april 00.00

20 5 0
                                        

Prolog.

Gadis berambut hitam tergerai itu, menatap keluar jendela menikmati kopi hitam yang ia buat tadi. Mulutnya berucap kecil, melantunkan lirik lagu kesukaannya.

April.

Bulan April, bulan April yang sampai sekarang masih sulit ia lupakan.

Yang sampai sekarang masih selalu ia ingat detik demi detiknya.

Ia menghela napas kasar. Kembali teringat memori April itu.

Di April ia dibuat bahagia seakan April itu benar benar bulan terbaik untuknya.

Tapi diApril juga semua bahagianya mendadak jadi tak indah lagi.

Kopinya perlahan habis kemudian hanya menyisakan ampas. Bersamaan dengan hujan yang lebih menderas dari sebelumnya.

"ampas banget kek hidup gue" ujarnya bermonolog menatap gelas kopinya.

Gadis penyuka senja orange hari ini sedang tak beruntung, pasalnya langit sedang menurunkan hujan.

"rain rain go away, little Gena want to play"

Gena, Genaya Aruna.

Pintu diketuk pelan, membuat gena menoleh kearah pintu. Gena beranjak, menaruh gelas kopi dan berjalan membukakan pintu.

"mau nyemil dulu ga?, senja kalo ditunggu hari ini kayanya gabakal datang sayang, awannya lagi nangis soalnya" Ujar wanita paruh baya mengelus rambut gena.

"engga deh ma, tadi habis minum kopi kok"
Balas gena sambil tersenyum.

"yaudah kalo gitu, kalo ada pengen nyemil dilemari bawah udah mama beliin tadi sekalian beli Sayur" jawab Ayuna Laras, mama Gena.

Gena mengangguk kecil, mengiyakan ucapan ayuna.

Ayuna menutup pintu kamar anaknya dan kembali.

Gena berbalik dari arah pintu. Tak sengaja Melihat kotak kecil diatas meja belajarnya yang sudah lama tak ia buka.

Ia berjalan menuju meja belajarnya yang ada di sisi jendela lalu duduk di kursi belajarnya. Meraih kotak oren berpita hitam tadi. Sudah hampir tiga bulan tak ia buka, rupanya kotak itu mulai berdebu.ia kembali mematap lekat kotak itu lagi. Mempertimbangkan untuk membuka dan kembali bernostalgia atau mengembalikan kotak itu ketempat semula.

10 menit berlalu dan Gena hanya menatap kotak oren itu. Tak berniat membuka atau mengembalikannya.

Tapi otaknya sudah berkelana menyusuri momen momen itu lagi. Dan teringat percakapan singkat itu lagi





















"hidup itu tentang gimana lo terus menjalani" ujar lelaki itu memperagakan dengan jari telunjuk dan jari tengah yang seakan berjalan.

"kalo ada yang pergi ya lo harus cari pengganti, mau dia bisa kembali atau udah gabisa kembali alias mati, hanya orang bodoh, yang tetap diam menanti saat ditinggal pergi, gena"  ujarnya sembari menepuk nepuk kepala Gena. Seakan akan dia tau apa yang selanjutnya akan terjadi.

"gabisa gitu lah, namanya ga setia itu! Kalau gue ada diposisi itu gue gabakal nyari pengganti, gaada yang bisa menggantikan atau digantikan, emang lo bisa nyari seseorang yang sama kek orang yang ninggalin lo?"  jawab Gena menentang.

Lelaki itu terkekeh sebentar lalu kembali melanjutkan.

"ga harus sama gena, lo cari yang  bisa ngedukung lo, nguatin lo, yang selalu ada saat lo butuh, tanpa menomor duakan orang yang udah ninggalin lo, tanpa ngelupain dia, gena"  ucapnya perlahan, sembari menyendokan bulatan bulatan ronde kemulutnya.












"gimana bisa nyari pengganti lo, lo terlalu istimewa, cuma lo yang bisa ngasi semua yang gue butuh" gumamnya masih menatap kotak oren itu.


"hidup sekarang lebih sulit dijalani tanpa lo, i miss you, i am sorry".

Gena menghela napas panjang, memejamkan mata dalam, berharap lelaki itu kembali, kembali menemaninya  menunggu senja seperti hari harinya dulu.

Ia kemudian mengembalikan kotak itu ketempat semula tanpa membukanya seperti yang ia pikirkan tadi.

"makasi udah pernah mampir dihidup gue, maaf gue belum bisa nyari penggantinya lo".

oOo


AprilWhere stories live. Discover now