Perpisahan memang bukan satu-satunya jalan, tapi itu adalah jalan terbaik namun terburuk.
-Dela_Karena_Mereka
Lihatlah aku yang polos, dress merah muda, bando merah muda, senada dengan sandal yang juga warna merah muda. Meski aku sering bilang bahwa warna biru adalah warna kesukaanku, tapi tetap saja apa yang kupakai selalu berwarna merah muda.
Aku tidak pernah pergi jauh dari rumah, selain sekedar berjemur pagi dan ikut dengan ibu mengobrol bersama tetangga sebelah. Paling jauh mungkin hanya pergi imunisasi di kampung sebelah. Ibu selalu melarangku keluar rumah, katanya dunia luar itu bahaya jika keluar tanpa orang tua anak kecil sepertiku bisa menjadi sasaran empuk penculik dan badut-badut penyamar. Makanya aku takut.
Setiap Minggu ayah selalu membelikan es krim atau coklat. Aku tak mengerti kenapa ayah selalu membelikan untuk kakak juga, padahal dia itu nakal. Tidak pantas di belikan apa pun.
Seiring berjalannya waktu aku semakin tahu banyak. Ternyata benar yang ibu katakan dunia luar itu berbahaya, wanita yang ada di-TV bilang ada banyak anak kecil diculik lalu orang tuanya dimintai sejumlah uang. Aku juga tahu dunia cika-cika dari ayah, katanya setiap hari Senin sampai Sabtu mereka sekolah jadi aku tidak boleh mengganggunya.
Setiap 2 atau 3 bulan sekali selalu saja ada wanita menelepon, lewat telepon rumah itu ia selalu ingin berbicara denganku. Hanya sekedar bertanya apa aku sudah makan, sedang main apa, atau apa sudah mandi. Aku tidak suka berbicara lama-lama, jadi kuberikan saja teleponnya pada ibu. Setelah selesai lagi-lagi ibu bertanya apa yang tadi kita bahas. Padahal ia mendengarnya. Ah aku jadi malas menceritakannya. Ibu selalu bilang kalau aku harus mengobrol dengan wanita yang kupanggil mamah itu. Tapi aku selalu beralasan, aku sibuk bersama dua boneka Barbieku.
Setiap malam ayah selalu izin pulang, aku tak tahu pulang ke mana yang ia maksud. Dan aku selalu bertanya pada diriku sendiri, kenapa ayah tidak di sini saja bersamaku?.
Jelas saja aku banyak tidak mengerti, kenapa orang yang harus kupanggil mamah itu selalu ingin mengobrol denganku ditelepon? Kenapa tidak datang saja ke rumah? Dan kenapa ayah selalu pulang ke rumah yang lain? Kenapa ya?
***
Aku bermimpi aneh, di sana aku digendong oleh seorang wanita keibuan. Tangannya terus mengelus rambutku, aku sangat ingat jelas semua yang ada di sana saat aku tak mau lepas dari timangan nya. Sayang aku tak ingat wajahnya yang aku ingat ia begitu bersikap lembut, membelai, mencium, dan tangannya tiada henti terus mengelus-elus rambut dan pipiku. Betapa terasa ia sangat menyayangiku begitu juga aku padanya.
Setelah bangun aku menceritakan semuanya dengan semangat kepada seseorang yang selama ini aku panggil ibu walau seharusnya adalah nenek. Saat itu aku tak mengerti kenapa setelah menceritakan mimpi itu ibu malah berkaca-kaca lalu meneteskan sedikit air mata. Aku hanya mengira kalau ia kelilipan atau hal lain seperti menahan kantuk dan sakit mata. Oh sungguh saat itu aku tidak berfikir apa-apa selain dari hal tadi. Aku juga bertanya kira-kira siapa wanita itu.
"Kamu kangen mamah ya?" Ibu malah balik bertanya
Aku tidak menjawab. Setelah diingat dalam mimpi aku memanggil wanita itu dengan sebutan mah, apa aku merindukan mamah? Sampai tak sadar memimpikannya. Pertanyaan demi pertanyaan muncul di benakku, tapi aku tak tahu apa jawabannya karena saat itu aku tak mengerti apa dan bagaimana rasa rindu itu.
Aku juga tidak mengerti kenapa ibu menceritakan mimpiku pada tante dengan raut yang sedih, apa matanya masih kelilipan? Atau matanya masih sakit? Rasanya sangat aneh kalau terus-menerus ngantuk.
Mungkin saat itu aku terlalu polos, hingga tidak mengerti bahwa hari itu aku dan mamah saling rindu. Kata ibu, mamah pergi bekerja menjadi TKW sejak umurku masih 12 bulan. Setelah ditinggal sekian lama wajar saja jika aku lupa dengan wajahnya. Bahkan saat itu mengenal namanya saja tidak, yang ku kenal hanya panggilan mamah.
Perpisahan memang bukan satu-satunya jalan, tapi itu adalah jalan terbaik namun terburuk. Namanya juga anak kecil, hanya bisa bersikap polos dan tak mengerti apa-apa. Memang demi apapun aku tidak tahu sama sekali alasan mengapa mamah pergi bekerja sejauh itu terlalu bodo amat rasanya hingga tak mencari tahu mengapa.
Sejak saat itu aku tinggal bersama nenek di rumah tua peninggalan suaminya bersama satu kakak lelakiku. Tidak banyak yang aku ingat tentang masa itu yang paling melekat hanya mimpi aneh. Tapi semua akan baik-baik saja, semoga.
.
.
.
.
.
.
-----------------------------------------------------------
Jangan lupa di vote temen-temen.
Cerita ini tidak bermaksud apa-apa yaaa.. iseng disela-sela kesibukan 😂
-FrdlAzr
YOU ARE READING
Karena Mereka
Teen FictionPerpisahan memang bukan satu-satunya jalan, tapi itu adalah jalan terbaik namun terburuk. Aku hanya punya mimpi sederhana sekedar ingin bersama walau tak selamanya. Tapi aku tau itu takkan pernah bisa. -Della Hai semuaa💖 [Jangan lupa follow dan vot...
