PROLOG

23 1 1
                                        

Pernahkah kamu merasa hidupmu terlalu pahit? 

Mungkin pernah berwarna-warni dengan varian rasa, tapi pada akhirnya hanya menyisakan kepahitan. 

Seperti makan coklat atau permen; ada rasa manis yang begitu membahagiakan, tetapi hanya sesaat, dan kemudian menghilang. Manisnya memberikan memori indah meski sekejap, tapi akhirnya meninggalkan jejak pahit di ujung lidah.

Aku pernah merasakannya, tentu saja. Aku adalah anak perempuan dan anak pertama dari tiga bersaudara. Usia masih cukup muda, masih kepala dua, jadi terbilang muda, bukan? Aku hidup berkecukupan, tipikal perempuan mandiri dengan karir yang cemerlang dan dikelilingi orang-orang yang menyayangiku. Ambisius, itu juga aku. Namun satu hal, aku tak tertarik untuk mencari pasangan. Kesendirian, bagiku, adalah teman yang tak pernah menuntut lebih dari yang bisa kuberikan. Kesendirian bukanlah masalah; ia seperti selimut hangat di malam yang dingin—aman, tenang, dan menjauhkan diri dari luka yang ditinggalkan oleh kehadiran orang lain.

Namun, semua itu bukan berarti tanpa luka. Semua luka memuakkan. Seperti pahit kopi tanpa gula yang tertinggal di lidah, rasa itu tak benar-benar hilang, mengendap di sela-sela kenangan yang enggan memudar.

Enam tahun lalu, peristiwa itu mengubah segalanya. Sesuatu yang mengubah kemanisan menjadi kepahitan, membuatku meragukan semua hal yang kuyakini.

Mungkin ini hanyalan bagian dari perjalanan hidup, perjalanan yang belum kutemukan tujuannya, perjalanan yang entah bagaimana nanti akhirnya. Akan tetapi, ada satu hal yang pasti: aku tak ingin lagi merasakan pahit yang sama.  

  

¡Ay! Esta imagen no sigue nuestras pautas de contenido. Para continuar la publicación, intente quitarla o subir otra.
Diary of Her: My PersonaHistorias para obsesionarse. Descúbrelo ahora