Hal-hal yang paling menyenangkan disaat seperti ini adalah tidak ada Ujian Nasional yang ia yakini nilainya pasti tak karuan.
Jovanka benar-benar tak paham tipe soal-soal HOTS yang sempat gurunya berikan. Otaknya langsung terasa panas membara. Ia yakin dirinya tak begitu bodoh, namun ia benar-benar tak paham bagaimana cara mengerjakan soal-soal yang diberikan tersebut. Tetapi, saat si guru memberikan kunci jawabannya, Jovanka merasa sangatlah bodoh, jawabannya ternyata semudah itu.
Intinya adalah Ujian Nasional yang sempat hilang menyelamatkan Jovanka dari amukan kedua orang tua.
Kali ini di daerahnya ada dua sesi Pendaftaran, yang pertama adalah jalur prestasi nilai rapot, prestasi sertifikat, afirmasi, anak guru, dan semacamnya, serta yang kedua adalah jalur zonasi yang dimana memiliki kuota sekitar 50% dari total murid yang alan diterima sekolah.
Jovanka mendambakan sekolah negeri favorit yang lumayan dekat dari rumahnya itu, SMAN 4 BEKASI. Orang tuanya sudah sempat bilang bahwa kemungkinan tidak diterima di jalur prestasi rapot mengingat nilainya pas-pasan.
"Kalau jalur rapot engga masuk, kamu masuk sekolah swasta islam aja," begitu ucap Mamanya yang melekat erat di otak Jovanka. Sebenarnya ia tak masalah tetapi selagi ada kesempatan untuk memasuki sekolah negeri kebanggaannya kenapa tidak?
Hari pun berlalu dan pengunguman murid-murid yang diterima di jalur sesi pertama ini sudah muncul, Jovanka mencari namanya dengan panik namun hasilnya nihil. Ia bahkan mencarinya satu persatu melewati halaman perhalaman yang ada dengan harapan bahwa nama miliknya tertera disana.
Sesudah itu pun, mamanya mengamuk dan terus berucap, "Makannya nurut aja! Swasta!" Jovanka rasanya antara ingin menangis dan tertawa kala itu. Bukannya orang tuanya sendiri yang bilang tidak apa-apa mencoba jalur rapot terlebih dahulu? Mama sendiri yang panik mengira jika kemungkinan jalur kedua tidak dapat maka ia akan susah mencari sekolah, untungnya sekolah swasta yang akan dituju itu tidak memiliki kenaikan harga saat pendaftarannya sudah melewati yang seharusnya, jadi mamanya bisa sedikit tenang.
Sedikit informasi, mamanya itu bernama Eni Arsela, ibu berparas cantik yang tegas dan menyeramkan menurut anaknya namun tak dipungkuri sangat baik.
Sesudah omelan itu pun semuanya kacau, mama dan ayah mulai ribut apakah harus mencoba zonasi atau tidak. Jovanka hanya diam di kamarnya yang ada pada lantai kedua rumahnya, memainkan handphone miliknya dengan santai dan menyetel lagu korea kesukannya dengan lumayan keras di laptop.
Hari terus berlalu dan orang tua Jovanka pun setuju untuk mencoba jalur zonasi terlebih dahulu, dari map jaraknya adalah 1 km kurang. Mau tahu kisah lucu dibalik pengukuran ini?
Sebelum menggunakan google maps, mamanya itu mengukurnya dengan cara melihat speedometer yang ada di motor beat kesayangan keluarga Jovanka. Lucu bukan? Setidaknya itu cukup untuk menggelitik pikiran Jovanka selama beberapa hari. Apalagi saat dengan pedenya sang mama berlari ke arahnya sambil berucap, "Ih! Cuman 500 meter loh! Masuk ini harusnya!"
Hari pun berlalu lagi seperti biasa dan pendaftaran sudah dimulai. Mama menyuruh abang Jovanka untuk membantunya mengisi informasi mengenai pendaftaran yang ada. Namun apa yang terjadi? Saat di kamar, menggunakan laptop sang abang, hanya Jovanka lah yang mendaftarkannya. Ketika Jovanka menanyakan sesuatu, abangnya pasti akan langsung membalas, "Apaan sih gitu aja engga bisa?" Ya emang dia engga bisa! Kalau Jovanka sendiri bisa, untuk apa dia bertanya coba? Caper?
Ada beberapa hal lagi yang menurut Jovanka cukup hilarious adalah ketika sekolah menelpon menanyakan kebenaran alamat yang Jovanka isi. Saat itu Jovanka masih tiduran santai membaca komik kesayangannya dengan baju tidur yang ia pakaidari semalam sebelumnya diteriaki oleh sang Mama untuk segera turun dan mengganti baju.
Setelah mengganti baju, Jovanka pun mencuci mukanya dengan cepat. Sedikit rahasia diantara kita, Jovanka tidak menggosok giginya, hihihi. Toh, ia akan memakai masker, siapa yang mau mencium bau mulutnya juga?
Saat sedang memakai kerudung segi-empat pun, mama berteriak keras, "Buruan dong! Ditungguin sekolahnya itu!"
Singkat cerita, saat sampai ke sekolah, Jovank menurunkan maskernya karena cukup gerah dan memastikan tidak ada orang disampingnya kecuali Mama yang berjalan jauh di depan. Tapi siapa sangka, kebodohan Jovanka yang sedang mengelap keringat itu terlihat oleh guru yang sedang berdiri di pintu kantor?
"Dipakai atuh neng maskernya." Hebat kamu Jovanka, baru masuk sudah memalukan. Ia pun meminta maaf dan tersenyum mengangguk lalu pergi cepat-cepat sambil menggunakan masker.
Setelah mengobrol dan menunggu, ternyata mereka mengisi alamatnya tidak sesuai gmaps, sebenarnya sih memang gmaps yang salah. Alamat mereka sudah benar, terutama dibagian RT dan RW yang seharusnya 20/12 tetapi di gmaps malah menjadi 3/10. Dan ternyata itu bukan terjadi hanya kepada Jovanka saja, beberapa murid lain pun terjadi hal yang sama tapi anehnya mereka lewat telpon, jadi untuk apa Jovanka tadi buru-buru datang ke sekolah?
-
Hari ini pun terjadi daftar ulang. Iya, Jovanka masuk ke sekolah impiannya. Tepuk tangan dan kalimat kebahagiannya tolong cantumkan di kolom komentar.
Beberapa hal bodoh terjadi lagi. Saat sedang memfotokopi di kang fotocopy depan sekolah impiannya itu, Jovanka diberitahu teman untuk membawa Surat Keterangan Lulus (SKL) yang sudah di-legalisir. Panik, ternyata Jovanka belum melegalisir miliknya, ia bahkan meninggalkannya di rumah.
Jovanka yang saat itu diantar mama pun pulang ke rumah. Mamanya tetap di motor dan Jovanka masuk ke dalamnya, disana ada adiknya yang tetawa memegang paha ayam menatap layar ponsel yang ia yakini sedang menonton anime. Tidak menghiraukan adiknya lebih lanjut, Jovanka naik ke lantai atas dan mengambil SKL yang merepotkannya itu.
Setelah itu ia berkunjung ke sekolah SMP-nya menggunakan seragam putih biru. Lalu memfotokopinya dan pulang kembali ke sekolah impian. Setelah sampai dan melakukan daftar ulang, Jovanka lupa mengambil data hasil IQ miliknya, ia juga lupa bahwa kurang membayar sang fotocopy depan sekolah impiannya itu dua ribu.
Ia pun menaiki motor dengan cepat sambil mulut dan hatinya berkomat-kamit agar selamat karena ia baru bisa mengendarai motor. Singkat cerita pendaftaran ulang pun selesai.
Bye-bye kepanikan, halo sekolah impian.
ESTÁS LEYENDO
Quarantine
Novela JuvenilMemasuki SMA seharusnya membuat perempuan bernama Jovanka Zeline itu bahagia dengan membanggakan seragam sekolah tingkat barunya ke sekolah dasar yang ia masuki dulu. Kegiatan yang baginya merupakan kesenangan sendiri itu sirna begitu saja. Siapa sa...
