Gerimis jatuh dengan hati-hati basahi bumi. Pelan-pelan mengubah awan galau berwarna putih. Pelan sekali, seakan tak ingin ada yang terluka saat nanti cerah datang. Tapi, cerahnya kali ini benar-benar lama. Bahkan, jam kuliah terakhirku telah berakhir lima menit yang lalu. Sial.
"Duh, nggak bawa payung, tempat nunggu angkot malah jauh lagi, sial!," rutukku kesal. Bagaimana tidak, hari sudah sangat sore, apalagi di saat gerimis begini gelap lebih cepat menghampiri. Kampus tempatku kuliah juga jauh dari pemukiman penduduk. Kendaraan umum yang keluar masuk kampus hanyalah kendaraan yang khusus menampung mahasiswa yang hendak pulang ke kosannya. Jika sudah sore begini, angkot sudah jarang yang masuk, apalagi bus. Terlebih, tempat menunggu angkot ataupun bus jaraknya cukup jauh dari gedung kuliah. Artinya, aku memerlukan payung untuk bisa sampai ke tempat pemberhentian bus ataupun angkot. Dan sialnya, aku terkecoh karena teriknya matahari siang tadi. Biasanya, aku selalu sedia payung, tapi karena siang tadi sangat terik, bagaimana mungkin aku kepikiran membawa payung?
Para mahasiswa yang tadi satu kelas denganku ataupun yang tidak, namun kuliah di jam sama di gedung ini, sudah mulai beranjak pergi. Yang punya kendaraan pribadi tentu tak perlu banyak pikiran sepertiku. Namun, ada juga beberapa yang tak memiliki kendaraan pribadi memilih menembus gerimis untuk pulang. Hal yang seharusnya juga aku lakukan, tapi tak berani aku lakukan.
Aku punya trauma tersendiri terhadap gerimis. Aku juga masih ingat betul kata ayah, bahwa "gerimis lebih tajam dari hujan dan gampang bikin demam", aku tak pernah tahu dari mana ayah dapatkan sumber untuk steatmen-nya itu. Namun aku yakini itu sebagai kebenaran karena dulu sewaktu kecil aku jatuh demam sehabis main di tengah gerimis bersama teman masa kecilku. Mungkin semua orang memang membenci demam. Tapi aku lebih benci demam dari siapapun. Karena saat demam nafsu makanku akan hilang. Jika dipaksakan makan pun aku selalu memuntahkan makananku. Ditambah lagi, aku takut minum obat. Itulah mengapa demam sangat mengerikan bagiku.
"Gis, udah mulai sepi kita harus segara pulang. Serem nih!, " Ucap Riska, temanku yang sedari tadi kehadirannya di sampingku terlupakan. Riska adalah teman yang baru aku kenal beberapa hari yang lalu. Kami sama-sama mahasiswi baru yang kebetulan berada di kelas yang sama. Riska orangnya gampang akrab, itulah mengapa aku cepat berteman dengannya.
"Eh, malah sibuk bengong! Iya Gue tau Lo takut gerimis kan. Tapi nggak bengong juga dong. Bantuin mikir ih!," Cerutu Riska. Meski baru kenal, kami sudah bicara banyak hal tentang diri masing-masing. Makanya Riska juga tahu aku tak akan pulang menembus gerimis bersamanya.
"Gue bingung juga," jawabku putus asa. Aku sebenarnya juga tak enak hati dengan Riska karena ikut terjebak bersamaku di kampus yang sudah mulai sepi dan gelap ini, padahal ia bisa saja menembus gerimis yang lumayan lebat itu menuju tempat pemberhentian angkot. Tapi bagaimanapun aku tak punya keberanian juga untuk menyuruhnya pulang duluan ataupun ikut bersamanya menembus gerimis.
"Gue ada ide tapi Lo nggak boleh nolak ya," tawar Riska. Aku mengangguk setuju. Riska telah mencoba mengerti dengan kekuranganku. Bagaimana mungkin aku akan mempersulit sarannya.
"Kita nebeng sama mereka aja ya, biar Gue yang ngomong," ucapnya sambil memberikan isyarat dengan kepala, menunjukkan "mereka" yang ia maksud. Mereka yang ia maksud ternyata dua mahasiswa yang tadi sekelas dengan kami. Mereka tampak tengah siap-siap akan pulang mengambil sepeda motor mereka masing-masing dari parkiran tak jauh dari tempat kami berteduh.
"Iya deh, jawabku nurut. Kemudian aku mengekorinya mendekat kepada dua mahasiswa yang satunya kuketahui bernama Jack dan satu lagi aku tak tahu namanya karena cenderung pendiam. Aku memberi ruang untuk Riska bicara dengan mereka sementara aku menunggu sedikit berjarak. Meski aku cerewet dan mudah akrab seperti Riska, tapi aku sedikit pendiam dan pemalu jika menyangkut cowok, khususnya cowok yang baru aku kenal.
Setelah Riska selesai bicara dengan mereka, ia menghampiriku. Ia mengatakan jika dua mahasiswa itu setuju untuk memberikan tebengan dan mengantarkan kami ke kosan. Riska kemudian mengajakku mendekat.
Baru saja aku mendekat, mahasiswa pendiam itu menyodorkan helm-nya berikut sebuah jas hujan padaku. Meski ia tak bicara, tapi aku cepat memahami jika Riska pasti menyuruhku nebeng dengan mahasiswa pendiam ini, kemudian Riska bersama Jack. Riska pasti juga telah mengatakan masalahku pada laki-laki ini sehingga ia menyodorkan helm dan jas hujannya yang hanya satu itu untuk ku pakai.
Tak ingin membuang waktu karena gelap semakin menghampiri, aku segera mengenakan helm dan jas hujan itu dan segera naik ke atas sepeda motornya.
Sepanjang perjalanan, aku dan mahasiswa pendiam itu hanya diam. Mulutku yang biasanya cerewet rasanya kehabisan kata-kata untuk sekedar memulai pembicaraan dengannya. Sementara aku sibuk merangkai kata-kata yang sekiranya bisa aku ucapkan untuk sekadar mengajaknya bicara, kami telah sampai di kosanku. Jadinya, kata-kata yang sepanjang perjalanan sibuk aku rangkai terjalin menjadi dua kata saja, "thanks ya".
Entah kenapa, sejak gerimis sore itu, telingaku menjadi sedikit penasaran mendengarkan apa-apa tentang mahasiswa pendiam yang kemudian aku ketahui bernama Devan itu.
Ayah, apa ini juga termasuk demam setelah gerimis?
YOU ARE READING
A Love that God Chose
General FictionKata ayah, "gerimis lebih tajam dari hujan karena rentan bikin demam". Benar Ayah, gerimis sore ini sangat tajam. Tapi, tajamnya kali ini tak melukai, tak sakit. Hanya saja kadang buat aku pusing. Tapi, tak pening, tak buatku mual, tak membuat suhu...
