Tentang Eksekutor.
Seorang Eksekutor cenderung akan menghabisi saksi meskipun dia anak kecil. Karena para Eksekutor berpikir bahwa meski dia anak kecil, kelak dia akan tumbuh dewasa dan kemungkinan akan berbalik melawannya. Bahkan orang tua lanjut usia pun akan dihabisi.
Sebagian besar dari para Eksekutor masih beranggapan, tak boleh ada yang tersisa dalam lokasi eksekusi. Jangan meninggalkan saksi. Semua Eksekutor pernah melakukannya. Elang juga demikian. Ia pernah membunuh tua bangka keparat mantan menteri keuangan yang korup pada masanya. Ia tak segan memenggal kepala Si Tua bangka mantan menteri keuangan tersebut di tengah perkebunan tebu. Korban Elang itu dikubur dalam-dalam.
"Pelanggan," begitu Elang menyebutnya.
Banyak di antara mereka adalah kaum kelas menengah ke atas yang ingin saingannya lenyap tanpa jejak. Tak jarang pula yang menggunakan jasa Elang adalah mereka dari kalangan pemerintahan. Atas nama kebaikan negara, Elang yang melakukan tugas kotornya. Lalu mereka menutup mata dan berpura-pura tak terlibat.
Satu-satunya target yang membuat Elang berpikir ulang adalah seorang pemuka agama. Elang membantai seluruh anggota keluarga Si Pemuka agama atas suruhan Suryana. Namun tidak dengan target utamanya. Lantunan ayat suci menyebabkan Elang didera gelisah. Sejenak dia berpikir,
"Apa ini tujuan hidupku?"
Walau ditodong pistol, Si Pemuka agama tak gentar sedikitpun.
"Jika hari ini kau berhasil merenggut nyawaku ..., aku berharap esok kau akan melihatku tersenyum dalam mimpimu, Anak Muda," demikianlah Si Pemuka agama bertutur kata.
Tergugah jua hati Elang Sanjaya. Si Pemuda mengunci kembali senjata apinya. Revolver dengan sisa dua butir peluru itu jadi saksi betapa Elang masih memiliki hati nurani. Topeng tengkorak yang sering ia gunakan kala bertugas seolah tak bisa menutupi jati dirinya yang ternyata hanya manusia biasa.
Malam itu jadi titik awal dimana Elang selalu ragu ketika bertindak. Hanya orang-orang berhati busuk jadi pengecualian. Elang takkan segan membantai seluruh anggota keluarga para penjilat dan penipu, koruptor, hingga orang yang menyebut dirinya sebagai alim ulama, namun sering memecah belah umat. Terlebih mereka yang berasal dari kalangan kelas atas. Dengan senang hati Elang akan menghabis mereka.
-oOo-
Penyergapan.
Diremang malam perkebunan karet. Tim buru sergap berjumlah sekitar sepuluh orang tengah mengelilingi area luar rumah tua. Setiap sudut area telah dijaga ketat. Tak ada yang luput dari pengawasan. Berharap mereka akan mampu menaklukkan para Eksekutor yang sudah dianggap pengkhianat itu. Mereka berpakaian khas tim SWAT dari negeri Paman Sam.
Tugas mereka sederhana. Bunuh siapapun selain Santi. Tim Buru Sergap yang terorganisir. Tim anti teroris di bawah perintah langsung Menteri Pertahanan, yakni Anggara, seorang ayah yang mengira bahwa putrinya dalam bahaya.
-oOo-
Di ruang tamu rumah tua. Dua orang nampak duduk pada sofa usang, berbincang-bincang tentang rencana ke depan. Satu orang pria dan seorang gadis berambut merah tua berjalan bersama membawa berbagai benda penunjang perang. Golok, parang, senjata api sederhana serta senapan semi otomatis tengah dipersiapkan. Yang paling istimewa dari perlengkapan bertempur itu hanyalah Pindad SS2. Ratusan butir peluru dari berbagai jenis tak ketinggalan dipersiapkan.
Skema perlawanan para Eksekutor sudah dirasa matang. Namun belum juga ada pergerakan dari luar.
Menanti Kematian. Itulah yang dilakukan para Eksekutor. Si Pria serupa Jean Claude Van mengintip dari balik gorden jendela depan. Si Pria serupa Danny Trejo berlari kecil menuju pintu belakang. Sudah dipastikan di sana telah menanti anggota Tim Buru Sergap.
YOU ARE READING
Tembak Dia!
Mystery / ThrillerKetika seorang Pembunuh bayaran ingin mengubah jalan hidupnya, dia dapati tak ada jalan mudah. Perjuangannya diliputi bahaya. Ini kisah tentang cinta, kasih sayang dan pengkhianatan. Mengandung unsur kekerasan. 17+ untuk itu. @rowi13
