Satu; 2011 lalu (Kesialan)

44 1 0
                                        


Hari ini akan dimulai dengan hari yang begitu indah dari yang lainnya. Sebut saja, Maha. Dia berlarian kecil di sepanjang koridor sekolah dengan penuh suka cita. Tanpa memikir orang lain menganggapnya aneh. Tas berwarna pink-nya bergelayutan manja di bahu bagian kirinya. Rambut kuncir kuda di atas ubun-ubunnya menjuntang indah di sepanjang punggung sempitnya. Gadis kecil, bibir berbentuk cherry, mata sipit, juga hidung yang gagal mancung. Namun, terkesan cantik dan manis di mata semua orang. Ia juga di kenal dengan keceriaan tiada batas setiap harinya.

Mahareska Wirya, gadis imut berumur sembilan belas tahun. Duduk di bangku Sekolah Menengah Atas bagian terakhir.

Saat memasuki ruangan kelas A, nampak hanya ada beberapa murid yang telah datang sebelum dirinya. Maha menatap lengan mungilnya untuk memastikan telat pukul berapakah ia hingga di dahului oleh beberapa siswa lainnya. Masih pagi, tepatnya pukul enam lebih seperempat.

"Hei!"

Maha terkejut karena hentakan kasar dari seseorang di belakangnya.

"Ada apa? Salah apakah mereka hingga kau pandang mereka seperti mau menerkam mangsamu saja"

Anggi, teman dekat Maha yang sejak kecil selalu menemaninya. Ya, dia adalah sahabat terbaik Maha di dalam suka maupun duka.

"Kau! Kebiasaan selalu mengejutkan seseorang," ucap Maha sebal. Anggi menanggapinya dengan tertawa cekikikan.

"Kau, hari ini tak datang lebih dulu, ya?" tanya Anggi di sela tawanya. Maha mengerucutkan bibirnya kesal.

"Iya, ini semua gara-gara kau!" kata Maha pada gadis yang lebih tinggi di bandingnya. Anggi mengkerutkan dahinya bingung. Memangnya dirinya salah apa?

"Kenapa aku?" tanya Anggi masih bingung. "Gara-gara menonton drama korea yang sudah kau rekomendasikan. Jadi aku terlambat untuk tidur tadi malam. Akhirnya aku kesiangan."

"Haha, kenapa juga kau tonton. Aku kan, hanya me-rekomendasikan-nya. Bukan berarti kau harus menontonnya saat itu juga," jawab Anggi dengan tertawa terbahak-bahak. Maha hanya menatapnya sebal lalu berlalu ia menuju bangkunya. Anggi mengikutinya dengan masih tertawa. Maha dan Anggi adalah teman sebangku setiap hari. Untunglah, ia dan Anggi tak pernah pisah kelas sejak dulu.

"Eh, kau tau. Aku sedang ada promo baju besar-besaran loh. Beli dong!" Anggi mempromosikan dagangannya. Dengan cerewetnya Anggi membeberkan dan menjajakan katalog serta barangnya pada teman-teman yang lain.

Maha hanya menatapnya risih. Gadis kecil itu paling tidak suka dengan keramaian. Besok adalah festival tahunan yang dirayakan oleh sekolah ini. Membuat Maha memikir dua kali untuk atau malah tidur dirumah. Namun, ia bukanlah gadis demikian, ia akan memilih pergi kesekolah walaupun acara itu adalah acara yang tak ingin ia hadiri.

Setelah beberapa saat mereka duduk dalam kelas, guru datang dengan membopong banyak sekali kertas. Seketika mereka yang merubung untuk melihat katalog Anggi langsung berlarian ke bangkunya masing-masing.

"Selamat pagi anak-anak" Guru tersebut bernama Bu Ratih, menurut Maha dia adalah guru tercantik di sekolah ini. Komunitas semua guru di sini sudah menikah dan sudah tua. Dan hanya Bu Ratih lah yang masih single.

"Hari ini saya akan membagikan kalian sebuah brosur. Tolong nanti kalian bagikam pada semua orang yang kalian temui, ya. Ini adalah acara tahunan sekolah kita. Dan Pak Kepsek telah mengundang sekolah sebelah untuk mengikuti kegiatan tahunan kita. Karena kita mengadakan bazar besar-besaran maka dari itu, ibu meminta tolong agar kalian berkenan membagikan brosur ini nanti."

Bu Ratih mengakhiri pidatonya dan membagikan brosur per satu orang memdapat lima kertas. "Jadi hari ini kalian akan pulang pagi, ingat yang dapat jatah piket kelas harus dilaksanakan dulu sebelum meninggalkan sekolah, mengerti!"

"Mengerti, Bu!" Semua murid mulai memasukkan barang-barangnya dan bersiap untuk keluar dan pulang. Mereka nampak sumringah dan bahagia. Bagaimana tidak, sekolah pulang pagi kan, impian semua siswa.

Maha kecewa sekali seharusnya dirinya tadi tak usah berangkat sekolah sekalian. Anggi menepuk bahunya dan berkata, "Bagaimana kalau kita pergi ke Mall untuk jalan-jalan?." Maha menghela nafas. "Rasanya aku ingin diam di rumah saja, Nggi," ucapnya pelan seraya berdiri dari bangkunya. Anggi terlihat kesal, kenapa Maha menolak ajakkannya?

Maha menelusuri jalanan dengan muka masam. Mungkin hari ini ia tidak akan di jemput. Kalian salah jika Maha adalah murid rajin seperti tadi saat ia pagi-pagi sekali datang ke sekolah dan kecewa saat telah ada banyak siswa di kelasnya. Sebenarnya ia hanya ingin tidur manis tanpa gangguan sebelum melaksanakan pelajaran. Ya, kalian salah besar sekali. Setiap malam dirinya harus telat tidur, karena sesuatu selalu menganggu pikirannya. Ia adalah seseorang yang beruntung memilik kehidupan yang di impikan semua anak seumurannya. Namun, kekayaan serta kebutuhan cukupnya tak mampu membeli kebahagiaanya. Orang tuanya tak pernah memiliki waktu untuknya semenjak ia kecil. Dan akhir-akhir ini orang tuanya berbicara dan bertengkar tentang harta mereka jika mereka telah resmi berpisah. Iya, orang tuanya memutuskan untuk segera berpisah. Dan itulah yang membuat Maha tak pernah memiliki banyak waktu untuk tidur. Ia selalu memikirkan bagaimana jika dirinya benar-benar menjadi seorang broken home? Dan, tak puaskah orang tuanya menyiksanya batin daan pikirannya?

Tak terasa terlalu jauh ia berjalan hingga ia tak sadar telah berada di taman kota. Ia mendudukkan bokong teposnya di sebuah bangku berkarat yang menghadap lapangan basket. Terdapat banyak sekali para siswa sekolah lain yang berlatih basket di sini. Mungkin ia akan menghubur dirinya sebelum benar-benar sampai di rumahnya. Maha melihat sekeliling ternyata banya juga yang datang. Maha mengingat brosur itu lalu ia mengambilnya dan membagikannya pada beberapa orang yang berada di sana. Saar sibuk tersenyum untuk membagikan brosur. Maha mendengar teriakan melengking dari arah lapangan. Entah itu peringatan untuknya atau bukan. Ia segera menoleh.

"Awas!" teriak seseorang. Maha terkejut bukan main. Akan ada bola basket menuju tepat ke kepalanya. Dan ....

Bugh! Buram lah sudah pandangan Maha. Namun, ia masih sempat melihat beberapa orang mengerumuninya. Dan terdapat dua orang yang panik di depannya.

"Hey, bangunlah. Apa kau tidak apa-apa?" tanyanya penuh khawatir. Maha masih sempat mendengar suara seseorang meminta tolong dan setelah itu ia hilang. Gelap dan tak ingat apapun lagi.

.

Berikan Vote dan Comen sayang. Kalau part awal ini mencapai banyak readers, bakalan di lanjut part seterusnya. Yakin deh, ceritanya seru bin banget. Masalah cast, kalian bisa aja bayangin visualisasinya adalah Vsoo. Wkwkwk, kok Vsoo mulu sih? Gatau, saban buat cerita walau beda nama ya cuma mereka yang aku ingat. He he he. Terimakasih. Tolong tinggalkan jejaknya ya sayang.

Ups, ya. Bagaimana dengan Novel Welcome Cinta? Ada yang udah kekepin gak nih? Di apk Shopee juga ada lho. Jadi kalau mau pesan, silakan langsung masuk Shopee dengan pencarian Welcome Cinta. Covernya yang ada sunset-sunsetnya, ya. Jangan salah pencet, pokoknya ada nama Authornya di sana. He he he. Semoga kalian semua bahagia selalu di Tahun Baru 2021 ini. Sekali lagi, Happy New Year. 😘

Has llegado al final de las partes publicadas.

⏰ Última actualización: Mar 18, 2021 ⏰

¡Añade esta historia a tu biblioteca para recibir notificaciones sobre nuevas partes!

MAHAGESADonde viven las historias. Descúbrelo ahora