PROLOG

1.2K 32 20
                                        

Sepanjang hidup, matahari dikenal sebagai kehangatan yang menyorot hal apapun di bumi

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Sepanjang hidup, matahari dikenal sebagai kehangatan yang menyorot hal apapun di bumi. Lantai kayu, sofa kesayangan, meja makan, atau rumput hijau. Ketika langit masih menjadi biru yang cerah, angin tidak selamanya berhembus kencang. Terkadang hanya desau menggesek daun kering di jalanan atau menggoyangkan ranting kering hingga jatuh ke tanah. Kesederhanaan itu indah bagi yang meyakini. Hanya saja, Killian Vaughn memiliki julukan lain bila itu tentang kehangatan, yaitu senyuman ibunya.

Killian berusia lima tahun. Senyumannya tidak seberapa indah dibandingkan ketika melihat sang ibu membantu dirinya bersiap, memakaikan tas sekolah, dan menggandengnya naik ke dalam mobil. Dari jendela, kehangatan itu semakin indah tatkala berpamitan dengan ayahnya. Lalu melambai, ibu Killian memutar kunci dan melajukan mobil.

"Belajarlah dengan baik dan menjadi anak yang pintar, mengerti, Sayang?"

Killian mengangguk usai ibunya—Patricia Vaughn memberi kecupan di kening. Senyuman Killian masih kalah indah dibandingkan ketika selanjutnya ibu Killian tersenyum lebar dan mengusap bahunya. "Semalam kita sudah menyelesaikan tugas sekolahmu. Jangan memberitahu Nyonya Finn kalau Ibu yang menuliskan cerita untukmu, mengerti? Sekarang pergilah."

"Apakah Ibu akan menjemputku?" Killian turun dari mobil ibunya, memicingkan mata dari teriknya matahari sambil bersiap melambai.

"Tentu, Killian!" Patricia mengangguk sambil tersenyum dari pipinya yang merona rupawan. Pintu mobil tertutup, tangan Patricia berada di atas kemudi sebelum melambai. "Jadi anak yang baik, Sayang. Ibu menyayangimu."

Senyuman hangat dan lambaian itu meninggalkan kerinduan untuk Killian sejak awal sekolah dimulai. Kakinya tegap berdiri di hadapan 14 teman-teman dan Nyonya Finn, menceritakan sebuah kisah bersejarah keluarga tentang kakak dari ibunya yang begitu begitu kaya raya dan memiliki lima kuda di rumahnya yang mewah di Maryland. Kisah itu dituliskan ibu Killian dengan bangga. Semua orang memberi tepuk tangan bergemuruh, bahkan setelah kelas berakhir anak-anak yang lain menghampiri Killian untuk mendapatkan kisah menyeluruh tentang paman Killian. Di dalam kisah itu, Killian selalu bertanya tentang kebenaran. Nanti-nanti saat ibunya menjemput, Killian akan bertanya di mana keberadaan sang paman karena  ingin segera belajar berkuda darinya.

Namun, sampai sekolah berakhir dan sinar matahari hampir redup senja, Killian tak pernah melihat ibunya. Ayah Killian—Arnold Vaughn, melambai dari kejauhan setelah Nyonya Finn mengantarnya ke gerbang sekolah.

"Ayah." Killian menatap ayahnya dengan kening berkerut, duduk di kursi penumpang. "Di mana ibu?"

Ayah Killian membasahi bibir dan menghembuskan napas selagi menginjak pedal gas mobil. Menatap putra kecilnya juga dalam kebingungan, dia tetap tersenyum dan mengusap kepala Killian. "Ibu harus pergi ke rumah pamanmu. Ada urusan mendesak. Maaf, Ayah terlambat menjemput."

Janji itu sempat hangat dan indah di bawah sinar mentari ketika langit masih biru terang. Satu, dua, hingga tiga, Killian terus mempertanyakan kebenaran kisah sang paman, bahkan juga harus mempertanyakan keberadaan ibunya yang tak kunjung pulang berhari-hari hingga merangkap menjadi minggu dan bulan. Pertanyaan Killian termasuk di dalamnya apakah ayahnya berbohong tentang keberadaan ibunya, tetapi masih mampu mempertahankan senyuman palsu.

Hate with LoveCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang