Mesin yang Bernyanyi Lembut
Hujan deras mengguyur kota Yogyakarta malam itu, seperti air mata langit yang tak terbendung. Di pinggir jalan raya dekat Candi Prambanan, sebuah ojek online mogok. Luna berdiri basah kuyup, tangannya mememluk tas ransel uangnya erat-eart. Rambut panjangnya menempel di pipi, mata cokelatnya penuh kelelahan setelah shift panjang di cafe kampus. "Bodohnya aku, kenapa ngga bawa payung," gumamnya pelan, suaranya hilang ditelan gemuruh petir.
Tak jauh dari sana, deru motor medekat pelan, bukan menderu ganas seperti balap liar, tapi lembut seperti nyanyian. Kawasaki Ninja hitam pekat berhenti, sorot lampunya menembus hujan. Pengendaranya turun, jaket kulitnya basah meneteskan air. Aldevano melepas helmnya, rambut hitamnya acak-acakan, tapi matanya hangat menatap Luna.
"Lo baik-baik aja? Naik yuk, gue anterin pulang," katanya pelan, suara dalamnya tenang di tengah badai.
Luna ragu sejenak, menatap cowok asing ini—wajah tampan tapi polos, seperti tak pernah disentuh dunia kejam. "Nggak apa-apa, aku tunggu ojek baru."
Devan tersenyum tipis, malam itu pertama kali hatinya berdegup aneh. "Hujan gini lama nunggu. Geng gue lagi touring deket sini, aman kok."
Akhirnya Luna mengiyakan. Duduk di jok belakang motor milik Devan, tanganyya memegang pinggang Devan pelan. Motor menderu pergi, meninggalkan jejak air di aspal basah. Tak mereka sadari, hujan malam itu bukan akhir—tapi awal dari ikatan yang mengubah hidup abu-abu Devan menjadi penuh warna. Kasih sayang yanag hilang, kembali lewat gadis sederhana ini.
Di kejauhan, garasi tua geng motor menunggu. Keluarga baru akan lahir.
***
Cerita ini sempat hilang, beberapa tahun.
Kini Kembali, dengan versi yang berbeda.
YOU ARE READING
ALDEVANO
Teen FictionAldevano, pewaris keluarga satu-satunya. Hidupnya abu-abu, tidak ada yang spesial. Luna, gadis sederhana yang kuat mengahadapi pahitnya hidup, masuk ke dunia Aldevano melalui sebuah 'perjodohan'. Dari tolak-menolak menjadi saling mengerti, mereka me...
