Pertama dan Terakhir

34 7 0
                                        


Seorang laki-laki dengan muka khas bangun tidur terlihat begitu penat memikirkan sesuatu, entah apa itu. Ia memijat keningnya yang berkerut dan sesekali ia menorehkan tulisan ke bukunya.

"Apakah lelah?" Ucap seorang wanita yang duduk di sebelahnya sambil membawa cangkir berisi kopi yang uap nya mengepul. "Sini biar aku bantu pijat." Wanita itu pun beranjak bangkit, namun laki-laki itu dengan sigap menangkap pinggangnya dan mendudukkan wanita itu di pangkuannya.

"Tidak usah, peluk aku. Pelukan dan secangkir kopi buatanmu cukup untuk melepas penat." Ucapnya seraya tersenyum, memamerkan lesung pipinya yang membuat laki-laki itu tampak manis.

Wanita dipangkuannya tersipu malu, pipinya merah seperti kerang rebus. Ah sial, betapa manisnya mereka, sampai-sampai....

Brak!

ya bagus, daun pintu berwarna coklat muda itu terbanting ke arah dinding di belakangnya.

"Astaga, maafkan aku pintu," Ucap orang yang membanting pintu seraya mengusap bagian belakang pintu.

Setelah mengusap bagian belakang pintu, ia kembali fokus dengan tujuannya dan menatap sepasang insan yang sedang berpelukan. Pipinya ikut bersemu merah. Ia mengusap tengkuknya "Hehe, maaf." ia menaikkan bahunya dan berjalan ke arah mereka.

Sang wanita pun berniat untuk bangun, mempersilahkan laki-laki yang merupakan suaminya untuk melanjutkan pekerjaannya. Namun apadaya, suaminya tidak mengizinkan dan malah semakin mempererat pelukannya.

Laki-laki yang membanting pintu tadi... ah itu si bungsu. Laki-laki tampan yang dikagumi banyak wanita. Namun walau seperti itu, ia belum ingin serius ke arah yang seperti itu, ia memilih untuk fokus kepada karirnya terlebih dahulu, mengikuti jejak kakaknya yang lain.

Bukan, bukannya Kakak yang satu ini tidak fokus kepada karirnya, justru kakaknya yang merangkap sebagai Leader dalam grupnya ini bekerja lebih keras. Akan tetapi, sekarang ia sudah menemukan cinta sejatinya terlebih dahulu.

"Ada apa, Kasa?" Akhirnya, Kakak nya ini memecahkan keheningan, memanggil member yang juga merangkap sebagai adiknya yang membanting pintu tadi.

Laki-laki yang dipanggil Kasa itu dengan bersemangat menceritakan bahwa ia sudah menemukan lirik dengan nada dan tempo yang tepat untuk single mereka. Namun, tidak lama... ia mengubah ekspresi wajahnya "Oh ya, Kak Nam. Apa kau yakin akan mem-publish single ini di tengah-tengah persiapan kita untuk comeback di akhir tahun nanti?" Tanyanya tiba-tiba dengan nada khawatir yang tersirat di dalamnya.

Laki-laki yang di panggil Kak Nam itu membaca laporan yang dibawa Kasa---masih dalam posisi memeluk istrinya---, ia meneliti dan tersenyum di akhir. Ia menatap Kasa dan berkata. "Kita akan memberikan lagu ini untuk mereka yang mencintai kita, aku tidak tahu bagaimana reaksi mereka. Tapi, aku yakin, mereka rindu dengan kita sama seperti kita yang begitu merindukan mereka. Dan mungkin lagu yang kita buat bisa sedikit menghibur mereka di masa sulit ini." Ucapnya dengan penuh keyakinan.

"Apa kau yakin?" Kasa menatap Sang Leader dengan khawatir. "Ya, kenapa tidak? Dan kenapa wajahmu khawatir begitu, Angkasa?" ucap Sang Leader dengan kekehan di akhir.

Sang Kakak memanggil ia dengan nama lengkapnya, yang berarti ia serius ---ah tidak, sangat sangat serius. Kasa menghela nafasnya dan menyenderkan tubuhnya di sofa, "Baiklah kalau begitu, semoga responnya baik." Ucapnya mengalah dan tersenyum kembali.

••••••••••

Nam menatap layar ponselnya yang menunjukkan laman papan billboard, disana tertulis nama grup dan judul single yang baru mereka rilis. Masih tidak percaya dengan yang ia lihat, ia me-refresh laman itu dan menunjukkan ponselnya kepadaku.

"Sayang, apakah aku bermimpi?" ia menatapku yang sedang menangis terharu bersama membernya yang lain. Aku menoleh ke arahnya, menunjukkan senyuman terbaikku dengan air mata bahagia. Aku memeluk erat Nam dan berkata, "Iyaa! Kamu berhasil, Kalian berhasil! Kalian berhasil membahagiakan mereka, dan tentunya kalian juga berhasil membuat mereka bangga dengan pencapaian ini."

"Kamu sudah bekerja keras, Sayang. Dan ini hasilmu." Aku melanjutkan ucapan ku, masih dengan senyuman manis seperti yang diajarkan Nam, lalu menangkup pipinya dan mengecup bibir ranumnya dengan lembut.

Nam pun tersenyum, raut wajah khawatirnya hilang seketika. Ah, lesung pipinya semakin dalam saat ia tersenyum lebar seperti ini, manis sekali. Nam membalas pelukanku dilanjutkan dengan menatap teman-teman satu member nya yang masih menangis bahagia dan saling berpelukan, diiringi kekehan di akhir. Jarang sekali pemandangan rusuh seperti ini. Apalagi ketika Angkasa badannya di goyang-goyangkan oleh sang pemilik senyuman kotak, dan pipinya ditepuk-tepuk oleh member tertua. Member tertua itu yang biasanya mengutarakan jokes bapak-bapak, saat ini sedang menangis bahagia.

"Kak Nam, sepertinya aku akan tidak tidur malam ini. Ini membahagiakan sekali!" Ucap member tertua ke-empat, sang Matahari. "AKU BAHAGIA SEKALI!!" ulangnya sambil berteriak dan berlari mengelilingi dorm, yang disusul dengan tawa bahagia para member.

Setelah itu, mereka membuka ponselnya masing-masing, memberi kabar kepada fans-nya bahwa mereka tidak bisa tertidur. Berterimakasih atas bantuan mereka, bagaimanapun juga mereka tidak akan seperti ini tanpa mereka. Bahkan salah satu member yang termuda ketiga, sang Malaikat. Mem-posting banyak curhatannya di laman sosial medianya, masih dengan tangisannya ---mereka se-bahagia itu.

Aku tersenyum. Iya, Aku. Istri dari Sang Leader. Alzio Purnama Semeru, seorang leader bijaksana yang memiliki hati selembut kapas. Sosok laki-laki penyayang dan penuh perhatian. Seseorang yang rela begadang demi menghibur orang yang menyukainya.

Orang yang dulu sering sekali di olok "Jelek.", "Wajahmu tidak cocok untuk menjadi idol!", "Orang dari kampung mana bisa menaklukkan dunia."

Namun, lihatlah sekarang. Keadaannya berbanding terbalik. Bahkan, orang yang mengoloknya keadaannya terlihat lebih menyedihkan.

Saat seperti ini, saat Nam dan member grupnya sesukses ini, mereka tetap rendah hati. Mereka menyebarkan pengaruh positif. Dan sayang sekali, banyak orang iri yang gengsi mengakui bahwa mereka iri dan menutupinya dengan rasa dengki.

Tujuan baiknya, yang ingin menghibur fans nya dan tetap mem-publish single nya di tengah-tengah persiapan comeback mereka, menghasilkan sesuatu yang jauh lebih baik. Suamiku dan member di grupnya, mendapatkan hasil yang baik. Semakin banyak fans yang menyukai, rasa rindu mereka terobati, dan juga  memenangkan banyak penghargaan dan mendapat banyak trophy.

I'm so proud of them.

Benarkan? Usaha tidak akan mengkhianati hasil. Sesekali mungkin iya, tapi jangan pernah berhenti disana. Coba lagi, siapa tau di lain waktu, itu adalah giliran kalian. Dan tentunya, Team work mades the dream work. Hidup layaknya dinamit, bukan? Hal ini tergantung kamu bagaimana cara menghadapinya.

Apakah kamu hanya ingin menyaksikan dinamit itu meledak, atau justru kamu yang akan meledakkannya dan membuat orang disekitarmu menatapmu dengan kagum.

Kesuksesanmu, tergantung bagaimana proses mu untuk menggapainya.

••••••••••

-DN

Dinamit KehidupanStories to obsess over. Discover now