuh penyesalan, suara lirih, beserta kalimat penenang nan manis. Seperti pemain drama yang sangat mahir.
Perempuan itu tahu, seberapa sering terungkap, seberapa sering ia memberi kesempatan, kejutan-kejutan itu datang terus mengahampirinya. Tak bisa memberi jeda. Perempuan itu dibuat luka berkali-kali.
Padahal pria berlidah tajam pun tahu, luka itu kian membesar dan masih basah. Perempuan ini takut, lukanya membusuk.
Dering telfonnya berbunyi, tertera sebuah nama disana. Senyum tipis terukir. Ada senang ada sakit. Ternyata ia menunggu.
"Hall, calon istri." Begitu sapa seseorang disana. Perempuan itu tersenyum kecut.
"Kabari saja perempuanmu yang lain."
"Mereka tak ada artinya kalau sudah ada kamu." Begitulah. Mendengarnya, perempuan itu merasa muak namun ia tak bisa menahan senyumnya.
Pria berlidah tajam tak henti-hentinya melontarkan beberapa kalimat hingga membuat hati perempuan itu luluh sedikit demi sedikit.
KAMU SEDANG MEMBACA
(CERPEN) Laksana Ironi pada Benak
Short StoryIni sebuah cerita dari seseorang perempuan yang berjuang dengan cinta yang tulus namun selalu dibalas dengan khianat. Menemani dari awal memang tak bisa menjamin pasangan akan tetap setia. Namun semua itu akhirnya membuat jalan pikiran perempuan itu...
