Hi kenalkan aku Fani Khumaira seorang gadis remaja yang beranjak dewasa. Memasuki fase putih abu-abu adalah hal yang menggembirakan bagi semua orang. Namun, nyatanya tidak berlaku sama sekali bagi diriku. Ketakutan dan rasa bersalah selalu saja menghantui diri ini.
Fani POV
“Mungkinkah setiap hal yang kurasakan merupakan anugerah ataukah diriku yang telah terjerembab dalam maksiat?” ucapku dalam hati.
Malam tanpa sinar rembulan, angin yang lelembut memasuki jendela mengibaskan mukenah yang selesai ku pakai dalam bermunajat dengan-Nya. Rasa nyaman hanya sekejap terasa setelah teringat akan dosa yang mengepung jiwa.
Ntahlah apa yang terjadi pada diriku. Mengapa mesti aku merasa bersalah sebesar ini? Aku wanita normal, pantas saja jika aku mencintai seseorang laki-laki. Memikirkan dirinya sekali-kali tidaklah apa-apa. Akupun tidak berharap dia selalu terngiang dalam memoriku yang selalu membuat ukiran senyum tersimpul di pipiku.
***
Dua tahun yang lalu kali pertama aku melihat diseberang jalan, langkahnya tegap serta tatapan tajam menatap lalu lalan kendaraan. Siang hari itu waktu pulang sekolah. Dan sesekali menetapku yang di seberang jalan pula. Dia teman kelasku yang sering jadi teman kelompok, dan teman usil.
“Wah... kamu natapin siapa tuh?” ejekku sambil berlari menjauh darinya.
“Apaan sih fani, kamu diam aja sana jangan ganggu orang lagi mikir!” ujar Rey sambil menoleh kebelakang.
“Butuh bantuan gah? Nanti aku bilang sama Rasha kalau kamu suka. Nggak usah di pendam kali ya, entar kamunya sakit” tambahku sesekali sambil melihatnya di balik jendela.
“Awas ya fani, aku kejar kamu” Rey berdiri dan mencari arah suaraku
Keributan pun terjadi antara aku dan Rey. Dan ini sudah menjadi hal biasa karena mengganggu teman apalagi Rey merupakan hal yang menyenangkan. Terlebih jika melihat Rey yang tengah fokus belajar dan aku sering menggodanya untuk istirahat sejenak dalam kepenatan belajar.
Raihan Saputra Ar-Rahman seorang laki-laki yang kharismatik, baik, dan santun. Dia bukan anak yang pandai amat sih. Di kelas aku yang peringkat pertama di susul Keena Maira Assyifa, kemudian Alim Devandra. Tapi aku suka semangatnya yang giat belajar ketimbang aku yang akhir-akhir ini ngerjain tugas pas deadline.
***
Teringat kejadian kemarin aku merasa salting dengan candaan yang kubuat sendiri. Bahkan hal yang sering terpikirkan hingga rasa cemburu mulai terbersit setiap kali aku menyebut nama Rasha, sepupuku sendiri.
“Baiklah anak-anak sudah cukup pembelajaran hari ini, assalamualaikum” kata bu Leni menyudahi pembelajaran hari ini
“Waalaykumsalam bu” ucap kami serempak
Hujan sudah reda tapi Ayah belum datang menjemputku seperti biasa.
“Jalan kaki saja lah, daripada kejebak hujan lagi kan bisa gawat” kataku untuk memulai langkah pulang
Tidak jauh berselang seseorang memanggilku dan menyuruhku untuk berhenti.
“Fani, kamu jalan kaki lagi nih? Ayah kamu mana?” ucap Rey sambil berusaha menghela nafasnya yang tersengal-sengal.
“Ayah lagi sibuk mungkin” ucapku singkat
“Ooo... btw Fani, dari tadi aku perhatiin, kamu melamun terus. Kamu sakit?” sejurus tangan Rey menyentuh dahiku
“Apaan sih Rey, dosa tahu, kamu mulai nakal ya” ucapku sambil marah
“Maaf Fani, aku nggak sengaja yang tadi itu reflek saja”
Kami berdua pun terus berjalan tanpa ada percakapan. Dan akhirnya Rey mulai bicara.
“Fani, kamu ada masalah apa? Cerita dong. Masa sama teman sendiri main rahasiaan.” lirihnya karena masih nggak enakan
Aku mulai menjawabnya dan mencoba merangkai kata-kata agar Rey tidak tahu apa yang telah terjadi dalam hatiku. Bahwa akhir-akhir ini nama dan setiap candaannya menganggu rutinitasku. Yang terkadang membuatku tertawa sampai batuk hingga tangis yang menyentuh sajadah.
“Aku nggak papa kok, aku cuman sedikit pusing saja. Kan tadi kita kejar-kejaran pas hujan. Dan akunya nggak bisa kena air hujan tau, langsung pusing aku dan ini salah kamu Rey” ucapku judes sambil menyalahkan Rey
“Aku?” tanya Rey
“Iya”
“Apa, aku?” mengulangi pertanyaannya lagi. “Yang sering buat kegaduhan siapa? Yang mulai ngejek tanpa bukti siapa? Jangan-jangan kamu suka sama aku Fani. Yang tiap harinya yang dimulut cerewetmu itu Rasha meluluh. Tanpa tahu sebenarnya siapa yang aku suka. Kamu itu temanku Fani dan kamu lebih tahu apa hal yang berkaitan denganku. Dan aku nggak suka kamu berkata itu terus menerus” jawab Rey meninggi
“Rey, kamu marah sama aku?”
“Iya.”
“kok marah, aku kan hanya bercanda.” Ucapku terisak menahan tangis
Rey mulai menatapku dan masih menjaga jarak. Karena dia tahu aku paling ilfiil jika seorang laki-laki tidak bisa menjaga kehormatannya terutama menjaga kemulian perempuan.
“Fani, aku minta maaf tapi selama ini apa yang kamu lakukan itu salah. Kamu yang mengingatkan aku untuk menjaga batasan ke siapapun termasuk dirimu! Jadi, ku mohon hentikan candaan ini. Dan aku tekankan sekali lagi kalau aku nggak suka Rasha, Titik. Karena aku sudah menyukai seseorang dan sudah seminggu ini aku menyebut namanya di setiap doa malamku. Karena bagiku, cinta yang di ridho-Nya hanyalah pernikahan tetapi masa itu masih jauh bagi anak seumuran kita.”
“Apa? Rey sudah memiliki tambatan hati. Dan aku nggak tahu itu karena aku sibuk mengusiknya dengan candaan yang unfaedah selama ini.” Ucapku membatin
“Ku mohon kamu merahasiakannya. Karena aku takut cintaku bertepuk sebelah tangan dan biarlah kisah cintaku seperti Ali dan Fatimah yang sesiapun tidak tahu menahu akan hati yang tengah bergejolak ini.” Rey berhenti melangkah dan sesekali melihat keadaan jalanan “Hmm... sayang sudah ada orang usil yang tahu. Jadinya nggak romantis kisahnya lagi.” Ejek Rey diseberang jalan sambil melambaikan tangan
Dan aku pun membalas lambaian tangannya dan sesekali melihat langkahnya yang begitu bahagia selepas dia bercerita dengan wanita pujaannya.
“Ayah, Fani disini!!!” teriakku memanggil Ayah yang baru datang.
***
Bersambung🥀
Bismillah... Ini cerita pertamaku sobat wattpad jadi silahkan vote dan komen ya. 🌷🌻
ESTÁS LEYENDO
The Our Of Love
Historia CortaSudah menjadi hal yang wajar bagi setiap insan yang telah beranjak dari masa peralihan, dari masa kanak-kanak, remaja, dewasa hingga lansia. Dan di masa itu setiap insan akan disuguhi ceritanya sendiri. Ada yang tertawa, menangis, merasa biasa-biasa...
