Sean or Ethes?

34 11 12
                                        

Seorang lelaki dengan kulit pucat tengah terbaring memejamkan mata. Alisnya menukik, dahinya terlihat membuat sebuah gerutan, napasnya yg memburu tak beraturan, wajahnya terlihat gelisah dalam tidurnya. Lelaki itu adalah Sean. Untuk kesekian kalinya dia harus terbangun di tengah tidurnya. Dan untuk kesekian kalinya kejadian yang berusaha ia lupakan sejak dulu muncul kembali dalam mimpinya, menjadi alasan utama mengapa ia selalu terbangun saat dini hari. Mimpi mengenai Ethes, saudara kembarnya.

Sean hanya bisa menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri dengan mengatur napas. Ia melirik jam dinding yang tengah menunjukan pukul 2:00. Ia segera kembali menarik selimut hingga menyembunyikan seluruh tubuhnya sambil memejamkan matanya berusaha tidur kembali.

Sean dan Ethes adalah sepasang saudara kembar. Dengan wajah yang nyaris sama, tentu saja sangat sulit membedakan mereka. Jika dilihat dari fisik, hanya lesung pipi saat mereka tersenyum yang menjadi dasar seseorang untuk mengenali nama masing-masing si kembar. Sean merupakan pemuda biasa yang supel, dia sangat mudah bergaul dengan orang lain.

Saat ini Sean hanya hidup sebatang kara, keluarganya telah habis dibantai oleh seorang pembunuh yang keji. Sedangkan saudara kembarnya, tak jelas mengenai keberadaanya. Ethes memilih mengasingkan diri tak lama setelah kematian keluarganya. Namun Sean selalu beranggapan bahwa Ethes telah mati. Anggapan tersebut bukanlah tanpa dasar yang jelas. Saat Sean berusaha membujuknya untuk tetap tinggal, saudaranya yang lebih dulu melarikan diri ke dalam hutan yang jauh hingga langkahnya di hadang binatang buas. Bukan tak mungkin Ethes telah lebih dulu menjadi mangsa, di tambah banyaknya ceceran darah yang tersebar pada tumpukan dedaunan yang telah kering, semakin menguatkan asumsi Sean bahwa saudaranya telah tiada. Sean hanya bisa menangis dalam diam saat itu. Hingga Sean memilih memutar balik arah sebelum dirinya ikut menjadi mangsa seperti saudaranya.

Saat ini, Sean telah membuat janji  bersama Willis untuk pergi ke hutan bersama mencari tanaman  yang bisa mereka jadikan obat kemudian dijual. Sean sedang menyiapkan keperluan yang ia gunakan untuk pergi ke hutan. Tak terlalu banyak, dia hanya membawa tas yang nantinya ia gunakan untuk menampung tanaman obat serta sebuah lampu tangan. Sean telah memperkirakan perjalanan kali ini akan memakan waktu hingga petang menjemput. Tak lama kemudian terdengar suara ketukan pintu.

'Tok Tok Tok'

Sean segera memakan roti gandum yang ada di meja dalam sekali suap serta meminum segelas air sebelum ia berjalan dan menghampiri Willis yang telah sampai di depan pintu rumahnya.
.
.
.
.
.
Suara ranting yang yang telah patah, serta sedaunan kering yang terinjak kaki kedua pemuda itu terdengar begitu jelas. Suhu udara sudah mulai menurun, matahari pun sudah memancarkan gradasi ungu dengan jingga yang apik. Tanaman yang mereka cari memang terbilang cukup langka hingga mengharuskan mereka masuk ke bagian dalam hutan. Mereka bahkan baru sampai ketika petang menjemput. Suasana hutan saat ini begitu mencekam. Tak ada sumber pencahayaan selain lampu tangan yang mereka bawa.

"Will, aku akan mencari tanaman itu di sebelah sana, di dekat gua itu" Ucap Sean sambil menunjuk sebuah gua yang tak jauh dari tempatnya berdiri.

"Baiklah, aku akan mencari di sekitar sini. Jika sudah cukup, kita bertemu lagi di sini" Di susul anggukan oleh Sean.

Malam semakin larut, serangga pun semakin keras bernyanyi. Willis merasa cukup dengan tanaman yang ia dapatkan, dia pun berjalan dengan hati-hati ke tempat semula. Namun Sean belum ada di sana, Willis pun memutuskan untuk menunggu sahabatnya.

Selang beberapa saat, Sean tak juga menampakkan batang hidungnya. Hingga akhirnya Wilis memutuskan menyusul Sean. Saat Willis hendak melangkahkan kakinya dia samar-samar melihat Sean berjalan keluar dari gua. Hingga semakin dekat, Willis melihat ada yang berbeda dari Sean. Wajahnya penuh lebam, pakaiannya begitu lusuh dan ada banyak darah di area dadanya. Willis ingat jelas Sean tak membawa pasak di tangannya. Sosok di depannya menyeringai,  menampilkan lesung pipi tunggal yang menghiasi pipi kirinya.

Willis sadar, itu bukan Sean. Itu adalah Ethes, tersangka utama atas pembantaian kejam yang dialami keluarga sahabatnya. Ethes yang selama hidupnya mengidap sindrom DID. Salah satu alter egonya dengan keji menancapkan pasak tepat ke jantung anggota keluarganya saat mereka tertidur. Ethes yang kala itu baru tersadar mengalami trauma yang yang cukup parah hingga dia memilih berlari mengasingkan diri di dalam hutan. Dia sangat takut kala itu. Dia takut jika alter egonya yang lain kembali bangun dan membahayakan nyawa lebih banyak orang. Sean memang sempat mengejarnya dan mengatakan akan membantu Ethes menghadapi alter egonya, tapi langkahnya terhadang oleh binatang buas. Saat itu juga Ethes memanfaatkan kesempatan tersebut untuk melarikan diri.

Dan kini, sosok itu ada di depan Willis. Tepat tiga meter dari tempat lelaki itu berdiri, tengah memegang pasak yang dilumuri darah.

.

.

.

             END

Hai semuanya, sebelumnya makasih banget udah mau baca work aku. Mo nangis gweh. Jujur aja ini cerita pertama yang aku buat😭😭. Aku sendiri bingung ini bisa disebut ff atau bukan. Intinya karakter utama terinspirasi dari Sehun. Kalo ada kritik atau saran silahkan tulis di kolom komentar,tapi dengan bahasa yang halus dan sopan ya hehe.. 

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Nov 11, 2020 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

SEAN OR ETHES? I DON'T KNOW (oneshoot)Stories to obsess over. Discover now