Prolog

12 1 0
                                        

Bandung, 13 Juni 2008.

Awan gelap beserta hujan badai menambah suasana mencekam malam itu. Tak jarang pula, suara petir yang menggelegar menyamarkan suara tembakan dari telinga orang-orang yang mungkin berada di sekitar. Mencegah seorang pun datang mendekat untuk menolong seorang gadis kecil dari bahaya yang mengintainya. Saat itu, suasananya benar-benar mengerikan. Terutama bagi seorang anak kecil sepertinya.

Tembakan demi tembakan terus melesat ke arahnya. Tak peduli sekali pun ia tak berdosa.

Seharusnya, hari ini ia bisa bahagia. Di mana keluarganya bisa berkumpul bersama, dan menikmati masakan istimewa yang dibuat oleh ibunya. Seharusnya, hari ini ia bisa bermain sepuasnya dengan adik bayinya. Menikmati suara tawa lugu yang baru saja dipalajarinya. Karena hari ini, adalah hari ulang tahunnya. Namun, yang terjadi tidak sesuai dengan yang diinginkannya. Semuanya... berakhir dengan begitu menakutkan.

Begitu ia pulang dari rumah sahabatnya kala itu, sebuah pemandangan mengerikan segera menyambut kedatangannya. Sebuah pemandangan berdarah: tepat di tengah-tengah ruang keluarga, tempat yang ia dan keluarganya rencanakan sebagai tempat perayaan pesta, tergeletak ketiga sosok yang begitu berarti untuknya: ayah, ibu, dan juga adik kecilnya. Dengan tubuh yang terlumuri cairan merah kental berbau amis. Dan seorang pria berjubah hitam berdiri di antara mereka dengan membawa pisau besar di tangan kanannya. Menatapnya tajam.

Gadis itu segera berlari. Ketakutan dan putus asa. Ia benar-benar tak menyangka jika hari yang amat dinantinya justru menjadi satu-satunya hari yang paling dibencinya. Hari yang terkutuk.

Berulang kali, ia berteriak meminta tolong pada semua orang yang masih terjaga. Namun, suara guyuran hujan menenggelamkan suaranya. Hingga akhirnya, satu tembakan mengakhiri langkahnya kakinya.

Gadis itu terjerembab ke jalanan. Menyebabkan genangan air yang berada di sana berubah kemerahan akibat tercampur dengan darahnya. Mungkinkah... ini saat-saat terakhirnya?

Di tengah-tengah kesadarannya yang semakin menipis, ia memaksakan dirinya untuk melihat pembunuh itu. sercara perlahan, sedikit demi sedikit, ia dapat melihat sosok dari orang yang telah menembak kedua orang tuanya, adiknya, juga dirinya. Dan yang ia lihat saat itu, adalah hal yang tak akan pernah ia lupakan dalam seumur hidupnya—jika ia masih memiliki kesempatan untuk hidup. Seringai yang menakutkan dan... tato mawar hitam di lengan kirinya yang membawa pisau.

Kemudian, semuanya menjadi gelap.

***

Unhappy Refrain: Dates of DeathDonde viven las historias. Descúbrelo ahora