terinspirasi dari lagu Heather - Conan Gray
Eden ingin sekali tersenyum lalu menganggap semua perasaanya adalah angin lalu. Tapi jika dia tepat didepan matanya, sedekat nadinya, bagaimana bisa Eden melupakannya?
Dia benci mengakui jika Heather adala...
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Aku menunggu dengan tenang di bangku penonton. Melihatmu dari sini sudah sangat cukup untukku. Mataku berkali-kali menyembunyikan kekaguman agar tak terlihat jelas. Lalu seperti sebuah takdir, tatapan ku bertemu dengan manik terangmu. Aku tersenyum menutupi debaran jantungku yang menggila. Melihatmu melambaikan tangan padaku lalu tersenyum riang sudah cukup untukku.
Aku hanya mengangguk saat kau bicara "tunggu sebentar lagi" dengan gerakan bibir tanpa suara. Lalu kulihat ia mendekati pria paruh baya yang kukenal sebagai pelatih tim basket sekolah. Aku berdiri dari tempatku, lalu berjalan pelan kearahnya. Beberapa rekan Danny menyapaku yang hanya kujawab dengan senyuman.
Sial, semaki dekat dengan jarak pria itu kenapa jantungku malah menggila. Rutukku dalam hati.
Danny, pria itu melihatku lalu dia segera pamit kepada pelatihnya, saat langkahku dan Danny hanya berjarak 2 langkah kami berhenti. "Hi! Maaf kau harus lama menungguku," ucapnya dengan nada menyesal.
Jadi sebelumnya akan kuperkenalkan diriku. Aku Eden Park. Hanya perempuan biasa yang memiliki sahabat setenar Danny. Jika kalian bertanya bagaimana seorang Danny bisa menjadi sahabatku, jawabannya cukup simpel, karena dia adalah teman kecilku. Kita sudah berteman sejak masih umur 5 tahun.
Danny meminum minuman yang kuberi sambil melirik sekeliling. "Oh bagaimana dengan kontes yang waktu itu, Bee?" Danny berucap setelah dia menutup botol minumannya.
Matanya menatap intens menuntutku menjawab. Yang Danny bahas adalah kontes menulis puisi dan deadlinenya adalah 2 minggu lagi. Aku gugup, tapi kutekan jauh-jauh. Kubuat wajahku seolah frustasi dan lelah.
"Tolong jangan ajukan pertanyaan itu. Kau tau aku sudah berusaha keras mencari inspirasi." Aku menghela napas lelah. Berakting seolah-olah tak menyukai seseorang cukup melelahkan.
Saat wajahku tetap tertunduk menatap sepatuku. Aku merasakan rambutku diusap perlahan. Seolah belum puas, kedua tanganya menyentuh pundakku lalu menariknya ke dalam pelukannya. "Kau sudah melakukan yang terbaik, Bee." Aku hanya mengangguk pelan saat kurasakan tangannya mengusap punggungku. Lalu aksi kami berhenti saat teman Danny menggoda dengan berkata "Cepat pergi menyewa hotel jika ingin bermesraan." Diiringi gelak tawa yang lain. Aku dan Danny buru-buru melepaskan pelukan kami. Kupikir wajahku sudah memerah seperti pantat babi dan Danny hanya tersenyum tipis menanggapi teman-temannya.
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Kami sedang dalam perjalan pulang ke rumah saat tiba-tiba hujan lebat datang tanpa bisa dicegah. Aku dan Danny yang panik langsung berlari kearah kafe terdekat. Ketika kami sampai di depan kafe , tatapan kami saling bertubruk lalu kami tertawa bersama saat melihat Danny dan aku sama-sama basah kuyup.
"Bagaimana jika kita menunggu sampai hujan reda di dalam?" Aku meliriknya sebentar sebelum melanjutkan memeriksa barang-barangku yang sedikit basah. "Bagaimana, Bee?" tanyanya lagi ketika tak mendengar jawabanku. Aku menimbang sebentar, jika kami menerobos hujan saat ini dipastikan kami akan basah kuyup. Lalu aku mengangguk disertai senyuman tipis.
Danny merangkulku saat memasuki kafe dan aku sibuk menenangkan detak jantungku yang menggila. Sialan, Danny. Batinku. Aku sibuk mengelus dadaku dan Danny menyapa salah satu pelanggan yang ternyata adalah temannya.
Ketika kami berdua sudah duduk di dekat jendela. Mata Danny menelisikku dengan intens seolah ada yang salah denganku dan aku reflek mencari tahu.
Dan demi celana Spongebob yang robek! Bajuku tembus pandang. Argghh aku benci hujan!
Dengan muka memerah kututupi tubuh bagian dadaku dengan menyilangkan tangan. Danny sibuk mencari sesuatu di dalam tasnya. Dia menyodorkan sesuatu kepadaku. Sweater? Mataku menatap sweater dan Danny lagi untuk mencari jawaban. Danny mendengus lalu memaksaku menerima sweaternya.
"Pakai itu untuk menutupinya." Dia melengos menatap keluar jendela dan aku semakin memerah.
Aku buru-buru pamit ke toilet untuk berganti pakaian. Aku mengunci pintu toilet lalu menyandarkan kepalaku ke pintu sesekali memukulnya merutukki kebodohanku. Aku mendekap sweater miliknya dan aromanya benar-benar membuat jantungku kembali menggila. Seolah Danny memang ada disini. Dengan cepat aku melepaskan bajuku dan beganti dengan sweater miliknya.
Sebelum keluar dari toilet kuhirup lagi aroma bajunya. Sebut saja aku gila, tapi ini memang benar-benar memabukkan.
Aku berjalan dengan gugup sembari menyisir rambutku kebelakang menggunakan jari. Aku melihat Danny sedang bermain dengan handphonenya sesekali melirik kearah tempat duduk temannya yang tadi ia sapa. Saat aku sampai dan duduk di tempatku dia tersenyum. Dia menatapku sambil menopang dagu dan tak lupa dia tersenyum geli.
"Kukira perempuan dengan pakaian oversize akan terlihat aneh. Tapi kenapa kau sangat menggemaskan, Bee?" ujarnya seraya terkekeh lalu menyesap minuman yang dia pesan. Dengan tidak tau malu pipiku memerah, lalu kusembunyikan kegugupanku dengan menatapnya tajam. "Apakah itu pujian?" ucapku menopang dagu menatapnya. Dia menjawab dengan mengangguk. Lalu hening kemudian.
Aku mengaduk minumanku yang mungkin tadi dia pesan ketika aku sedang di toilet. Sesekali aku melirik Danny yang sedang melamun. Lalu aku mendengar suara perempuan memanggil Danny dan berjalan ke arah kami duduk.
Aku menatap perempuan itu dengan pandangan bingun, lalu kualihkan tatapanku ke arah Danny. Saat mataku melihat Danny dan menelisik gerak-geriknya. Aku menemukan suatu kejanggalan.
Alisku berkerut menandakan otakku sedang bekerja keras dan memproses satu-persatu kejadian yang ada.
Deg.
Aku menggeleng pelan tak percaya. Alisku bertaut gelisah. Kuarahkan sepasang bola mataku lagi ke arah dua orang di depanku.
Apa barusan aku melihat Danny salah tingkah?
Tatapan Danny sama denganku ketika aku menatapnya. Tatapan memuja, tatapan seolah hanya dia yang selama ini ada di pikirannya.
Apakah aku harus berhenti sebelum memulai apapun?
3, Desember 2020
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.