"Ban, cuci piring," suruh ibuku. Aku yang sedang berkutat dengan ponsel layar sentuh berdecak sebal. Menarik napas kemudian menghembuskan, mencoba untuk tenang dan tidak emosi. Padahal tadi aku sudah membantu menjemur pakaian. Aku melihat ke arah kakakku, yang sedari tadi tiduran bermain ponsel. Aku kadang merasa iri, ia jarang sekali membantu ibu dan anehnya jarang dimarahi. Aku yang baru pegang ponsel saja langsung disambar.
Aku melangkahkan kaki ke kamar mandi. Rumahku tak besar, kecil layaknya kandang hewan. Meskipun begitu, aku harus bersyukur. Rumah ini beratapkan seng, beberapa kayu yang menahan di atas terlihat. Tak ada atap, hanya bagian kamar milik orang tua saja. Lantai rumah ini tak beralaskan keramik. Hanya sekumpulan adonan semen yang sudah mengering dijadikan lantai.
Kamar hanya satu, untuk orang tuaku dan kedua adik perempuanku. Kakakku tidur di ruang tengah yang seukuran kamar mandi orang kaya. Itupun di ruang tengah bercampur dengan meja, dapur, lemari. Ke depan sedikit ada kamar mandi. Tak terbayang betapa sempitnya rumah ini. Aku mulai mencampurkan sabun dengan spon yang terbuat dari kain. Kemudian menggosokkan ke barang kotor.
Kakak laki-laki, namanya Dugi. Ia sudah lulus dari pendidikan SMK jurusan perkantoran. Sekarang ia hanya diam di rumah, terkadang kerja menjadi seseorang yang membenahi kamar di sebuah villa terdekat. Aku tak menyukai dia. Perlakuan orang tua selalu membuatku berpikir tidak adil. Aku menggeleng pelan, dasar aku.
Tinggal di tempat yang seperti ini membuatku tersiksa. Rasa iri selalu melonjak saat melihat yang lainnya nyaman menempati tempat mereka. Bahkan aku tidur di rumah teman, menumpang. Untung saja dia tak pernah keberatan, sebagai gantinya aku akan membantunya dalam pelajaran.
Cucian piring hampir selesai, tinggal menempatkan mereka saja. Aku mencuci tangan, membersihkan. Mengambil ponsel kemudian merebahkan diri di kasur yang ada. Memainkannya. Chattingan dengan teman.
Tinggal di rumah sempit dengan enam anggota keluarga. Tak terbayang bukan? Ekonomi yang tak seberapa, terkadang harus berhutang. Masih untung aku bisa membeli ponsel ini.
"Ban, belikan garam."
Aku geram. Rasanya aku ingin istirahat. Wajahku cemberut. Lelah, aku tahu ini cuma mencuci piring. Aku menghampiri ibu untuk mengambil uangnya dengan wajah muram.
"Kalo disuruh jangan cemberut, kau ini."
Aku terkena omel. Anak laki-laki yang baru masuk SMA, yang merasa tersiksa. Ya, itu aku. Aku ingin merubah diriku, merubah segalanya. Keadaan yang membuatku seperti ini, aku sudah muak. Aku lelah, aku tidak mau hidup miskin.
Berjalan ke arah warung terdekat, saat sampai di jalan raya dan akan menyebrang. Dari sana, ada seorang pemuda yang turun dari mobilnya. Terlihat seumuran denganku. Ia memakai baju keren, rambutnya yang lurus dan basah ke belakang. Wajahnya yang mulus, kulitnya yang putih. Bahkan ia dipayungi!
Aku menghela napas, rasa iri selalu muncul di saat-saat seperti ini. Padahal, aku tidak ingin merasa iri kepada mereka yang mempunyai materi. Aku menyebrang, kemudian memasuki warung dan membeli.
Tanganku menyimpan garam itu di meja, aku kembali berkutat dengan ponsel. "Main hape terus. Ga pernah bantu orangtuanya."
Rasanya aku ingin menangis. Sakit hati, dari pagi aku memang diam saja? Tidak. Ingin berteriak, tapi itu tindakan yang tak boleh dilakukan seorang anak. Aku kesal, siapapun yang masih seumuran denganku, aku yakin. Ia sama sepertiku. Benar, 'kan?
***
Aku menaiki mobil. Rasanya, jika ada perjalanan singkat yang diadakan oleh orangtua itu sangat malas. Aku diajak mereka, mengelilingi daerah dimana menurut orang tua, mereka kaum minoritas. Aku tak mempermasalahkan itu, wajar saja. Ada yang kaya, pasti ada yang miskin. Dunia sudah seimbang.
"Rio, cepat naik."
Aku mendengus. Memasuki mobil milik ayahku. Mewah memang, entah berapa harganya. Rasa nyaman kursinya memang tiada tanding. Ini sangat empuk, aku menyukai ini. AC yang dingin, membuat badanku jadi rileks.
"Ma, kita hanya jalan-jalan. Kenapa harus memakai pakaian serapi ini?" Aku bertanya. Padahal hanya melihat sekumpulan orang miskin, aku mendekatkan kepalaku saat Mama menyuruhnya untuk mendekat. Rambutku dielusnya dengan lembut. Ia tersenyum dengan wajah cantik dan awet mudanya.
"Pakaian akan melambangkan status sosial. Bahkan kepribadian."
Sejak kecil. Aku selalu diajarkan untuk mementingkan status sosial. Seolah itu adalah hal yang mutlak.
Mobil ini berhenti tepat di sebelah warung sisi kanan jalan. Saat aku melihat ke arah kiri, ada pemuda yang memakai baju seadanya. Di tangannya, ada genggaman uang berwarna abu-abu, aku memicingkan mata untuk memastikan. Dia seperti tertegun melihat mobil ini berhenti di depannya.
"Rio, ayo keluar."
Aku melepaskan sabuk pengaman. Kemudian turun, reflek supir memayungi ku. Aku berdecak, sekarang aku terlihat seperti anak kecil. Tapi, kata mama, perlakuan akan selalu menunjukkan status sosial. Aku harus bisa memahami itu.
Kami berjalan ke salah satu rumah, kemudian bertanya-tanya. Aku tak tertarik. Menunggu dan menunggu. Saat kepalaku menyapu seluruh pemandangan, alis ini bertaut seketika. Kotor dan jorok. Sampah dimana-mana, semak belukar dan got yang begitu kotor. Aku ingin muntah.
"Sayang, kemari."
Aku berjalan menghampiri mama. "Kenapa, Ma?"
Mama menjelaskan bahwa ia akan membantu ekonomi mereka. Dengan syarat, mereka harus bekerja ke rumah Mama. Tawaran ini memang sudah lama, sejak dua minggu terakhir. Keluargaku meminta keluarga ini untuk memikirkan kesepakatan ini. Mereka terlilit banyak hutang, maka dari itu mama ingin membantunya dengan syarat yang menurutku wajar.
Aku tidak tahu, sejak kecil hidup enak. Orang tua perhatian, relasi banyak. Teman pun banyak, entahlah. Kalian, jika ada yang sepertiku, ini begitu nikmat bukan?
Aku Rio. Remaja kelas 10 SMA, yang hidup lebih dari cukup. Anak tunggal dari dua pasangan ternama.
YOU ARE READING
Dua sisi
Teen FictionBukalah mata kalian lebar-lebar. Di sana, ada dua sisi yang berbeda. Memang nampak, tapi tak pernah ditanggap. Kedua sisi itu, menjadikan kita menilai ketidakadilan. Buku ini, akan membawa kalian seberapa sakitnya menjadi sisi yang satu, kemudian me...
